Sukses

Ribuan Demonstran Madrid Tolak Pertemuan Puncak NATO di Spanyol

Liputan6.com, Madrid - Ribuan demonstran berunjuk rasa di Madrid, Spanyol pada hari Minggu untuk menyerukan perdamaian dan protes terhadap pertemuan puncak NATO yang akan diadakan di kota tersebut minggu ini.

Gerakan sosial, antimiliter dan pasifis dari seluruh dunia berkumpul untuk menunjukkan dukungan bagi kongres yang ditutup di Madrid pada hari Sabtu oleh kelompok anti-NATO, dan deklarasi terbarunya yang menyerukan perdamaian, demikian dikutip dari laman Xinhua, Senin (27/6/2022).

Jose Luis Centella, presiden Partai Komunis Spanyol, mengatakan kepada Xinhua bahwa "banyak, ribuan orang hari ini berdemonstrasi di Madrid untuk perdamaian, untuk dunia multilateral sehingga Spanyol dapat hidup dalam harmoni."

Sambil menyebutkan peningkatan drastis dalam pengeluaran militer Spanyol, Paloma, pengunjuk rasa lain, meminta perhatian pada "masalah lain seperti penutupan layanan darurat, dan klinik rawat jalan dan rumah sakit, tetapi tidak ada uang untuk itu."

Para pengunjuk rasa percaya bahwa peningkatan pengeluaran pertahanan di Eropa yang didesak oleh aliansi militer pimpinan AS adalah ancaman bagi perdamaian, dengan mengatakan pengeluaran itu harus diberikan ke sekolah dan rumah sakit.

Sebagai tanggapan atas demonstrasi besar-besaran yang sedang berlangsung, pemerintah Spanyol telah mengerahkan keamanan yang ketat menjelang KTT NATO mendatang.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Vladimir Putin Respons Ancaman

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan pada Senin (16/5) bahwa Moskow akan menanggapi jika Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) akan mengerahkan infrastruktur militer di wilayah Finlandia atau Swedia.

"Perluasan infrastruktur militer ke wilayah-wilayah ini tentu akan memicu respons kami, yang akan bergantung pada jenis ancaman yang akan ditimbulkan," kata Kremlin mengutip pernyataan presiden Vladimir Putin pada pertemuan puncak Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif di Moskow.

Dikutip dari laman Xinhua, Selasa (17/5/2022), Putin menambahkan bahwa masalah perluasan NATO sebagian besar dibuat-buat.

Selain itu juga digunakan oleh Amerika Serikat sebagai alat kebijakan luar negeri.

"NATO sedang digunakan sebagai instrumen kebijakan luar negeri oleh satu negara, dan ini dilakukan dengan cukup gigih, terampil dan sangat agresif," kata Putin.

Baik Finlandia dan Swedia telah mengumumkan keputusan untuk mengajukan keanggotaan NATO.

Pada Minggu kemarin, presiden Finlandia dan komite kebijakan luar negeri pemerintah mengambil keputusan resmi untuk memulai proses aplikasi negara itu untuk menjadi anggota NATO.

Perdana Menteri Swedia Magdalena Andersson akan mengumumkan keputusan resmi untuk memulai proses aplikasi negara untuk menjadi anggota NATO.

 

3 dari 4 halaman

Wilayah Rusia dan Finlandia

Rusia, yang memiliki perbatasan darat yang panjang dengan Finlandia, mengatakan bahwa pihaknya bergabung dengan aliansi transatlantik itu akan menjadi kesalahan bagi Helsinki dan itu akan merusak hubungan bilateral yang telah dijalin oleh kedua negara.

Sementara itu, Swedia dan Finlandia siap memperkuat kerja sama militer jika keamanan di wilayah Laut Baltik memburuk, misalnya selama proses kemungkinan bergabung dengan NATO, kata Menteri Luar Negeri Finlandia Pekka Haavisto.

"Apabila lingkungan keamanan kami menjadi semakin menantang tentunya kami dapat menambahkan rencana bilateral ... dan memasukkan semua sektor dalam kerja sama militer," katanya kepada awak media.

Invasi Rusia ke Ukraina memaksa Swedia dan Finlandia untuk meninjau ulang keyakinan lama bahwa netralitas militer adalah cara terbaik untuk menjamin keamanan nasional.

​​​​​​Kedua negara diharapkan dapat membuat keputusan untuk bergabung dengan aliansi militer dalam beberapa pekan mendatang, Reuters mewartakan sebagaimana dikutip dari Antara, Sabtu (30/4/2022).

4 dari 4 halaman

Presiden Putin Bersiap Lakukan Perang Berkepanjangan di Luar Donbas

Sementara itu terkait situasi di Ukraina, Presiden Vladimir Putin tidak akan mengakhiri perang Ukraina dengan kampanye Donbas dan bertekad untuk membangun jembatan darat ke wilayah yang dikuasai Rusia di Moldova, Direktur Intelijen Nasional AS Avril Haines mengatakan Selasa (10 Mei).

Intelijen AS juga memandang semakin besar kemungkinan bahwa Putin akan memobilisasi seluruh negaranya, termasuk memerintahkan darurat militer, dan mengandalkan ketekunannya untuk mengurangi dukungan Barat untuk Ukraina.

"Kami menilai Presiden Putin sedang mempersiapkan konflik berkepanjangan di Ukraina di mana dia masih berniat untuk mencapai tujuan di luar Donbas," kata Haines.

Dilansir dari laman Channel News Asia, Selasa (26/4/2022), intelijen AS menganggap keputusan Putin untuk memusatkan pasukan Rusia di wilayah Donbas timur adalah "hanya perubahan sementara" setelah kegagalan mereka untuk merebut Kiev di utara.

Pasukan Rusia masih berniat untuk memenangkan wilayah di seberang pantai Laut Hitam, sebagian untuk mengamankan sumber daya air untuk Krimea, yang direbut Moskow pada 2014, Haines mengatakan kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat.

"Kami ... melihat indikasi bahwa militer Rusia ingin memperpanjang jembatan darat ke Transnistria," kata Haines, mengacu pada wilayah separatis Moldova yang didukung Moskow di sepanjang perbatasan barat daya Ukraina.

Namun, dia mengatakan pasukan Rusia saat ini tidak cukup besar atau kuat untuk merebut dan menguasai semua wilayah itu tanpa mobilisasi pasukan dan sumber daya yang lebih umum dari masyarakat Rusia.