Sukses

Top 3: Melacak COVID-19 di Kelelawar Kamboja

Liputan6.com, Phnom Penh - Ilmuwan di berbagai negara masih berupaya mencari asal-usul COVID-19 yang awalnya terdeteksi di Wuhan. Salah satunya dilakukan di negara Asia Tenggara: Kamboja.

Tim Institut Pasteur du Cambodge (IPC) lantas mengumpulkan sampel-sampel kelelawar dari Kamboja Utara demi investigasi COVID-19 ini. 

Sebelumnya, tim WHO-China telah melakukan penelitian di Wuhan, tetapi tidak ada hasil yang konklusif. Negara-negara seperti Amerika Serikat dan Australia lantas meminta agar adanya investigasi jilid II yang lebih independen. Tuntutan itu hingga kini ditolak China

Kabar mengenai kelelawar di Kamboja menjadi berita paling disorot di Liputan6.com, Selasa (21/9/2021).

Ada pula berita terkait penembakan di universitas Rusia, sehingga mahasiswa dan mahasiswa terpaksa lompat dari lantai dua agar selamat, serta imbauan PBB agar Amerika Serikat dan China akur.

Berikut daftarnya:

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

1. Penelitian di Kamboja

Dilansir CNA, Senin (20/9), tim peneliti IPC yang beranggotakan delapan orang telah mengumpulkan sampel dari kelelawar dan mencatat spesies, jenis kelamin, usia, dan detail lainnya selama seminggu. Selain itu, penelitian serupa juga sedang terjadi di Filipina.

Spesies inang seperti kelelawar biasanya tidak menunjukkan gejala patogen, tetapi ini bisa sangat merusak juka ditularkan ke manusia atau hewan lain.

 

Baca selengkapnya...

3 dari 4 halaman

2. Penembakan di Rusia

Kasus penembakan terjadi di sebuah universitas di Rusia. Para mahasiswa melarikan diri dengan melompat dari jendela.

Penembakan itu terjadi di Universitas Negeri Perm yang berlokasi di kota Perm. Sejumlah orang dilaporkan tewas sebelum pelaku diringkus.

 

Baca selengkapnya...

4 dari 4 halaman

3. PBB Minta AS dan China Akur

Sekretaris Jenderal PBB  Antonio Guterres meminta China dan Amerika Serikat untuk memperbaiki hubungan sebelum masalah dua negara besar dan sangat berpengaruh itu meluas lebih jauh.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berbicara kepada The Associated Press akhir pekan ini menjelang pertemuan tahunan para pemimpin dunia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa minggu ini -- pertemuan yang diwarnai oleh COVID-19 dan masalah iklim. 

 

Baca selengkapnya...