Sukses

Khawatir Situasi Tak Kondusif, Australia Tutup Kedubesnya di Afganistan

Liputan6.com, Jakarta - Australia telah mengatakan akan menutup kedutaan besarnya di ibu kota Afganistan, Kabul pada hari Jumat, saat penarikan pasukan internasional berlanjut.

Dalam sebuah pernyataan, pihak Canberra berbicara tentang "lingkungan keamanan yang semakin tidak pasti" di negara itu.

Dikatakan diplomat Australia akan mengunjungi Afganistan secara teratur - tetapi akan ditempatkan di tempat lain di kawasan itu.

Mengutip BBC, Selasa (25/5/2021), ada kekhawatiran bahwa penarikan pasukan NATO yang dipimpin AS dapat menjerumuskan Afganistan kembali ke dalam perang skala penuh.

Pada bulan April, Presiden AS Joe Biden mengatakan pasukan Amerika akan meninggalkan Afganistan pada 11 September, setelah 20 tahun keterlibatan militer di Afganistan. 

"Ini adalah waktu untuk mengakhiri perang terpanjang Amerika," kata Biden.

Setidaknya 2.500 tentara AS adalah bagian dari misi Afganistan yang berkekuatan 9.600 orang.

2 dari 2 halaman

Pasukan Australia di Afghanistan Dikurangi

Selama dua tahun terakhir, Australia telah mengurangi jumlah tentaranya di Afghanistan dari lebih dari 1.500 menjadi sekitar 80.

Para pejabat AS dan NATO baru-baru ini mengatakan bahwa Taliban, sebuah gerakan garis keras, sejauh ini gagal memenuhi komitmen untuk mengurangi kekerasan di Afghanistan. 

Pernyataan Australia tersebut dikeluarkan bersama oleh Perdana Menteri Scott Morrison dan Menteri Luar Negeri Marise Payne pada Selasa (25/5/2021).

"Kami akan menutup gedung Kedutaan Besar kami pada 28 Mei 2021," kata dokumen itu, menambahkan bahwa "Australia mengharapkan tindakan ini bersifat sementara dan kami akan melanjutkan kehadiran permanen di Kabul setelah keadaan memungkinkan.

"Australia tetap berkomitmen pada hubungan bilateral dengan Afghanistan, dan kami akan terus mendukung stabilitas dan pembangunan Afghanistan bersama negara lain."

Pernyataan itu tidak menyebutkan di wilayah mana para diplomat Australia akan dipindahkan.