Sukses

Ronald Reagan hingga Sukarno, Ini 8 Plot Gagal Pembunuhan Presiden yang Bikin Heboh Dunia

Liputan6.com, Jakarta - Menjadi pemimpin negara adalah kebanggaan tersendiri, apalagi jalan yang ditempuh untuk menuju posisi presiden tidaklah mudah. Butuh banyak usaha, upaya dan pengorbanan, bahkan nyawa.

Jika berhasil, kecemburuan dari kubu oposisi pun harus dihadapi. Tak jarang mereka melakukan melakukan upaya penjatuhan demi bisa mendapatkan kembali kursi kepemimpinan yang diincar.

Plot pembunuhan kerap membayangi para pemimpin dunia, yang terkini dilaporkan dari Ibu Kota Caracas. Kendati demikian upaya itu gagal menewaskan sang presiden.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro dikabarkan diserang drone bermuatan peledak saat tengah berpidato.

Seperti dikutip dari BBC, tiba-tiba terdengar suara ledakan di udara saat peringatan ulang tahun ke-81 Bolivarian National Guard.

Maduro bersama pejabat lainnya melihat ke atas dan terkejut oleh serangan drone (pesawat tanpa awak) yang mendadak. Ia tercekat, lantas menghentikan pidatonya di upacara militer, setelah mendengar suara ledakan tersebut. Sistem audio pun sempat terputus oleh kepanikan.

Lalu terdengar sejumlah alarm kendaraan berbunyi, disusul oleh audiens yang panik, berupaya menyelamatkan diri dari lokasi. Mereka berlarian mencari tempat yang aman.

Tak lama kemudian para tentara terlihat berhamburan dari posisi siaga mereka saat menyaksikan sang pemimpin Venezuela berpidato.

Puluhan tentara Venezuela terlihat berusaha melindungi presiden, sesaat sebelum agenda yang disiarkan secara langsung itu dihentikan sepihak.

Berikut ini rekaman detik-detik drone meledak saat Presiden Maduro berpidato:

Selain Maduro, sejumlah plot gagal pembunuhan presiden juga pernah dialami beberapa pemimpin negara di seluruh dunia, berikut di antaranya yang Liputan6.com kutip dari beragam sumber, Kamis (9/8/2018):

 

 

Saksikan juga video berikut ini:

2 dari 9 halaman

1. Pembunuhan Gagal Presiden AS Ronald Reagan

Enam puluh sembilan hari setelah Ronald Reagan dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat, ia menjadi sasaran pembunuhan oleh seseorang bernama John Warnock Hinckley. Namun upaya tersebut tak berjalan mulus.

Hinckley gagal membunuh Presiden AS ke-40 itu. Sebab luka tembak yang dialami Reagan tak fatal, dokter juga berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di dadanya dengan cepat.

Insiden mendebarkan yang terjadi pada tanggal 30 Maret 1981 bermula saat Reagan meninggalkan Hotel Hilton Washington, DC, bersama Sekretaris Pers Gedung Putih James Scott Brady, agen secret service Timothy McCarthy, dan perwira polisi District of Columbia Thomas Delahaney.

Tiba-tiba saja, rombongan tersebut ditembaki. Dor, dor, dor...

Reagan yang sudah tertembak kemudian dibawa oleh secret service dengan mobil limusin kepresidenan ke George Washington University Hospital. Di sana ia menjalani operasi pembedahan untuk mengeluarkan selongsong peluru yang bersarang di bagian dada kiri.

"Sayang, aku lupa membungkuk," ucap Reagan terhadap istrinya, Nancy Reagan, sambil bercanda sebelum operasi dilakukan.

Kalimat itu ia kutip dari petinju Jack Dempsey pada tahun 1926, yang kalah dalam kejuaraan tinju kelas berat melawan Gene Tunney.

Selain Reagan, serangan itu melukai Sekretaris Pers James Brady cukup parah. Ia menderita kerusakan otak permanen. Sementara Secret Service Timothy McCarthy dan polisi Thomas Delahaney pulih dari luka tembaknya.

