Sukses

Militer AS Boleh Pakai Kekuatan Mematikan ke Imigran di Perbatasan, Asal...

Liputan6.com, Florida - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pada Kamis 22 November 2018 bahwa ia telah memberi wewenang kepada militer AS di perbatasan AS-Meksiko untuk menggunakan "kekuatan mematikan (lethal force)" terhadap sekelompok imigran yang mendekat ke Negeri Paman Sam. Langkah tersebut diperbolehkan asal diperlukan.

"Jika mereka harus, mereka akan menggunakan kekuatan yang mematikan. Saya telah memberikan OK," kata Trump yang berbicara dengan anggota militer dan wartawan di Mar-a-Lago, seperti dikutip dari CNN, Jumat (23/11/2018).

"Hanya jika mereka harus. Saya harap mereka tidak perlu melakukannya," lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengancam untuk menutup "seluruh perbatasan" AS demi mengantisipasi hal tersebut.

Trump juga mengatakan ada kemungkinan terjadi penghentian pendanaan pemerintah terhadap pembangunan dinding perbatasan pada bulan Desember.

Awal pekan ini, Trump menyetujui sebuah memorandum yang memberikan wewenang baru kepada militer AS di perbatasan untuk melindungi personel US Customs and Border Protection (CBP) dari para imigran jika mereka terlibat dalam kekerasan.

Tentara AS mengawasi sekitar dari balik barikade kawat duri dekat Jembatan Internasional AS-Meksiko di Donna, Texas,Minggu (4/11). Sebagian besar dari para imigran mengatakan berencana mengajukan permohonan suaka di AS. (AP Photo/Eric Gay)

Sebelum wewenang baru diberikan, militer tidak diizinkan untuk campur tangan jika personel CBP diserang, kecuali, mereka perlu bertindak dalam pembelaan diri mereka sendiri.

Trump telah mengirim hampir 6.000 pasukan ke perbatasan AS-Meksiko untuk melindungi wilayah itu terhadap sekelompok imigran dari Amerika Tengah yang datang melalui Meksiko.

Banyak imigran mengatakan mereka mencari suaka dan melarikan diri dari kekerasan dan penganiayaan kelompok kriminal bersenjata di negara asal mereka.

Namun di sisi lain, Menteri Pertahanan AS James Mattis mengatakan pada Rabu 22 November, "belum ada seruan bagi pasukan untuk menggunakan kekuatan mematikan" terhadap para imigran. Ia juga mengatakan bahwa setiap pasukan yang mendukung personel CBP tidak akan membawa senjata api tetapi dapat dilengkapi dengan tameng dan pentungan.

 

Simak video pilihan berikut:

 

2 dari 2 halaman

Menutup Perbatasan AS

Presiden Donald Trump pada Kamis 22 November juga mengatakan "dua hari lalu kami menutup perbatasan," dan menambahkan, "tidak ada yang datang."

Dia tampaknya mengacu pada penutupan sementara perbatasan pada Senin 19 November dari semua lalu lintas kendaraan ke utara di pelabuhan masuk paling sibuk di negara itu, San Ysidro.

Pihak CBP mengatakan, jalur ditutup untuk memasang hambatan dan kawat berduri serta "untuk mempersiapkan kedatangan potensial ribuan orang yang berimigrasi dalam kafilah menuju perbatasan Amerika Serikat."

Presiden AS mengatakan, "jika kami menemukan bahwa itu tidak dapat dikendalikan atau sampai pada titik di mana orang-orang kami akan mulai terluka, kami akan menutup pintu masuk ke negara kami untuk jangka waktu tertentu sampai kami dapat mengendalikannya."

"Seluruh perbatasan," kata Trump yang kemudian mengulangi kalimatnya untuk menegaskan, "Maksud saya, seluruh perbatasan."

"Ketika mereka kehilangan kendali atas perbatasan di sisi Meksiko, kami akan menutup perbatasan," kata Trump, menjelaskan lebih lanjut bahwa itu berarti Meksiko akan "tidak dapat menjual mobil mereka ke Amerika Serikat."

Kamis 22 November malam, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menegaskan kembali posisi pemerintahan AS bahwa kelompok imigran Amerika Tengah itu --yang oleh media disebut sebagai rombongan karavan-- tidak akan diizinkan untuk menyeberang ke AS.

"Karavan tidak akan diizinkan masuk ke Amerika Serikat," kata Pompeo dalam sebuah pernyataan. "Ada bahaya nyata terhadap keselamatan dan hak asasi manusia para migran yang akan mengancam diri mereka."

Loading
Artikel Selanjutnya
5 Fakta Soal Black Friday yang Fenomenal
Artikel Selanjutnya
Donald Trump: CIA Tidak Menyalahkan Putra Mahkota Saudi Atas Pembunuhan Jamal Khashoggi