Sukses

Kampus di Kairo Jadikan Bahasa Indonesia Bahasa Kedua

Liputan6.com, Jakarta - Bermula dari sebuah gagasan akan pentingnya bahasa Indonesia bagi penutur bukan asli Indonesia, khususnya komunitas pelajar dan mahasiswa Mesir. Ditambah perlunya  membangun sinergitas dalam pengembangan ilmu bahasa Indonesia di kalangan civitas academia Universitas Al-Azhar, maka sejak 2016, KBRI Kairo telah berhasil bekerja sama dengan Universitas  Al-Azhar Mesir, untuk mengajarkan bahasa Indonesia di Al-Azhar.

Dalam kurun waktu 3 tahun, pengajaran Bahasa Indonesia tersebut menujukkan perkembangan yang sangat signifikan, di mana banyak dosen dan mahasiswa Al-Azhar dari  lintas fakultas yang ikut serta menjadi pembelajar Bahasa Indonesia di fakultas tersebut.

Mencermati kesuksesan tersebut, sepeti dikutip dari Kemlu.go.id, Sabtu (12/10/2019), ditambah besarnya minat masyarakat Mesir terhadap bahasa Indonesia,  maka dipandang perlu untuk mengembangkan bahasa Indonesia yang lebih akademis. Untuk itu, maka lahirlah ide untuk  membuka prodi Bahasa Indonesia pada Fakultas Bahasa dan Terjemah Universitas Al-Azhar yang diinisiasi oleh Atdikbud KBRI Kairo, Dr. Usman Syihab.

Untuk merealisasikan ide tersebut, KBRI Kairo menggandeng berbagai stake holder terkait, baik dengan  Al-Azhar maupun pihak-pihak di dalam  negeri seperti: Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan (PPSDK- BPBP) Kemendikbud RI, Kemenristek Dikti RI dan Kemenag RI.

Selain itu, KBRI Kairo juga menggandeng 3 perguruan tinggi yang tergabung dalam Konsorsium Pengajaran Bahasa Indonesia di Universitas Al-Azhar. Tiga perguruan tinggi tersebut adalah: Universitas Gadjah Mada (UGM), UIN  (Universitas Islam Negeri) Maulana Malik Ibrahim Malang  dan Universitas Muhammadiya Surakarta (UMS).

Tiga perguruan tinggi inilah yang menjadi stake holder utama penyedia SDM pengajaran Bahasa Idonesia di Universitas Al-Azhar. 

 

2 dari 3 halaman

Diawali Diskusi

Untuk melakukan persiapan, para stake holder tersebut melakukan beberapa   kali FGD (Focused  Group Discussion), dimana salah satunya dihadiri langsung oleh Dekan fakultas Bahasa dan terjemah Universitas Al-Azhar, yang saat itu dijabat Prof. Dr. Thaha Badri. Setelah hasil FGD tersebut disampaikan secara remi kepada  Rektor Al-Azhar dan kemudian dibahas di Sidang Senat Universitas Al-Azhar, di mana senat Univeristas Al-Azhar   menyetujui untuk  mengajarkan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa kedua di fakultas tersebut yang dimulai pada tahun akademik 2019/2020.

Sebagai tanda permulaan resmi  pengajaran Bahasa Indonesia tersebut, pada 9/10 Fakultas Bahasa dan Terjemah Universitas Al-Azhar bekerja sama dengan KBRI Cairo mengadakan ceremonial resmi, yang berlangsung di Aula Fakultas Bahasa dan Terjemah Universitas Al-Azhar yang dihadiri oleh Duta Besar RI Cairo, Helmy Fauzy, Atdikbud KBRI Cairo, Dekan dan Wakil Dekan Fakultas Bahasa dan Terjemah Universitas Al-Azhar, Rektor UGM (Prof. Dr. Panut Mulyono), Rektor UMS (Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si.) dan Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan UIN Maulana Malik Ibrahim (Dr. M. Isroqunnajah, M.A.).

 

3 dari 3 halaman

Sebelum Pembukaan

Sebelum acara seremonial pembukaan, Duta Besar RI Cairo dan seluruh Rektor dan Wakil Rektor anggota konsorsium  tersebut  diterima oleh Rektor  Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Mohamed Husein al-Mahrashawi, yang didampingi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Yusuf Amir. Dalam sabutannya, Duta Besar menyebutkan, bahwa di antara tujuan utama pengajaran Bahasa Indonesia di Al-Azhar adalah bahwa bahasa Indonesia banyak digunakan oleh mayoritas bangsa Asia tenggara, dimana mayoritas penduduknya beragama Islam.

Di sana banyak muncul ulama dan pemikir Islam. Sayangnya, karya-karya mereka belum banyak diketahui oleh para pemikir dunia Arab. Selain itu, negara-negara tersebut juga membutuhkan para ulama dan dai dari al-Azhar yang menguasai tradisi dan budaya setempat” ungkap Duta Besar berdarah Minang ini.

​"Saya juga mengucapkan terima aksih kepada Al-Azhar yang telah menerima Bahasa Indonesia sebagai Bahasa kedua di Fakultas Bahasa dan Terjemah Al-Azhar," ucap Duta Besar yang hobi diving ini.

Di sisi lain, Rektor Universitas Al-Azhar menyampaikan, bahwa pengajaran Bahasa Indonesia  sebagai Bahasa kedua adalah  langkah awal dalam mempersiapkan pembukaan Prodi Indonesia di kampus Al-Azhar, kata Rektor  yang sebelumnya menjabat Dekan Fakultas Bahasa Arab ini.

Wakil Rektor Universitas Al-Azhar menegaskan, semoga pada masa Persiapan ini kita dapat mempersiapkan kader calon dosen yang akan mengajar di prodi ini. Selain itu, kami berharap agar para mahasiswa yang saat ini memilih Bahasa Indonesia sebagai Bahasa kedua, diberikan kesempatan untuk kuliah di Indonesia  selama 2 tahun, sehingga ia dapat menguasai Bahasa Indonesia dari sumbernya, ungkap Wakil Rektor Guru Besar Bahasa Urdu tersebut. Di sisi lain, saat memberikan sambutannya mewakili anggota konsorsium, Prof. Dr. Panut Mulyono, menyampaikan   komitmennya “saat ini tanggung jawab   keberlangsungan program ini ada di tangan kami para anggota konsorsium. Untuk itu, kami akan terus berjuang dan  mendukung keberlangsungan program ini yang  salah satunya dengan mengirim dosen ke  Al-Azhar dan memberikan beasiswa bagi para mahasiswa yang memilih mata kulian ini sebagai mata kuliah pilihan.

Adapun Dekan Fakultas Bahasa dan   Terjemah menyampaikan, bahwa masa transisi ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh KBRI dan Al-Azhar. Terkait 4 dosen yang akan mengajar Bahasa Indonesia sebagai Bahasa kedua, Dekan menegaskan: "Mereka sudah jadi bagian dari kami. Kami akan memudahkan segala kendala yang dihadapi serta akan melindungi dan menjaga mereka” diiringi tepuk tangan meriah. 

Selesai penyambutan resmi, acara dilanjutkan di aula Fakultas Bahasa dan Terjemah yang dirangkai dengan beberapa sambutan sekaligus penyerahan kunci laboratorium Bahasa dari Duta Besar RI Cairo kepada Dekan Fakultas dan Terjemah Al-Azhar. Acara dilanjutlan dengan penampilan pemelajar Bahasa Indonesia dan diakhiri dengan mengunjungi laboratorium Bahasa tersebut.​

 

Loading
Artikel Selanjutnya
20 Tahun Kuasai Jalanan, Nasib Bajaj di Mesir Segera Tamat
Artikel Selanjutnya
Penemuan Langka Mumi Singa hingga Buaya Ditampilkan di Mesir