Sukses

UNESCO: Great Barrier Reef Australia Harus Masuk Daftar Situs Alami Dalam Bahaya

Liputan6.com, Queensland - Menurut UNESCO, Great Barrier Reef harus dimasukkan ke dalam daftar Situs Warisan Dunia yang "dalam bahaya" akibat kerusakan yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Dikutip dari BBC, Selasa (22/6/2021), PBB mengatakan sistem terumbu karang terbesar di dunia harus diturunkan ke daftar 'situs dalam bahaya' pada pertemuan yang akan terjadi bulan depan.

Hal ini mendesak Australia untuk mengambil "tindakan dipercepat" untuk mengatasi pemanasan global. Namun, pemerintah Australia mengatakan akan "sangat menentang" rekomendasi tersebut.

UNESCO dan pemerintahan Australia berselisih mengenai status terumbu karang dengan UNESCO, memperdebatkan apakah Great Barrier Reef masuk ke dalam daftar bahaya pada 2017.

 

2 dari 3 halaman

Situasi Tegang Antara Beijing dan Canberra

Menteri Lingkungan Sussan Ley mengatakan pemerintah "terkejut" dengan pengumuman terbaru UNESCO, menyebutnya sebagai "kebalikan dari jaminan sebelumnya dari pejabat PBB" bahwa langkah itu tidak akan diambil.

Naiknya suhu laut adalah akibat dari pemanasan global yang disebabkan oleh pembakaran bahan fosil adalah penyebab utama kerusakaan terumbu karang.

Terpantau telah terjadi beberapa peristiwa "pemutihan" di terumbu karang dalam lima tahun terakhir.

Laporan UNESCO terakhir mengatakan bahwa walaupun ada upaya dari pemerintah Australia, target utama untuk meningkatkan kualitas air di terumbu karang belum juga terpenuhi.

Jika rekomendasi tersebut diikuti, ini akan mejadi pertama kalinya Situs Warisan Dunia alami ditempatkan pada daftar "dalam bahaya" terutama karena dampak dari perubahaan iklim.

Mencantumkan Great Barrier Reef sebagai "dalam bahaya" dapat membantu mengatasi beberapa ancaman seperti membuatnya bisa menerima pendanaan atau publisitas.

Walau begitu, rekomendasi tersebut memang dapat mempengaruhi tujuan wisata utama yang menciptakan ribuan lapangan kerja di Australia.

Saat ini, China memimpin UNESCO, dan ada beberapa spekulasi bahwa ketegangan yang sudah berlangsung lama antara Beijing dan Canberra mungkin telah memengaruhi keputusan tersebut.

Tetapi, kelompok lingkungan menolak saran apa pun bahwa rekomendasi itu bersifat politis.

"Rekomendasi dari UNESCO jelas dan tegas bahwa pemerintah Australia tidak berbuat cukup untuk melindungi aset alam terbesar kita, terutama pada perubahan iklim," kata Richard Leck, Kepala Kelautan untuk World Wide Fund for Nature-Australia.

 

Reporter: Paquita Gadin

3 dari 3 halaman

Infografis Jakarta Terancam Genting Covid-19