Sukses

Gara-Gara Berpose Mata Sipit, Koki Restoran Elit Dikecam Rasis

Liputan6.com, San Fransisco - Koki Italia, Gianluca Gorini, mendapat kecaman warganet karena berfoto dengan pose mata sipit. Pose rasis itu ia lakukan bersama timnya dan di-upload di Instagram sebelum akhirnya dihapus.

Dilaporkan NBC News, Jumat (6/12/2019), kejadian berlangsung pada kompetisi kuliner internasional Gelinaz! Shuffle di San Fransisco. Ajang bergengsi itu menantang para koki dunia saling bertukar resep dan menginterpretasikannya.

Gorini bertukar resep dengan Victor Lion dari restoran China bernama Lee Ho Fook di Melbourne, Australia. Gorini dan timnya melakukan pose mata sipit karena mengaku antusias pada kompetisi tersebut.

Koki Italia itu merupakan koki elit di restoran San Piero yang mendapatkan bintang Michelin.

Kelakuan ini pun diungkit oleh warganet yang ramai-ramai mengecam tindakan rasis sang koki. Gorini pun langsung menghapus foto tersebut dan meminta maaf, meski jejak digital masih tersisa.

Dalam foto barunya, Gorini berpose seperti sedang malu, dan menjelaskan bahwa ia tidak paham bahwa pose tersebut bersifat rasis. Ia pun mengundang Victor Liong datang ke restorannya di Italia, untuk memasak makan malam bersama dan bersilaturahmi.

 
 
 
View this post on Instagram

Dear Victor Liong @smokeystevenson , Dear All, I never thought that a photo could generate all this. The shot in question was dictated by the excitement and enthusiasm that the confrontation with a new culture has generated in our daily work. Now I realize, that I probably don't know the subject of the question well enough and that I have underestimated its meaning. I am against all forms of violence and above all I am against all forms of racism. I strongly believe in comparison, sharing and contamination with other cultures and countries as a stimulus for my growth and that of future generations. I apologize to all those I have offended. It was not my intention to offend anyone, much less discriminate against other cultures. So please Victor, I would love to invite you to come in Italy and spent some days here in my restaurant as my guest, to celebrate the meaning of the relations between different cultures and make a four hands dinner together. Forgive me! @the_gelinaz --

A post shared by Gianluca Gorini (@gianlucagorini) on

"Bukan niat saya untuk menyinggung siapapun, apalagi mendiskriminasi budaya-budaya lain," ujar Gorini.

"Jadi kumohon Victor, saya dengan senang hati mengundangmu untuk datang ke Italia dan menghabiskan waktu di restoran saya sebagai tamu, untuk merayakan makna relasi antar budaya-budaya berbeda dan membuat four-hand dinner bersama," tulis Gorini seraya meminta maaf.

2 dari 4 halaman

Panitia Ajak Kedua Pihak Duduk Bersama

Panitia Gelinaz! mengaku sangat kaget dan tercengang atas kejadian ini. Mereka pun tidak akan mengundang Gianluca Gorini untuk ajang-ajang selanjutnya.

"Gelinaz! sangat syok dan tercengang oleh photo yang ofensif dan memalukan yang diposting Gianluca Gorini di akun Instagramnya," tulis pernyataan pihak Gelinaz!.

"Oleh sebab itu, Gelinaz! tidak akan lagi mengajaknya untuk acara-acara di masa depan dan akan melakukan tindakan serupa bagi koki lain yang melakukan tindakan tak pantas ini," lanjut Gelinaz!.

Meski demikian, mereka mendukung upaya dialog antara kedua belah pihak. Pertemuan dijadwalkan berlangsung pada April tahun depan di restoran kedua koki, yakni San Piero di Bagno, Italia, dan restoran Victor Lee di Melbourne.

"Dialog dan komunikasi adalah senjata terbaik untuk melawan prasangka dan menunjukan bahwa kuliner dapat menjadi sebuah jembatan antar budaya dan gaya hidup di seluruh dunia," demikian pernyataan Gelinaz!.

3 dari 4 halaman

Pakar Budaya Mengecam

Pose mata sipit yang dilakukan Gorini disebut memiliki akar yang menyakitkan. Di Amerika Serikat (AS), propaganda anti-China sempat muncul di akhir abad ke-19 untuk menyerang masyarakat pendatang China yang dipekerjakan membangun rel kerta api transkontinental.

Masyarakat China digambarkan sebagai bermata sipit, bergigi tonggos, dan punya kuku jari panjang. Gambaran itu ingin menunjukan bahwa masyarakat China tampak lebih rendah dari manusia.

"Bahkan jika niat si koki tidak demikian, (namun) pose itu berakar pada sejarah dunia yang menyakitkan," ujar Adrian Luis, kurator di Smithsonian Asia Pacific American Center.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading