Sukses

696 WNI Dikabarkan ke Acara Keagamaan di Malaysia yang Sebabkan 1 Orang Positif COVID-19

Liputan6.com, Jakarta - Acara keagamaan selama tiga hari di pinggiran Kuala Lumpur bulan Februari lalu kini tengah jadi sorotan. Pasalnya Brunei melaporkan bahwa kasus Virus Corona COVID-19 pertamanya mengaku menghadiri acara yang sama.

Kasus pertama Virus Corona COVID-19 di Brunei adalah seorang pria berusia 53 tahun yang kembali dari Kuala Lumpur pada 3 Maret dan mulai menunjukkan gejala empat hari kemudian, kata kementerian kesehatannya.

Acara Jhor Qudamak Malaysia 2020 berlangsung antara 28 Februari dan 1 Maret di Masjid Seri Petaling di Selangor.

Mengutip Channel News Asia, Kamis (12/3/2020), Kementerian kesehatan Malaysia memperkirakan 10.000 orang dari beberapa negara menghadiri acara tersebut.

Menurut informasi dari gambar yang diunggah situs Mothership.sg, jemaah asing yang menghadiri acara tersebut berasal dari 27 negara (pada gambar tertulis 28 karena urutan nomor terlewat dari 24 ke 26). Berikut ini rinciannya:

  1. Australia 4
  2. Brunei 74
  3. Kanada 1
  4. Filipina 215
  5. India 18
  6. Indonesia 696
  7. Afrika Selatan 4
  8. Selandia Baru 1
  9. Tunisia 5
  10. Thailand 132
  11. Vietnam 130
  12. Kamboja 79
  13. China 35
  14. Jerman 1
  15. Singapura 95
  16. Arab Saudi 3
  17. Korea 2
  18. Bangladesh 9
  19. Myanmar 6
  20. Mesir 1
  21. Tanzania 1
  22. Gambia 2
  23. Jepang 1
  24. Kyrgysztan 1
  25. Turki 2
  26. Amerika 1
  27. Afghanistan 1

Dari daftar tersebut, diketahui bahwa jemaah dari Indonesia yang paling banyak menghadiri acara tersebut. Lalu Filipina, Thailand, Vietnam, Singapura, Kamboja, Brunei, China, dan India. Sisanya di bawah 10 orang.

 

 

2 dari 2 halaman

Sejumlah Negara yang Warganya Menghadiri Acara Mulai Waspada

Channel News Asia melaporkan bahwa Kementerian Kesehatan Singapura berupaya mengidentifikasi 95 warga Singapura yang menghadiri acara tabligh di Malaysia.

"Ke-95 warga Singapura itu termasuk di antara lebih dari 1.500 peserta asing, yang mencakup hampir 700 orang Indonesia dan lebih dari 200 orang Filipina," lapor media Malaysia.

"Saya khawatir mendengar ada beberapa kasus COVID-19 yang dikonfirmasi, yang timbul dari pertemuan keagamaan massal di Malaysia," ujar Menteri Urusan Muslim Masagos Zulkifli dalam sebuah unggahan Facebook pada Kamis 12 Maret.

"Dilaporkan bahwa 95 warga Singapura telah menghadiri acara tersebut. Kementerian Kesehatan, Singapura berada di tengah-tengah penyelidikan dan identifikasi peserta Singapura."

Sementara itu, Malaysia pada hari Kamis juga menyerukan agar pertemuan massal ditunda setelah setidaknya 12 kasus COVID-19 terkait pertemuan besar umat Islam.

Sejauh ini, 11 kasus terkait dengan pertemuan tabligh tersebut dilaporkan dari orang-orang di Brunei yang menghadiri pertemuan tersebut. Kasus ke-12 yang terkait dengan pertemuan Kuala Lumpur adalah dari Malaysia, kata seorang pejabat kesehatan.

Pihak berwenang Malaysia juga melacak sekitar 5.000 warganya yang ikut serta dalam acara tersebut.

Malaysia melaporkan 20 kasus baru COVID-19 pada hari Rabu, sehingga totalnya menjadi 149.

"Jika Anda berada di sana, periksakan diri Anda ke dokter - lindungi orang yang Anda cintai dan orang-orang di sekitar Anda," tulis Menteri Urusan Muslim Singapura, Masagos di Facebook.

"Bagi mereka yang kurang sehat, segera cari bantuan medis."

Menteri Masagos juga mengatakan bahwa komunitas Muslim setempat telah mengambil banyak upaya untuk menyesuaikan praktik keagamaannya, selama masa pandemik Virus Corona COVID-19. Seraya menyatakan bahwa orang-orang di Singapura harus waspada ketika melakukan aktivitas tersebut.

"Misalnya, banyak yang menahan diri dari jabat tangan atau 'salam' kami yang biasa dan malah mengadopsi apa yang saya sebut 'Mufti Salam', di mana seseorang meletakkan tangannya di dada untuk menyampaikan salamnya," tambah Menteri Masagos.

"Banyak juga yang membawa tikar doa dan perlengkapan pribadi mereka sendiri ke masjid."

Masagos, yang juga Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Air, mengatakan bahwa kebersihan dan kehigienisan adalah garis pertahanan pertama Singapura terhadap pandemi COVID-19. Ia juga menegaskan kembali pentingnya menggunakan tisu ketika bersin atau batuk, dan tidak menghadiri pertemuan sosial ketika sedang sakit.

"Mari kita terus menjalankan tanggung jawab sosial, waspada," tulisnya. "Bersama-sama, kita bisa mengatasi tantangan ini."