Si penembak, John Hinckley divonis tak bersalah. Meski ia telah diamankan oleh kepolisian AS.

Pada tanggal 21 Juni, Hinckly dinyatakan sakit jiwa dan bebas dari tuduhan upaya pembunuhan Ronald Reagen. Ia pun dirawat di rumah sakit jiwa St. Elizabeth's Hospital, Washington DC.

Putusan tidak bersalah dengan alasan sakit jiwa itu sempat menuai banyak kritik dari publik. Mereka tak menyangka calon pembunuh presiden bisa bebas dari hukuman.

3 dari 9 halaman

2. 'Skandal' Pembunuhan Gagal Presiden Chile

Pada 8 Agustus 1986 lalu, Presiden Chile, Pinochet, selamat dari maut. Ia terhindar dari percobaan pembunuhan atas dirinya dalam serangan sengit yang menewaskan lima pengawal dan melukai 11 lainnya.

Dilansir dari BBC on This Day, iring-iringan Jenderal Augusto Pinochet kala itu disergap oleh setidaknya 12 pemberontak. Ketika itu, ia tengah berjalan dari rumahnya menuju ibu kota Chile.

Orang-orang bersenjata kemudian menembaki konvoi presiden dengan senapan mesin, pistol, bazooka dan melemparkan granat tangan.

Front Patriotik Manuel Rodriguez --salah satu kelompok gerilyawan Marxis-- merupakan orang yang diyakini berada di balik serangan itu. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang terlibat ditangkap.

Presiden kemudian memberlakukan "keadaan darurat" yang memberinya kekuatan untuk melakukan penahanan, sejak tragedi pada 8 September 1984 itu.

Meski serangan tersebut mengerikan, sopir mobil Mercedes presiden berlapis baja itu berhasil selamat dan bergegas kembali ke kediaman Pinochet di El Melocoton.

Jenderal Pinochet mengalami luka ringan di tangan akibat upaya pembunuhan itu. Ia menggambarkan serangan itu kepada wartawan, hanya selang beberapa jam setelah terjadi serangan.

"Reaksi pertama saya segera keluar dari mobil, tapi kemudian aku memikirkan cucu yang ada di sampingku, aku menutupi tubuhnya dengan badanku," kata Pinochet.

Upaya pembunuhan sang jenderal datang saat meningkatnya kerusuhan politik dan sipil di Amerika Selatan.

Amnesty International mengatakan, pelanggaran hak asasi manusia di negara itu berada pada tingkat yang sama seperti sebelum kudeta berdarah 1973, yang membawa Jenderal Pinochet berkuasa.

Upaya pertama pembunuhan terhadap presiden Chile tersebut menandai eskalasi dalam skala oposisi terhadap pemimpin militer berusia 70 tahun yang ingin berkuasa selama 12 tahun.

Kepada wartawan Jenderal Pinochet mengaku tak takut terhadap lawan-lawannya.

"Cobalah untuk membunuhku: Saya seorang tentara, saya siap," katanya tegas.

 

4 dari 9 halaman

3. Upaya Gagal Pembunuhan Presiden AS Gerald Ford

Pada 22 September 1975, Presiden Amerika Serikat ke-38 Gerald Ford menghadapi upaya pembunuhan untuk yang kedua kalinya. Hanya berselang 17 hari dari upaya pembunuhan yang pertama, seorang wanita bernama Sarah Jane Moore diidentifikasi oleh tim penyelidik sebagai pelakunya.

Dilansir dari laman History.com, kala itu Presiden Gerald sedang dalam perjalanan untuk memberikan pidato di Sacramento, California.

Upaya Moore digagalkan oleh seorang penonton bernama Oliver Sipple yang secara naluriah mencengkram lengan Moore saat ia berusaha mengangkat pistolnya.

Kala itu ia berhasil melepaskan tembakannya, tetapi tak mengenai target.

Melihat kejadian tersebut, agen Secret Service dengan cepat membawa Ford menuju mobil dengan maksud menyelamatkan nyawa sang presiden.

Tiga hari kemudian, mantan veteran Marinir dan Vietnam bernama Oliver Sipple yang menggagalkan aksi Moore, mendapat ucapan terima kasih dari Ford secara terbuka.

Sebagai pelaku, Moore ditangkap oleh pihak berwajib dan dipenjara di fasilitas yang sama dengan Fromme (pelaku pembunuhan pertama). Ia sempat melarikan diri pada 1989, tapi menyerahkan diri dua hari kemudian.

Upaya Pembunuhan Pertama

Pada 5 September 1975, polisi menahan seseorang yang digambarkan sebagai wanita muda berwajah mungil dengan rambut merah serta memiliki flek pada wajah.

Wanita tersebut bernama Lynette Fromme. Pada saat itu, ia berupaya untuk mendekati Presiden Ford saat tengah berjalan di dekat Capitol California. Tiba-tiba ia meraih pistol kaliber 45 ke arah pemimpin ke-38 AS itu.

Sebelum dia berhasil melepaskan tembakan, agen Secret Service meringkus dan menggulingkannya ke tanah.

Lynette Fromme yang dijuluki Squeaky, adalah anggota keluarga Charles Manson yang terkenal sekaligus dipuja sebagai pemimpin sekte.

Manson dan anggota keluarga lainnya dijatuhi hukuman penjara karena membunuh mantan aktris Sharon Tate dan beberapa orang lainnya pada 1969. Selanjutnya, Fromme dan anggota kultus perempuan lainnya menjadi pengikut sebuah kelompok baru yang disebut the International People’s Court of Retribution.

Kelompok tersebut meneror eksekutif perusahaan yang dianggap sebagai perusak lingkungan.

Fromme dihukum karena percobaan pembunuhan dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di West Virginia. Dia melarikan diri pada tahun 1979, tapi tertangkap dalam jarak 25 mil dari penjara.

5 dari 9 halaman

5. Pembunuhan Gagal Ibu Negara Cantik Imelda Marcos

Di atas panggung, di depan ratusan orang pada 7 Desember 1972, mantan Ratu Kecantikan Filipina Imelda Marcos selamat dari maut yang nyaris menjemputnya. Ia berhasil mempertahankan diri dari serangan pisau membabi buta yang diarahkan padanya, dalam acara penyerahan penghargaan lingkungan bertajuk Imelda’s National Beautification and Cleanliness contest.

Tak ada yang menduga ada pembunuh yang menyusup di antara para penerima penghargaan tersebut. Ibu negara Filipina itu sepertinya juga tak merasakan ada gelagat yang aneh.

Di tengah kemeriahan, saat pria berbaju hitam itu menaiki panggung dan berbaris untuk menerima hadiah dari Imelda. Tiba-tiba saja ia mengeluarkan pisau bolo -- sejenis belati-- yang tersembuyi di balik lengan jasnya.

Pisau berwarna hitam yang disembunyikan di balik jas berwarna serupa itu, kemudian dihujamkan ke arah istri Presiden Filipina, Ferdinand Marcos. Teriakan pun pecah, jeritan terdegar di mana-mana. 

Dari video yang beredar, Imelda Marcos terlihat menutupi dada dengan kedua lengannya. Sehingga organ-organ vitalnya terlindungi dari serangan brutal itu.

Lalu beberapa orang berbaju putih berlarian ke arahnya. Sebagian berusaha menolongnya -- termasuk pejabat bernama Jose Aspitas dan Linda Amor Robles, yang lain melumpuhkan si penusuk yang belakangan diketahui bernama Carlito Dimahilig.

Carlito sulit diamankan, ia membabi buta menikamkan pisaunya ke segala penjuru dan melukai beberapa orang. Akhirnya, polisi menembakkan dua peluru ke arah belakang tubuhnya. Pria 27 tahun itu tewas seketika.

