Sukses

Hadapi Ancaman AS, Iran Rilis Sistem Pertahanan Rudal Terbaru

Liputan6.com, Teheran - Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan telah menerapkan sistem pertahanan udara terbaru --yang dibangun secara lokal-- ke dalam jaringan penangkis rudal negara itu.

Pengumuman itu disampaikan oleh Rouhani dalam sebuah upacara negara di Teheran pada Selasa 20 Agustus, beberapa saat setelah Amerika Serikat (AS) mengumumkan akan melakukan uji coba misil pertamanya di era pemerintahan Donald Trump.

Dikutip dari Al Jazeera pada Jumat (23/8/2019), kehadiran sistem baru berjuluk Bavar-373 juga bersamaan dengan meningkatnya ketegangan terhadap AS, yang tahun lalu secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir multinasional, yang ditandatangani antara kekuatan dunia dan Iran, sekaligus menerapkan kembali sanksi yang melumpuhkan.

Para pejabat Iran sebelumnya menyebut Bavar, yang berarti "percaya" dalam bahasa Persia, sebagai sistem pertahanan rudal jarak jauh pertama yang diproduksi di dalam negeri.

Iran mulai berproduksi setelah pembelian sistem S-300 Rusia ditangguhkan pada 2010, karena sanksi internasional yang melarangnya mengimpor banyak senjata.

Bavar menggantikan sistem S-300 yang macet pada Maret 2016, setelah beberapa tahun penundaan pasca-perjanjian nuklir 2015 yang sekarang hancur.

Berbicara pada upacara hari Selasa, Rouhani mengatakan sistem pertahanan permukaan-ke-udara yang dikendalikan secara seluler itu, lebih baik daripada S-300 dan hampir mendekati kecanggihan S-400 yang belum lama dirilis oleh Rusia.

 

2 dari 3 halaman

Sistem Rudal yang Cocok dengan Geografi Iran

Kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan bahwa Bavar-373 memiliki jangkauan lebih dari 200 kilometer, dan mengatakan sistem rudal jarak jauh itu cocok untuk geografi Negeri Persia.

Dalam pidatonya pada hari Selasa, Rouhani juga menegaskan kembali pandangan keras pemerintahannya terhadap AS, dengan mengatakan bahwa "pembicaraan nuklir tidak berguna".

"Sekarang musuh kita tidak menerima logika, kita tidak bisa merespons dengan logika," lanjut Rouhani menegaskan.

Sebelumnya, Iran mengklaim telah menembak jatuh pesawat pengintai Global Hawk milik AS --yang dilengkapi rudal permukaan-ke-udara-- pada Juni lalu, karena diduga melanggar wilayah udaranya.

Klaim tersebut dibantah keras oleh Amerika Serikat, yang menudingnya sebagai kabar bohong.

 

3 dari 3 halaman

Menlu Iran Sambut Positif Usulan Prancis

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyampaikan nada positif atas proposal Prancis untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir, yang ditandatangani oleh negara itu bersama dengan Inggris, Jerman, China, Rusia dan Uni Eropa, kecuali AS.

Dalam upaya untuk menopang perjanjian tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron menawarkan pada Rabu 21 Agustus, untuk melunakkan sanksi terhadap Iran atau memberikan mekanisme kompensasi dengan imbalan kepatuhan penuh dengan pakta tersebut.

Berbicara di Institut Urusan Internasional Norwegia, Zarif pada hari Kamis mengatakan dia sangat menantikan percakapan serius selama pertemuan dengan Macron di Paris pada hari berikutnya.

"Ada proposal di atas meja, baik dari pihak Prancis dan Iran, dan kami akan mengerjakan proposal itu besok," katanya.

Namun Zarif menambahkan, Iran tidak akan mentolerir campur tangan AS di Teluk Persia, memperingatkan upaya Washington menciptakan misi keamanan untuk menjaga pelayaran komersial di Selat Hormuz, pintu gerbang vital bagi pasokan minyak global.

Inggris, Australia, dan Bahrain adalah segelintir negara yang telah bergabung dengan misi AS sejauh ini.

Loading
Artikel Selanjutnya
Donald Trump Ingin Tambah Sanksi Iran Usai Serangan Kilang Minyak Saudi
Artikel Selanjutnya
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Lobi Kongres AS untuk Tekan China