Sukses

Akibat Ombak Besar, Pantai-Pantai di Republik Dominika Diselimuti Tumpukan Sampah

Liputan6.com, Santo Dominggo - Gelombang besar dari perairan Samudera Atlantik dikabarkan membawa tumpukan sampah ke pesisir Republik Dominika.

Bahkan, beberapa pantai cantik berpasir putih di negara Karibia itu dibanjiri oleh kemasan plastik bekas, styrofoam, dan beragam limbah lainnya.

Ratusan petugas kebersihan kota dan relawan bergabung memunguti tumpukan sampah tersebut, yang tersapu ke daratan akibat hujan badai yang terjadi sekitar pesisir Republik Dominika sejak Jumat, 20 Juli 2018.

Dikutip dari Time.com pada Rabu (25/7/2018), sebanyak 60 ton tumpukan sampah berhasil dikumpulkan sejak akhir pekan lalu. Adapun sisa area yang belum dibersihkan mencapai lebih dari 40 persen dari total wilayah yang tersapu gelombang sampah.

Namun, khusus untuk Pantai Montesinos di bagian timur laut Republik Dominika, sapuan gelombang sampah dilaporkan terjadi hampir teratur setiap tahunnya.

Menurut Cyrill Gutsch, pendiri organisasi pro lingkungan Parley for the Oceans, fenomena itu tak lain terjadi karena kontrol limbah yang buruk di negara yang berbagi pulau dengan Haiti tersebut.

Gutsch menjelaskan bahwa apa yang terjadi di Pantai Montesinos dan beberapa wilayah pesisir negara itu disebabkan oleh kebiasaan buruk warganya, yang masih banyak membuang sampah ke sungai-sungai pendek yang mengalir ke Laut Karibia.

"Mayoritas limbah itu tidak kembali ke pantai, tetapi tersapu ke kembali ke daratan, menjadi gumpalan sampah berskala masif, dan kemungkinan menyimpan partikel-partikel beracun yang mengancam (kelestarian) alam," jelas Gutsch.

Di lain pihak, beberapa laporan ilmiah mengatakan bahwa gumpalan pulau sampah di lautan telah meningkat massanya dari tahun ke tahun.

Adapun repositori limbah terbesar diketahui berada di tengah Samudera Pasifik, yang disebut Great Pacific Garbage Patch, di mana kini telah membengkak ukurannya menjadi dua kali luas wilayah negara bagian Texas di Amerika Serikat.

 

Ssimak video pilihan berikut: 

 

 

2 dari 2 halaman

Sampah Plastik Mengancam Antartika

Sementara itu, kelompok LSM Greenpeace melaporkan bahwa polusi partikel plastik telah terdeteksi di sebagian besar sampel salju dan air laut, yang diambil oleh para peneliti di Antartika, selama pelayaran bulan Januari hingga Maret tahun ini.

Analisis di laboratorium mengungkapkan adanya jejak sampah manusia di sudut paling terpencil di dunia.

"Paling tidak satu keping partikel plastik ditemukan di setiap liter (air di Antartika). Saat anda melihatnya pada ke skala Samudra Antartika, temuan ini menjadi benar-benar signifikan," tulis laporan terkait, sebagaimana dikutip dari VOA Indonesia.

"Sebelumnya, kami berpikir bahwa Samudra Antartika terlindungi oleh semacam arus yang mengitarinya, sebagai penghalang dari polusi plastik yang menjadi momok di banyak lokasi perairan laut di dunia. Namun sekarang, bukti-bukti semakin menunjukkan kondisinya tidak seperti itu," sambung Louisa Casson dari Greenpeace.

Selain kepingan plastik yang berukuran sangat kecil, penelitian juga mengungkapkan adanya bahan kimia unsur polyfluorinated alkylated, yang banyak digunakan dalam proses industri.

Pencemaran bahan kimia tersebut terkait dengan isu gangguan reproduktif dan pertumbuhan biota laut.

PBB memperkirakan sebanyak delapan juta ton plastik dibuang ke samudra setiap tahunnya.

Dampak buruk dari temuan di atas terlihat jelas belum lama ini di selatan Thailand, dimana seekor paus mati terdampar setelah menelan hampir 100 keping sampah plastik yang berbobot sekitar delapan kilogram.

Loading
Artikel Selanjutnya
Misteri Matinya Ikan-Ikan di Laut Ternate dan Halmahera
Artikel Selanjutnya
Peringati Hari Sampah, Anies Minta Warga Kurangi dan Pilah Sampah