Sukses

Turki Terapkan Jam Malam bagi Anak Muda untuk Cegah Corona COVID-19

Liputan6.com, Ankara - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah memberlakukan aturan jam malam sebagian bagi warga di bawah usia 20 tahun, sebagai bagian dari langkah-langkah yang diberlakukan untuk mengekang penyebaran Virus Corona COVID-19 di negara itu.

Seperti dikutip dari laman Al Jazeera, Sabtu (4/4/2020), Erdogan menyampaikan dalam pidato yang disiarkan televisi bahwa kebijakan bersifat wajib itu akan mulai berlaku pada tengah malam pada hari Jumat. Ia juga menambahkan bahwa Ankara memutuskan untuk menutup perbatasan 31 kota untuk kendaraan, namun tidak termasuk pasokan penting.

"Kami telah memutuskan untuk memberlakukan jam malam parsial bagi orang di bawah usia 20 pada Jumat tengah malam," kata Erdogan.

"Penutupan perbatasan kota akan berlaku selama 15 hari pada awalnya. Namun, periode ini dapat diperpanjang jika perlu," kata Erdogan pada konferensi pers.

Kendaraan tidak lagi dapat meninggalkan atau memasuki kota-kota, termasuk Istanbul dan Ankara, selama 15 hari, katanya, seraya menambahkan bahwa penggunaan masker akan diwajibkan di tempat-tempat ramai.

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Kasus Meningkat

Menteri Kesehatan Turki, Fahrettin Koca mengatakan bahwa korban tewas di Turki akibat pandemi Virus Corona telah naik menjadi 425 pada hari Jumat, sementara jumlah kasus yang dikonfirmasi dari penyakit naik menjadi lebih dari 20.000. 

Ankara juga telah menghentikan semua penerbangan internasional, perjalanan domestik terbatas, sekolah-sekolah tertutup, bar-bar dan kafe-kafe dan penangguhan ibadah massal untuk melawan wabah. Tetapi orang-orang masih akan bekerja, karena Erdogan berusaha untuk mempertahankan produksi dan ekspor ekonomi.

Orang-orang yang berusia di atas 65 tahun atau mereka yang memiliki kondisi medis kronis sudah dikarantina secara wajib.

3 dari 4 halaman

Desakan Lockdown

Walikota Istanbul Ekrem Imamoglu telah mendesak pemerintah untuk memberlakukan kebijakan lockdown di kota itu, yang merupakan rumah bagi hampir 16 juta orang. 

Unal Cevikoz, wakil ketua Partai Rakyat Republik, partai oposisi utama di Turki, mengatakan kepada Al Jazeera pada hari Jumat bahwa ada peningkatan jumlah infeksi "setiap dua hari".

"Istanbul tampaknya menjadi pusat penyebaran virus ... ia tumbuh dengan tingkat yang serius," kata Cevikoz

Erdogan tidak memberlakukan lockdown nasional dalam upaya untuk menjaga ekonomi negara tetap bertahan, tetapi ekonomi telah "melambat" karena resesi, kata Cevikoz.

"Sebagian besar toko masih buka [di Istanbul] ... kita semua mengharapkan puncak dalam jumlah kasus dan kematian," katanya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: