Sukses

Pakar: Inggris Sudah Mengalami Perubahan Iklim yang Mengganggu

Liputan6.com, London - Inggris sudah mengalami perubahan iklim yang mengganggu dengan meningkatnya curah hujan, sinar matahari dan suhu, menurut para ilmuwan.

Dikutip dari laman BBC, Jumat (30/7/2021), tahun 2020 adalah tahun terpanas ketiga, kelima dengan banyak dilanda hujan, dan tahun ke delapan paling terik dalam catatan di negara itu, kata para ilmuwan dalam laporan tebaru UK State of the Climate.

Sementara itu, tidak ada tahun lain yang masuk ke dalam daftar 10 besar pada ketiga kriteria tersebut.

Para ahli mengatakan bahwa, dalam kurun waktu 30 tahun, suhu di Inggris telah menjadi 0,9 Celsius lebih hangat dan 6% lebih basah.

Penulis utama laporan tersebut, Mike Kendon, yang merupakan ilmuwan informasi iklim di UK Met Office, mengatakan kepada BBC News bahwa ada "Banyak orang yang berpikir perubahan iklim ada di masa depan – tetapi ini membuktikan bahwa iklim sudah berubah di sini di Inggris.

"Saat cuaca terus menghangat, kita akan melihat semakin banyak cuaca ekstrem seperti gelombang panas dan banjir," kata Kendon.

Para ilmuwan juga memperingatkan cuaca ekstrem yang lebih buruk jika suhu global naik dan politikus tidak berhasil mengekang emisi karbon.

Laporan terbaru UK State of the Climate itu mengatakan bahwa Inggris menjadi lebih panas, lebih terik, dan banyak melihat hujan saat:

Tahun 2020 adalah tahun di mana Inggris menghadapi suhu terpanas ketiga sejak 1884. Semua tahun di daftar 10 besar adalah sejak 2002.

Tahun lalu adalah salah waktu yang paling sedikit melihat turunnya salju dalam catatan, terutama mempengaruhi dataran tinggi dan daerah utara.

Musim semi 2020 adalah rekor tercerah di Inggris, dan lebih cerah daripada kebanyakan musim panas di negara itu.

Tahun 2020 adalah tahun yang paling basah kelima di Inggris; enam dari 10 tahun yang banyak dilanda hujan adalah sejak 1998.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Perlunya Perubahan Sikap Terhadap Iklim

Liz Bentley, Kepala Royal Meteorological Society, mengatakan bahwa bahkan jika pemerintah dapat mencapai hasil dalam membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 Celsius–-yang tampaknya sangat tidak mungkin--itu masih akan menyebabkan peningkatan 10% dalam jumlah air di udara. 

"Di Inggris, kita cenderung melihat suhu 40 Celsius saat kita mendapatkan pemanasan 1,5 C, itu akan menjadi sesuatu yang kita lihat secara teratur," paparnya.

"Orang-orang tidak menyadari bahwa kenaikan suhu kecil 0,1 atau 0,2 derajat secara keseluruhan dapat membuat perbedaan besar, terutama dalam frekuensi dan intensitas peristiwa ekstrem," jelas Bentley.

"Kita mengalami pencairan jalan tahun lalu, rel mulai melengkung, kabel listrik mulai melengkung. Kita sering mengatakan bahwa kita menyukai iklim seperti Med, tetapi orang-orang segera mengeluh bahwa mereka terlalu panas. Tidak hanya di siang hari, tetapi terutama di malam hari," ungkapnya.

"Seringkali diperlukan peristiwa besar yang berdampak tinggi untuk mengubah sikap terhadap iklim. Jadi mari berharap apa yang terjadi baru-baru ini dengan cuaca ekstrem akan meningkatkan keinginan untuk mengatasi masalah tersebut," imbuhnya.

The State of the Climate report juga mengindikasikan bahwa tanaman merespons perubahan iklim. Daun muncul rata-rata 10,4 inci per hari, lebih awal dari baseline 1999-2019 untuk berbagai spesies semak/pohon umum.

Laporan itu juga mengatakan bahwa, sementara salju yang cukup besar turun pada tahun 2018, 2013, 2010, dan 2009, jumlah dan tingkat keparahan peristiwa cuaca seperti itu telah menurun sejak 1960-an.

3 dari 4 halaman

Jutaan Rumah Warga Inggris Berisiko Terdampak Banjir

Sir James Bevan, kepala Badan Lingkungan Inggris (EA), mengatakan ada lebih dari lima juta rumah yang berisiko terdampak banjir di Inggris - dan "risiko itu meningkat seiring perubahan iklim".

"Kami tidak dapat menghilangkan risikonya, tetapi kami dapat menguranginya," katanya kepada program Today di BBC Radio 4.

Dia mengatakan pemikiran EA perlu berubah lebih cepat daripada iklim, dan strategi baru mereka tidak hanya tentang mencegah banjir, tetapi juga membuat masyarakat lebih tahan terhadap banjir ketika bencana itu terjadi sehingga kerusakannya bisa menjadi lebih minim.

James juga mengatakan pemerintah telah melakukan investasi terbesarnya dalam pertahanan banjir, dengan mengeluarkan dana sebesar 5,2 miliar poundsterling yang akan dihabiskan untuk membangun 2.000 skema pertahanan banjir baru selama enam tahun ke depan.

Sementara itu, sebuah makalah baru dari Climate Crisis Advisory Group, yang didirikan oleh mantan kepala ilmuwan Inggris, Prof. Sir David King, menanyakan apakah pemanasan cepat di wilayah Arktik mendorong perubahan aliran jet dengan cara yang memengaruhi cuaca ekstrem baru-baru ini.

Aliran jet, adalah inti dari angin kencang yang bergerak dari barat ke timur sekitar lima hingga tujuh mil di atas Bumi.

"Kami secara bersamaan menyaksikan bencana cuaca di Jerman, suhu tertinggi pada bulan Juni di Finlandia dan AS, bencana gelombang panas di British Columbia, dan suhu panas ekstrem di Siberia," demikian disampaikan dalam makalah tersebut.

"Ini semua adalah peristiwa luar yang melebihi apa yang diperkirakan jika itu 'hanya' dampak pemanasan 1,2 Celcius (itulah jumlah yang telah dihangatkan Bumi sejak masa pra-industri)".

"Tingkat gas rumah kaca sudah terlalu tinggi untuk masa depan yang dapat dikelola bagi umat manusia," sebut makalah itu.

Makalah baru dari Climate Crisis Advisory Group, yang belum banyak ditinjau, juga mendesak pemerintah untuk mulai menghilangkan gas rumah kaca dalam skala besar dari atmosfer.

4 dari 4 halaman

Infografis 4 Tips Ciptakan Sirkulasi Udara di Ruangan Cegah COVID-19