Imelda Marcos langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan helikopter. Meski selamat dari maut, namun ia harus merasakan pedihnya mendapati luka 75 jahitan di tangan dan lengan setelah mempertahan diri dari penyerang berpisau.

Peristiwa mendebarkan yang terekam itu pun kemudian menyebar ke seantero dunia.

6 dari 9 halaman

6. PM Pakistan Selamat dari Bom Mobil

Malam itu, 18 Oktober 2007, Victoria Schofield sedang berada di dalam bus, di Karachi, Pakistan. Dia satu bus dengan mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto.

Victoria menemani Bhutto yang merupakan sahabatnya dalam perjalanan menuju lokasi kampanye untuk pemilu beberapa bulan kemudian. Bhutto selaku Ketua the Pakistan People's Party (PPP).

Di lantai atas bus, Victoria dan rekan Bhutto lainnya tengah bercakap-cakap santai, bercengkerama dalam perjalanan. Namun tak dinyana, sebuah bom meledak menghantam rombongan. Bhutto yang merupakan Perdana Menteri wanita pertama Pakistan juga kaget.

"Kami sedang duduk di atas, tiba-tiba ada cahaya bagaikan kilat datang dan ledakan," ujar Victoria, seperti dimuat BBC. "Udara terasa begitu panas. Saat itu, ada 15 orang di atas dan kami langsung turun," imbuh dia.

Victoria dan Bhutto beruntung. Mereka selamat, tanpa terluka sedikit pun. Kendati ada anggota rombongan sang mantan Perdana Menteri di mobil lain yang tewas. Victoria mengatakan, setelah ledakan pertama yang tak begitu kuat, muncul bom kedua. Membuat banyak orang dalam rombongan Bhutto terluka parah. Darah bercucuran.

"Bom pertama meledak dari sebuah lokasi parkiran mobil. 2 Menit kemudian, bom kedua meledak," tutur teman Bhutto tersebut.

Saksi lain, Farjana Raja yang merupakan juru bicara Partai PPP mengatakan, "Saat itu, kami tidak tahu harus lari ke mana. Situasi kacau balau. Kami tak mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi.

Kepala Kepolisian Karachi Azhar Farooqi mengatakan, bom kedua diduga kuat berasal dari ledakan bom bunuh diri. "Kalau ledakan pertama merupakan granat yang dilempar ke arah rombongan. Kerusakan bom pertama tak begitu parah dibanding bom kedua," jelas dia.

Akibat ledakan ini, 139 orang tewas dan 450 lainnya terluka. Sebagian besar korban merupakan anggota Partai PPP. Selain itu, puluhan polisi dan beberapa jurnalis juga meregang nyawa.

Usai kejadian, Bhutto langsung dilarikan ke tempat aman. Kampanye dan agenda politik ditunda. Sebelumnya Bhutto dijadwalkan untuk berorasi di sekitar makam Bapak Negara Pakistan, Mohammed Ali Jinnah.

7 dari 9 halaman

6. Presiden Irak Selamat dari Upaya Penembakan

Alih-alih bisa menciptakan perdamaian di negaranya yang sudah porak-poranda, Presiden Irak Jalal Talabani malah menjadi sasaran percobaan pembunuhan, Kamis 25 Agustus 2018.

Peristiwa itu terjadi di kawasan Tuz Khurmatu, sekitar 88 kilometer dari Kota Kirkuk, Irak bagian utara. Saat itu, konvoi mobil Talabani yang sedang dalam perjalanan pulang dari Kurdistan menuju Baghdad, tiba-tiba dihujani tembakan dari sekelompok orang tidak dikenal.

Akibat serangan tersebut, delapan pengawal Talabani tewas dan 15 orang lainnya cedera. Talabani sendiri selamat. Ini lantaran saat penyerangan terjadi dia tidak ikut konvoi kendaraan kepresidenan.

