Sukses

Berkat Teknologi, Begini Paras Putri Diana Jika Masih Hidup...

Liputan6.com, London - Putri Diana tewas dalam usia muda. Saat ajal menjemput, usianya saat itu masih 36 tahun. Sosoknya begitu dicintai banyak orang. Bukan hanya terpesona karena kecantikan fisiknya, namun rakyat juga jatuh cinta pada aksi sosialnya.

Hampir 21 tahun sejak kematiannya, banyak orang yang begitu penasaran dengan penampilan rupawan Putri Diana apabila ia masih hidup saat ini.

Dikutip dari laman Rsvplive.ie, Jumat (6/7/2018), jika ibu dari Pangeran William dan Harry itu masih hidup maka usianya akan menginjak 50-an.

Lewat kecanggihan teknologi, sebuah foto meramalkan wajah Putri Diana apabila ia masih hidup saat ini.

Upaya untuk meramalkan wajah Putri Diana yang sudah mendiang bukan kali saja dilakukan.

Pada 2011 lalu, sampul Newsweek memicu kontroversi saat memajang foto rekayasa komputer Putri Diana sedang berjalan berdampingan dengan menantunya, Kate Middleton.

Tak hanya sekedar gambar, editor Newsweek, Tina Brown juga menulis kisah fiksi tentang kehidupan sang putri -- jika ia tak tak tewas bersama kekasihnya, Dodi Al Fayed. Menurut Tina, Diana akan memilih tinggal di New York ketimbang Inggris, rajin botoks, punya Facebook dengan jutaan penggemar, menikah dua kali, dan duduk di barisan depan, di samping Victoria Beckham dalam gala busana New York's Fashion Week.

Edisi Diana diluncurkan untuk memperingati ulang tahun ke-50 Diana yang jatuh Jumat 1 Juli 2011. Alih-alih pujian, Newsweek justru banjir kritik.

 

Foto kontroversial Putri Diana di sampul majalah (Newsweek)

Putri Diana tewas pada Minggu dini hari, 31 Agustus 1997. Terowongan Pont de l'Alma di Paris, Prancis menjadi lokasi kecelakaan maut yang merenggut nyawanya.

Kala itu, Mercedes hitam yang membawa Lady Di dan kekasihnya, Dodi Al Fayed melaju kencang, menghindari kejaran paparazi, sebelum menabrak dinding terowongan hingga hancur.

Putri Diana yang masih bernyawa dilarikan ke Rumah Sakit Pitie-Salpetriere, Paris. Namun, nyawanya tak terselamatkan.

Baru beberapa jam kemudian, kabar duka tersebut sampai di Inggris, tanah air sang putri. Istana Buckingham sibuk bukan kepalang mempersiapkan pemakaman hanya dalam waktu satu pekan.

Ketika Diana meninggal, Pangeran William dan Harry baru berusia 15 dan 12 tahun. Saat sang ibu mengembuskan napas penghabisan, keduanya sedang tertidur.

Ratu Inggris Elizabeth II memerintahkan semua televisi dan radio di tempat tinggal Pangeran William dan Harry di Balmoral disembunyikan.

Tujuannya, agar kedua pangeran muda tidak mengalami trauma saat mendengar cerita mengerikan terkait kecelakaan ibu mereka.

Untuk mempersiapkan proses pemakaman, pihak kerajaan menggandeng pihak kepolisian, kantor perdana menteri, dan keluarga besar Spencer -- dari mana Putri Diana berasal.

Tak hanya itu beberapa orang dari Istana Kensington, Buckingham dan St James juga diperintahkan untuk mempersiapkan pemakaman mendiang Putri Diana.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 dari 2 halaman

Kala Jasad Putri Diana Seakan Bergerak

Pangeran Charles awalnya dilarang menaiki pesawat khusus Royal Plane, menuju Paris, untuk menjemput jasad mantan istrinya. Namun, pewaris takhta Kerajaan Inggris itu kukuh dengan pendiriannya.

Juga dilaporkan bagwa Pangeran Harry merengek, ingin ikut ayahnya ke Prancis. Namun, ia diperintahkan untuk tetap di rumah.

Hingga akhirnya, mantan asisten Diana, Paul Burrell dan Colin Tebbutt yang ikut ke Paris.

Keduanya diperintahkan untuk menyediakan sebuah kamar jenazah darurat untuk menyimpan jasad Diana. Karena suhu tinggi di bulan Agustus, ruangan tersebut menjadi sangat panas.

Burrell mengungkapkan perasaannya saat melihat jasad Diana di Rumah Sakit Pitie-Salpetriere.

"Sejujurnya, saya sempat berfikir, 'Dia tidak benar-benar mati, ini pasti sebuah lelucon, lelucon yang tak lucu," ungkap Burrell.

Tebbutt juga menyatakan hal yang sama. "Semua orang kaget...saya masih melihat rambut sang putri terlihat bergerak, akibat embusan kipas angin. Saya sempat berpikir, dia masih hidup," kata dia.

Dia menambahkan, Pangeran Charles menghampiri dirinya dan mengucapkan terima kasih karena membantu proses pemulangan jenazah Diana.

Setelah itu rombongan pemuka agama memasuki ruang di mana jasa Diana berada. Pintu pun ditutup.

Anji Hunter yang saat itu menjabat sebagai penasihat Perdana Menteri Tony Blair menceritakan suasana menegangkan dalam proses pengaturan pemakaman. Termasuk siapa saja yang harus berjalan di belakang peti mati.

Dia mengatakan bahwa William dan Harry awalnya enggan, namun kedua pangeran berubah pikiran pada saat-saat terakhir. Mereka berdua memilih untuk berjalan di belakang peti mati di samping ayah, kakek dan paman mereka.

Pada hari itu, sekitar dua juta orang berjejer di jalanan untuk menyaksikan perjalanan peti jenazah sejauh empat mil, melalui kota London. Mereka datang untuk memberikan penghormatan terakhir bagi Putri Diana.