Sukses

Banyak yang Tak Sadar, Ini 5 Tanda Anda Takut pada Penilaian Orang Lain

Liputan6.com, Jakarta - Sebagai manusia, kita bergantung satu sama lain untuk bertahan hidup. Bahkan, dalam budaya pemburu-peramu (hunter and gatherer), penolakan oleh kelompok bisa berarti kematian bagi seseorang. Jadi tidak heran mengapa kita peduli tentang apa pandangan orang lain terhadap diri mereka.

Tetapi jika membiarkan hal ini memengaruhi kehidupan Anda, maka siap-siap menghadapi dampaknya. Misalnya, terkekangnya potensi kreatif, pengasingan dari orang-orang yang berpotensi memberikan peluang lebih baik, dan masih banyak lainnya.

Dikutip dari Mindbodygreen.com pada Kamis (22/11/2018), terlalu khawatir dengan pandangan orang lain --secara psikologi-- akan membuat jiwa seseorang sakit.

 

Seperti yang ditulis oleh Dr Lissa Rankin, seorang psikolog kenamaan Amerika Serikat, dalam bukunya yang berjudul The Fear Cure, rasa takut pada penilaian orang lain tidak hanya berpotensi membuat seseorang merasa kesepian, melainkan juga memperbesar risiko terserang penyakit jantung, kanker, dan berbagai gejala kronis lainnya.

Jadi bagaimana mengetahui jika Anda terlalu takut dengan pandangan orang lain? Berikut adalah beberapa sikap yang bisa menjadi penandanya.

 

Simak video pilihan berikut: 

2 dari 6 halaman

1. Takut Mengatakan Kebenaran

Seberapa sering ketakutan untuk bicara apa adanya, memicu risiko gangguan pada pekerjaan, percintaan, relasi antar teman, atau bahkan hubungan dengan orangtua?

Berapa kali Anda menyembunyikan kebenaran demi 'integritas' semu? Setiap kali seseorang takut mengungkapkan sebuah kebenaran, maka hal itu seketika mengaktifkan respons stres yang melemahkan mekanisme penyembuhan alami tubuh.

Akibatnya, hidup pun terasa seperti terus menerus dirundung sendu.

 

3 dari 6 halaman

2. Menjadi Bunglon Sosial

Tentu Anda pernah melihat orang-orang mengubah nadanya setiap kali berbicara dengan orang-orang atau kelompok yang baru dikenal. 

Hal ini bahkan bisa terlihat ketika mereka terpaksa harus berinteraksi dengan orang yang tidak disukainya, demi menjaga kesopanan.

Namun, jika sebuah individu dengan mudah menjadi sosok yang serupa dengan berbagai lingkungan sosialnya, maka bisa jadi dia sedang berada dalam krisis kepercayaan diri.

Sejatinya, kondisi tersebut menandakan seseorang tidak nyaman masuk ke mana pun, dan berusaha mencari pembenaran diri secara diam-diam.

 

4 dari 6 halaman

3. Sengaja Berbohong

Jika berpikir kebenaran tidak diterima, seseorang akan memiliki kecenderungan untuk meregang dan menyembunyikan kebenaran, alias berbohong.

Tidak spesifik pada satu jenis kelamin, tetapi sikap ini sangat umum terjadi pada pria juga wanita, karena takut terjadi penolakan.

Tetapi dalam dinamika antar lawan jenis, pria bisa sangat bersalah jika berbohong, dan wanita cenderung terluka jika pria berkata jujur.

 

5 dari 6 halaman

4. Menyembunyikan Kebiasaan Anda

Jika Anda terlalu takut dengan apa yang dipikirkan orang lain, Anda akan merasa tertekan untuk mengikuti kebiasaan orang banyak. Tidak percaya diri untuk tampil apa adanya justru akan mengaktifkan respons stres, yang bisa membuat Anda terserang penyakit, fisik maupun jiwa.

Anda tidak pernah tahu kapan akan bertemu dengan orang atau kelompok yang memiliki pandangan sama, kegemaran serupa, dan mungkin "kegiatan yang mudah terkoneksi".

Bersikap mengikuti arus, sama saja dengan membiarkan Anda mengubur potensi kebahagian hidup.

6 dari 6 halaman

5. Sengaja Meredupkan Cahaya Terang

Pikirkan ketika Anda memiliki berita bagus untuk dibagikan. Anda ingin berteriak dari atas atap, tapi mengurungkannya karena ragu. Karena Anda takut itu akan terdengar seperti menyombongkan diri. Atau Anda khawatir orang lain akan menghakimi Anda. Atau Anda khawatir bahwa Anda akan membuat orang lain cemburu.

Jika Anda sering berlaku seperti itu, berarti Anda sengaja mematikan cahaya terang pada diri Anda.