Sukses

Kim Jong-un Marah Saat Blusukan ke 3 Fasilitas Publik Korea Utara, Ada Apa?

Liputan6.com, Pyongyang - Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un memarahi sejumlah pejabat saat menginspeksi tiga fasilitas publik: sebuah pabrik, pembangkit listrik, dan tempat wisata pemandian air panas. Demikian diinformasikan pihak media pemerintah Korut KCNA  pada Selasa, 16 Juli 2018.

Dalam kunjungannya ke Provinsi Hamgyong Utara, Kim Jong-un murka kepada para pejabat setelah mengetahui bahwa proses pembangunan Pembangkit Listrik Orangchon baru mencapai sekitar 70 persen. Demikian seperti dikutip dari Channel News Asia, Selasa (17/7/2018).

"(Kim Jong-un) sangat terkejut, tidak bisa berkata-kata," KCNA melaporkan.

"Dia (Kim Jong-un) menegur para pejabat terkemuka kabinet Korea Utara karena menyerahkan proses pembangunan ke pemerintah provinsi, namun mereka tak mengawasi lebih lanjut," lanjut media pemerintah Korut itu.

"Sang pemimpin memerintahkan agar pembangunan (pembangkit listrik itu) selesai pada Oktober tahun depan."

Kim Jong-un juga murka ketika meninjau tempat wisata pemandian air panas di Onpho, Provinsi Hamgyong Utara yang kotor.

Tempat pemandian itu, yang pernah dikunjungi oleh kakek dan ayah Kim Jong-un, Kim Il-sung dan Kim Jong-il, "Lebih buruk dari tangki ikan," kata sang pemimpin Korea Utara.

Sementara itu, KCNA juga melaporkan, seorang pejabat Korea Utara mengatakan bahwa Kim Jong-un murka terhadap fasilitas di sebuah pabrik pembuatan tas di Hamgyong Utara.

Pejabat itu, mengutip perkataan Kim Jong-un, menyebut bahwa pabrik tersebut memiliki "ruangan yang kumuh" dan "menyebabkan kecemasan besar" bagi sang pemimpin Korut.

KCNA juga melaporkan bahwa pemerintah provinsi "tidak menerima dengan tulus kebijakan resmi Kim jong-un untuk membangun pabrik tas baru."

"Pemimpin tertinggi (Kim Jong-un) menunjukkan bukti bahwa Komite Partai Hamgyong bekerja dengan cara yang asal saja," lapor KCNA yang melanjutkan bahwa "Komite tak memiliki semangat revolusioner."

 

Simak juga video berikut ini:

1 dari 2 halaman

Kata Analis

Profesor Yang Moo-jin dari University of North Korea Studies mengatakan bahwa amarah Kim Jong-un merupakan 'bentuk penyampaian pesan dan sinyal kepada domestik dan luar negeri' bahwa Korea Utara tengah memfokuskan diri pada pembangunan ekonomi, sebagai respons atas pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Kala itu, Kim Jong-un setuju untuk bekerja menuju denuklirisasi dan berfokus pada pengembangan ekonomi Korea Utara. Tetapi, istilah denuklirisasi tampak hanya berupa eufemisme dan membuka banyak ruang untuk berbagai interpretasi diplomatik.

"Kepada rakyat, dia (Kim Jong-un) tengah memproyeksikan diri sebagai pemimpin yang merawat mata pencaharian mereka," kata Yang Moo-jin kepada AFP seperti dikutip dari Channel News Asia.

"Kepada dunia luar, dia mengirim sinyal bahwa dia serius dalam janjinya untuk denuklirisasi."

Artikel Selanjutnya
PBB Setujui Pembukaan Kembali Jalur Komunikasi Militer Korea Utara dan Selatan
Artikel Selanjutnya
AS Tuduh Korea Utara Langgar Sanksi PBB Terkait Impor Minyak Bumi