Sukses

Mengenal Ryu Yong-chol, Juru Bicara Satgas COVID-19 Korea Utara

Liputan6.com, Pyongyang - Pada pukul 09.30 setiap hari, seorang pejabat dengan nada berbicara lembut muncul di televisi Korea Utara untuk melaporkan jumlah orang yang demam dan kematian baru akibat COVID-19. Tugasnya yaitu untuk menjelaskan langkah-langkah menghentikan wabah COVID-19 pertama yang dikonfirmasi di Korea Utara.

Seperti dikutip dari Channel News Asia, Jumat (20/5/2022), pejabat yang kurang dikenal, Ryu Yong-chol, telah menjadi wajah publik dari pertempuran negara tersebut melawan epidemi. Posisinya setara dengan Dr Anthony Fauci di Amerika Serikat atau Direktur Badan Pencegahan Penyakit Korea Selatan, Jeong Eun-kyeong.

Selama lebih dari dua tahun, dengan perbatasannya, Korea Utara tidak melaporkan satu pun kasus COVID-19, yang menurut para skeptis di luar negeri lebih merupakan cerminan kerahasiaan negara daripada ketiadaan nyata virus corona.

Sejak mengkonfirmasi wabah pertamanya dan menyatakan keadaan darurat pekan lalu, Korea Utara telah mengubah taktik.

Tampaknya mereka lebih mengikuti pedoman yang biasa digunakan oleh negara lain, ia merilis data terperinci tentang penyebaran virus dan saran tentang cara menghindarinya.

Ryu bekerja untuk markas besar pencegahan epidemi darurat Korea Utara, kata KCNA melaporkan.

Seperti Korea Selatan, agensi Korea Utara mengadakan briefing harian, diketuai oleh Ryu, meskipun tanpa pertanyaan dari wartawan.

Ryu, mengenakan setelan jas dan dengan kacamata, tampil dengan kualitas bicara yang masuk akal dan to the point.

Gayanya tidak biasa seperti yang tampil di televisi Korea Utara yang dikontrol ketat.

"Kita harus memperkuat upaya untuk mengendalikan dan mengisolasi setiap orang yang terinfeksi tanpa kecuali untuk benar-benar menghilangkan penyakit menular tersebut," kata Ryu pada Jumat (20 Mei).

Korea Utara telah melaporkan 2.241.610 orang menderita demam dan 65 kematian di antara 25 juta penduduknya.

Negara itu tidak memiliki kapasitas pengujian dan belum menentukan berapa banyak dari orang-orang yang telah dikonfirmasi telah tertular COVID-19.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Kasus Suspek COVID-19 di Korea Utara Tembus 2 Juta

Korea Utara melaporkan tambahan 260 ribu kasus suspek COVID-19. Totalnya kini ada 2 juta kasus suspek COVID-19, padahal baru delapan hari setelah virus itu terdeteksi.

Dilaporkan Yonhap, Jumat (20/5/2022), totalnya ada 263.370 kasus suspek baru dengan angka kematian naik hingga 65 orang.

Sekitar 1,48 juta orang Korea Utara sudah pulih dari demam. Sementara, 754 ribu masih dirawat. Angka kasus demam harian sempat mencapai 392 ribu pada hari Minggu lalu.

Korea Utara mengumumkan darurat COVID-19 pada Mei 2022 di saat banyak negara di dunia sudah melonggarkan protokol COVID-19. Korut memilih untuk darurat maksimal dan pemerintah menerapkan lockdown.

Sementara, Korea Selatan sudah cukup melonggarkan aturan COVID-19. Grup K-Pop juga sudah mulai konser lagi dan jam operasional bisnis sudah lebih bebas, meski masyarakat Korsel dilaporkan masih memilih pakai masker. 

3 dari 4 halaman

Ambang Bencana Akibat COVID-19

Rezim itu dianggap tidak memvaksinasi penduduknya dan tidak memiliki akses ke obat antivirus yang telah digunakan untuk mengobati COVID-19 di negara lain.

Rumah sakitnya memiliki sedikit sumber daya perawatan intensif untuk mengobati kasus yang parah, dan kekurangan gizi yang meluas telah membuat populasi 26 juta lebih rentan terhadap penyakit serius.

“Kelihatannya sangat buruk,” kata Owen Miller, dosen studi Korea di School of Oriental and African Studies, London University, dilansir The Guardian.

“Mereka menghadapi penyebaran Omicron yang merajalela tanpa perlindungan dari vaksin.”

Tawaran bantuan dari luar sejauh ini disambut dengan diam. Sebaliknya, ada kekhawatiran bahwa pemimpin negara itu, Kim Jong-un, mungkin bersedia menerima sejumlah besar kasus dan kematian yang “dapat dikelola” untuk menghindari membuka negaranya terhadap pengawasan internasional.

Sejak melaporkan kasus pertamanya minggu lalu, mesin propaganda di rezim Kim Jong-un telah menggambarkan virus sebagai musuh yang dapat dikalahkan melalui penguncian, karantina, dan kewaspadaan yang lebih besar.

4 dari 4 halaman

Korea Utara Nekat Uji Nuklir di Tengah Lonjakan COVID-19, Pamer Kekuatan ke AS?

Di tengah pperjuangan melawan gelombang dugaan infeksi COVID-19, Korea Utara tampaknya bersiap untuk menguji rudal balistik antarbenua (ICBM) menjelang perjalanan pertama Presiden AS Joe Biden ke Korea Selatan, kata pejabat Korea Selatan dan AS.

Tes ICBM tampaknya sudah dekat, Wakil Penasihat Keamanan Nasional Kim Tae-hyo mengatakan pada sebuah pengarahan di Seoul.

“Jika ada provokasi Korea Utara kecil atau besar selama periode KTT, kami telah menyiapkan Plan B,” katanya, seperti dikutip dari laman Al Arabiya, Kamis (19/5). 

Rencana itu akan mengamankan postur pertahanan dan sistem komando dan kontrol pasukan militer AS dan Korea Selatan, bahkan jika itu memerlukan perubahan jadwal KTT, kata Kim.

Seorang pejabat AS, berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa intelijen terbaru menunjukkan Korea Utara dapat melakukan tes ICBM pada hari Kamis atau Jumat.

Biden diperkirakan tiba di Korea Selatan pada hari Jumat (20/4) dan mengadakan pembicaraan dengan rekan-rekannya dari Korea Selatan selama beberapa hari sebelum mengunjungi Jepang.

Wabah di Korea Utara terjadi di tengah serangkaian demonstrasi senjata yang provokatif, termasuk uji coba pertama rudal balistik antarbenua dalam hampir lima tahun pada bulan Maret. Para ahli tidak percaya wabah COVID-19 akan memperlambat sikap Kim yang bertujuan menekan Amerika Serikat untuk menerima gagasan Korea Utara sebagai kekuatan nuklir dan merundingkan konsesi ekonomi dan keamanan dari posisi yang kuat.

Penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan mengatakan pada hari Rabu bahwa intelijen AS menunjukkan ada "kemungkinan yang sebenarnya" bahwa Korea Utara akan melakukan uji coba rudal balistik atau uji coba nuklir lain di sekitar kunjungan Presiden Joe Biden ke Korea Selatan dan Jepang yang dimulai akhir pekan ini.