Tiga hari sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup Irak, Narmin B. Uthman, juga lolos dari percobaan pembunuhan. Kelompok ini menggunakan cara yang sama, menyerang secara mendadak iring-iringan kendaraan yang menjadi sasaran. Tercatat tiga pengawal tokoh suku Kurdi ini cedera dalam insiden yang terjadi di Kota Baghdad itu.

 

8 dari 9 halaman

7. Sukarno, Presiden Pertama Indonesia

Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno juga pernah mengalami upaya pembunuhan. Ia dijadikan target oleh Central Intelligent Agency (CIA) hingga pemberontak DI/TII.

Seluruh upaya pembunuhan itu gagal dan Sukarno selalu selamat.

Selamatnya Sukarno konon karena banyak para pengawal yang sigap melindungi. Namun, ada pula yang mengaitkannya dengan hal mistis.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang hadir dalam peluncuran tiga buku seri sejarah Sukarno di Museum Nasional, Kamis 30 Desember 2017, dan didaulat menjadi pembicara kunci menyatakan, dirinya merupakan salah satu saksi sejarah sang Proklamator.

Dia membuka fakta tentang berapa kali Bung Karno menjadi incaran pembunuh. "Perencanaan dan pelaksanaan pembunuhan kepada Bung Karno itu 23 kali," ungkap Megawati.

Berikut lima upaya gagal pembunuhan terhadap Sang Proklamator, Ir. Sukarno yang Liputan6.com rangkum:

- 1. Rencana Pembunuhan dari CIA

- 2. Lima granat di Cikini

- 3. Tembakan peluru dari Pilot

- 4. Serangan mortir di tengah jalan

- 5. Ledakan saat konvoi

- 6. Rencana ditembak saat Idul Fitri

- 7. Tembakan saat Idul Adha

9 dari 9 halaman

8. Agen CIA Cantik Tolak Bunuh Presiden Fidel Castro

Pada Januari 1960, wanita cantik bernama Ilona Marita Lorenz pergi ke Miami untuk bertemu dengan agen ganda CIA, Frank Sturgis, yang menyerahkan wadah berisi pil beracun.

Peran yang dilakukan Marita sederhana. Ia hanya perlu memasukkan satu pil beracun ke dalam minuman pemimpin Kuba saat itu, Fidel Castro.

Takut pil beracun itu diketahui oleh petugas Kuba, Marita menyembunyikannya di dalam wadah krimnya.

Ketika kembali ke apartemen Casro di Havana, ia berusaha untuk memasukkan pil tersebut ke dalam segelas air. Namun, aksinya terhambat karena pil itu berlapis krimnya.

"Aku mencoba untuk menghapusnya, tapi aku tak bisa," kenang Marita seperti dikutip dari Daily Mail pada 28 November 2016.

"Aku panik dan mencoba untuk mengguyurnya ke dalam toilet, tapi tak bisa. Kemudian Fidel masuk," ujar dia.

"Ia mengeluarkan pistol dari tempatnya," kata Marita ketika Castro mengetahui rencananya. "Aku pikir dia akan menembakku, tapi dia memberikanku pistol dan bertanya, 'Apakah kamu datang untuk membunuhku?'."

"Lalu ia mengisap cerutunya dan menutup matanya. Ia membuat dirinya tak berdaya karena dia tahu aku tak bisa melakukannya. Ia masih mencintaiku dan aku masih mencintainya," ujar Marita.

Marita pun mengeluarkan peluru dari dalam pistol dan jatuh ke dekapan Castro. "Aku merasa lemas. Ia sangat yakin kepadaku. Ia mendekapku," ungkap perempuan dengan nama asli Ilona Marita Lorenz itu.

Ketika kembali ke Miami, ia takut CIA akan membunuhnya jika ia tetap menjalin hubungan dengan Castro.

Castro menjadi target ratusan upaya pembunuhan oleh Barat khususnya Amerika Serikat (AS). Menurut eks pengawal Castro, Fabian Escalante, seperti dilansir The Guardian, terdapat sekitar 638 upaya pembunuhan terhadap El Comandante.