Sukses

WHO: Hasil Uji Coba Obat Corona COVID-19 Datang 2 Pekan Mendatang

Liputan6.com, Jenewa- Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pada Jumat (3/7), bahwa WHO akan segera mendapatkan hasil dari uji klinis terhadap obat-obatan yang mungkin efektif dalam mengobati pasien Corona COVID-19. 

Merujuk pada studi klinis yang sedang dilakukan badan PBB, Dirjen WHO tersebut juga mengatakan dalam briefing pers, "Hampir 5.500 pasien di 39 negara sejauh ini telah direkrut untuk Pengujian Solidaritas."

"Kami memperkirakan hasil sementara datang antara dua pekan ke depan," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Pengujian solidaritas itu dimulai pada lima jenis obat dengan kemungkinan pendekatan untuk pengobatan Corona COVID-19. 

Lima jenis obat itu diantaranya adalah perawatan standar, yaitu remdesivir, obat anti-malaria hydroxychloroquine, obat HIV lopinavir/ ritonavir, dan lopanivir/ritonavir yang dikombinasikan dengan interferon.

Uji coba untuk obat hydroxychloroquine sempat dihentikan beberapa waktu yang lalu, setelah adanya penelitian yang menunjukkan tidak ada manfaat yang terlihat pada mereka yang mengalami virus itu.

Tetapi masih banyak usaha dalam pengamatan untuk obat tersebut, yang masih diperlukan untuk melihat apakah mungkin efektif sebagai obat pencegahan, demikian seperti dikutip dari Channel News Asia, Sabtu (4/7/2020).

2 dari 3 halaman

Belum Ada Vaksin yang Terbukti Manjur

Kepala Program Kedaruratan WHO, Mike Ryan menyebutkan bahwa tidak bijak untuk memprediksi kapan vaksin bisa siap melawan Corona COVID-19, penyakit pernapasan yang disebabkan oleh Virus Corona baru yang telah menewaskan lebih dari setengah juta nyawa di dunia.

Ia mengatakan kepada asosiasi jurnalis PBB ACANU di Jenewasementara kandidat vaksin mungkin menunjukkan keefektifannya pada akhir tahun, pertanyaannya adalah seberapa cepat itu dapat diproduksi secara massal.

Untuk saat ini, belum ada vaksin yang terbukti manjur melawan virus itu, namun sudah ada 18 kandidat potensial yang sedang diuji pada manusia.

Para pejabat WHO membela tanggapan mereka terhadap Virus Corona, dengan menegaskan bahwa mereka telah mendasari ilmu pengetahuan ketika virus itu berkembang.

Mike Ryan juga meyampaikan bahwa ia menyayangkan rusaknya rantai pasokan global, yang membatasi akses para petugas medis di beberapa negara di dunia dari APD.

Mike Ryan mengungkapkan, "Saya menyesal bahwa tidak ada akses yang adil dan dapat diakses ke alat COVID-19. Saya menyayangkan bahwa beberapa negara memiliki lebih dari yang lain, dan saya menyayangkan bahwa pekerja garis depan meninggal karena (itu)."

Namun ia juga mendorong negara-negara agar melanjutkan tindakan penanganan dengan mengidentifikasi kelompok kasus baru, melacak orang yang terinfeksi dan memfasilitasi mereka isolasi untuk membantu memutus rantai transmisi.

"Orang-orang yang duduk di sekitar meja dengan kopi dan berspekulasi dan berbicara (tentang transmisi) tidak mencapai apa-apa. Orang yang mengejar menangani virus mencapai sesuatu," tegas Mike Ryan.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Berikut Ini: