Sukses

Kondisi Terbaru WNI di Tonga Usai Gempa dan Tsunami

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Indonesia terus memantau kondisi WNI yang saat ini masih berada di Tonga pasca insiden gempa dan ledakan dahsyat di negara tersebut. Putusnya jaringan komunikasi di Tonga akibat kerusakan kabel bawah laut, menjadi tantangan tersendiri bagi dunia luar mengakses informasi di sana.

Dalam program Liputan6 Update, Reza Reflusmen, Koordinator Fungsi Protokol Konsuler KBRI Wellington menggambarkan situasi terkini di Tonga.

"Kami telah mendapatkan info dan kondisi WNI di Tonga dalam keadaan baik atas kerjasama KBRI Wellington dan beberapa keduataan di Wellington dan Tonga," ujar Reza pada Jumat (21/2/2022) dalam Liputan6 Update.

Ditanya soal proses evakuasi pemerintah RI, Reza mengatakan bahwa rencana itu masih dikembangkan, melihat bagaimana kondisi di Tonga itu sendiri.

"Kedahsyatan ledakan cukup besar, yang kami dapat khususnya Selandia Baru, jaraknya 3 jam dari Tonga. Masyarakat yang ada di pulau utara Selandia Baru, mereka bilang mendengar suara letusan cukup besar."

"Tonga adalah negara kepulauan, mereka mengandalkan komunikasi bawah laut untuk internasional. Ini terganggu akibat letusan gunung berapi dan tsunami kemarin."

"Pantauan media, saya lihat pihak internasional berusaha memulihkan komunikasi di Tonga. Pantauan kami, komunikasi hanya bisa dilakukan dalam negeri Tonga itu sendiri. Itu pun di pulau besar saja. Di pulau kecil masih terganggu."

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Update COVID-19 di Tonga

Reza Reflusmen mengonfirmasi bahwa hingga saat ini tidak ada kasus COVID-19 yang terlapor di Tonga.

"Mereka sangat ketat perbatasannya. Tonga memberlakukan karantina 3 minggu, sebelum orang lain masuk ke komunitas. Ini jadi pertimbangan pihak luar yang ingin memberikan bantuan."

Reza juga menyampaikan bahwa vaksinasi di sudah berjalan di sana.

"Sebagian besar dua kali vaksin, termasuk WNI. Rata-rata masyarakat di sana sudah 2 kali terima suntikan. Booster juga dimulai saya dengar."