Sukses

Iran Peringatkan AS untuk Tak Remehkan Kekuatan Angkatan Lautnya

Liputan6.com, Teheran - Kepala Staf Angkatan Laut Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC), Laksamana Ali Fadawi, memperingatkan Amerika Serikat agar tidak meremehkan kemampuan angkatan laut negaranya.

Pada hari Minggu Fadawi menegaskan bahwa Amerika Serikat hanya memiliki sedikit informasi tentang program amfibi Iran. Menurut Fadawi, pasukannya dapat dikerahkan di "perairan bebas di masa depan".

"Amerika Serikat memiliki sedikit informasi tentang kekuatan Angkatan Laut Iran dan mereka baru akan memahami kekuatan kami yang sebenarnya ketika kapal mereka ditenggelamkan atau terjerat dalam situasi yang mengerikan...," ujar Fadawi seperti dilansir Al Jazeera, Senin (23/4/2018) yang mengutip kantor berita Iran, FARS.

Sementara itu, pernyataan senada juga dikeluarkan oleh Kepala Staf Angkatan Laut Iran Hossein Khanzadi.

"Kapasitas angkatan laut (Iran) dapat membuat musuh terbesar kami menyesali intimidasi... Hari ini, Amerika Serikat memahami dengan baik bahwa angkatan laut dan IRGC yang bersatu di laut menghasilkan kekuatan yang lebih dibanding Amerika Serikat," ujar Laksamana Khanzadi.

"Musuh-musuh harus tahu bahwa angkatan laut dan IRGC, yang bertindak di bawah satu komando, tidak takut terhadap ancaman dan melawan segala bentuk penindasan di mana saja di perairan seluruh dunia," imbuhnya.

Pada Januari 2016, dua kapal patroli angkatan laut Amerika Serikat ditangkap di lepas pantai Iran setelah secara tidak sengaja memasuki perairan teritorial. Namun, insiden itu dengan cepat diselesaikan.

"Setelah memastikan bahwa masuknya mereka ke perairan teritorial Iran tidak disengaja dan mereka meminta maaf, para pelaut Amerika Serikat yang ditahan itu dibebaskan di perairan internasional Teluk Persia," sebut pernyataan IRGC saat itu.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

1 dari 2 halaman

Tensi Tinggi Amerika Serikat-Iran

Hubungan Teherean dan Washington tegang belakangan menyusul wacana Donald Trump yang akan menarik diri dari kesepakatan nuklir yang disepakati tahun 2015.

Terkait hal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif menegaskan bahwa Iran akan bersemangat melanjutkan kegiatan yang dihentikan di bawah perjanjian nuklir jika Amerika Serikat membatalkan perjanjian multilateral tersebut.

Zarif mencatat bahwa kembalinya pengayaan uranium mungkin akan menjadi respons Teheran terhadap kemungkinan penarikan Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir.

"Amerika Serikat seharusnya tidak takut Iran memproduksi bom nuklir, namun kami akan mengejar dengan penuh semangat pengayaan nuklir kami," kata Zarif seperti dilansir Presstv.

Donald Trump telah menjadi pengkritik keras pakta nuklir Iran, yang dinegosiasikan di bawah pendahulunya, Barack Obama. Dia menyebut kesepakatan itu sebagai "kesepakatan terburuk" dan bahkan mengancam akan membatalkannya.

Pada bulan Januari, Trump memutuskan untuk tetap dengan kesepakatan itu, tapi ia memberi batas waktu hingga 12 Mei untuk "memperbaiki kekurangan yang mengerikan" dari perjanjian tersebut atau ia akan meninggalkannya.

Artikel Selanjutnya
Ahli Ungkap 3 Alasan di Balik Kemauan Kim Jong-un Bernegosiasi
Artikel Selanjutnya
Pria Setengah Bugil Tembaki Restoran di Amerika Serikat, Empat Orang Tewas