Sukses

Juara di Volcano Cup 2018, Ini 5 Fakta Gunung Krakatau yang Mendunia

Liputan6.com, Jakarta - Gunung Krakatau menjadi juara di Volcano Cup 2018. Ia mengalahkan sejumlah nama besar seperti St Helens, Vesuvius, Eyjafjallajökull, juga Gunung Taupo di Selandia Baru -- saingannya di final.

Volcano Cup digagas oleh Dr Janine Krippner. Sebanyak 40 gunung berapi 10 negara ikut serta dalam ajang tersebut, yakni dari Indonesia, Amerika, Selandia Baru, Meksiko, Chile, Jepang, Eslandia, Italia, Filipina, dan Guatemala. Pemenang ditentukan lewat Twitter.

"Dengan total suara 27.056 sepanjang #VolcanoCup 2018, saya mengumumkan KRAKATAU, INDONESIA sebagai juara! Terima kasih banyak karena telah membantu meningkatkan kesadaran tentang aktivitas gunung berapi, bahaya, risiko, dan kegiataan di seluruh dunia," demikian tulis @janinekrippner di Twitter.

Meski menang kompetisi, tak ada penghargaan yang diberikan pada Gunung Krakatau. Volcano Cup diadakan dengan tujuan meningkatkan kesadaran tentang aktivitas gunung berapi dan bahaya yang ditimbulkan.

Sebutan Krakatau kini melekat pada kepulauan vulkanik yang berada di Selat Sunda antara Pulau Jawa dan Sumatera. Kawasan tersebut kini menjadi cagar alam, sementara gunung yang menyandang namanya sudah tiada.

Meski telah membinasakan dirinya sendiri lewat letusan dahsyat pada 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau tak benar-benar mati.

Pada 1927 atau kurang lebih 40 tahun sejak erupsi dahsyat, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau, yang hingga kini terus bertumbuh. Suatu ketika, ia dikhawatirkan bernasib sama dengan induknya.

Berikut lima fakta Gunung Krakatau yang membuatnya layak untuk terus dikenang.

 

1 dari 6 halaman

1. Efek Letusan Dahsyat

Pada Senin, 27 Agustus 1883 pukul 10.20 pagi, Gunung Krakatau yang tidur panjang selama 200 tahun, erupsi dahsyat. Ia meledakkan diri hingga hancur berkeping-keping.

Kekuatannya setara 200 megaton TNT, lebih 10 ribu kali kekuatan bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima, Jepang, di penghujung Perang Dunia II.

Tephra dan awan panas merenggut banyak nyawa di Jawa dan Sumatera sebelah barat. Namun, mayoritas korban jiwa, yang jumlahnya 36 ribu, jatuh akibat tsunami. 

Sejumlah laporan bahkan menyebut, korban mencapai 120 ribu. Kerangka-kerangka manusia ditemukan mengambang di Samudera Hindia hingga pantai timur Afrika sampai satu tahun setelah letusan.

Seperti dikutip dari situs sains LiveScience, muncul dinding air setinggi 120 kaki atau 36,5 meter, yang dipicu melesaknya Krakatau dan naiknya dasar laut.

Di wilayah pesisir, suara gelegar terdengar dari kejauhan, suaranya kian dekat dan kuat. Laut pun kemudian menggila.

Tsunami menerjang tanpa ampun, rumah gedek milik pribumi, maupun gedung tembok beratap merah kepunyaan bangsa Eropa di Anyer hancur lebur. Wilayah pesisir lain di Jawa dan Sumatera menemui nasib sama.

Ledakan tersebut melemparkan sekitar 45 kilometer kubik material vulkanik ke atmosfer. Menggelapkan langit yang menaungi wilayah yang berada di radius 442 km dari Krakatau.

Barograf di seluruh dunia mendokumentasikan tujuh kali gelombang kejut.

Dalam 13 hari, lapisan sulfur dioksida dan gas lainnya mulai menyaring jumlah sinar matahari yang bisa mencapai Bumi.

Efek atmosfer yang diakibatkan membuat pemandangan matahari terbenam yang spektakuler di seluruh Eropa dan Amerika Serikat. Suhu global rata-rata mencapai 1,2 derajat lebih dingin selama lima tahun setelahnya.

2 dari 6 halaman

2. Suara Letusan Paling Keras

Suara ledakan dan gemuruh letusan Krakatau terdengar sampai radius lebih dari 4.600 km hingga terdengar sepanjang Samudra Hindia, dari Pulau Rodriguez dan Sri Lanka di barat, hingga ke Australia di timur.

Letusan tersebut masih tercatat sebagai suara letusan paling keras yang pernah terdengar di muka bumi. Siapa pun yang berada dalam radius 10 kilometer niscaya menjadi tuli. The Guiness Book of Records mencatat bunyi ledakan Krakatau sebagai bunyi paling hebat yang terekam dalam sejarah.

"Akibatnya tak hanya melenyapkan sebuah pulau beserta orang-orangnya, melainkan membuat mandek perekonomian kolonial yang berusia berabad-abad," demikian ungkap Simon Winchester, penulis buku Krakatoa: The Day the World Exploded, August 27, 1883.

Letusan Krakatau juga menciptakan fenomena angkasa lewat abu vulkaniknya. Abu yang muncrat ke angkasa, membuat Bulan berwarna biru.

3 dari 6 halaman

3. Bencana Global Pertama yang Diliput dalam Sejarah

Media Forbes menyebut, erupsi Krakatau, dalam beberapa aspek, adalah bencana global pertama yang tercatat dalam sejarah.

Dan, berkat temuan alat komunikasi modern (telegraf), kabarnya segera tersebar ke seluruh dunia.

Jurnal Belanda, Dutch Java Bode, yang pertama mengabarkannya, pada hari yang sama saat Krakatau meletus. Sejumlah media internasional menyusul kemudian.

Kisah letusan Krakatau diabadikan dalam film, buku, dokumenter, bahkan komik. Di sisi lain, letusan Gunung Tambora 70 tahun sebelumnya, yang dampaknya lebih dahsyat hingga mampu mengubah sejarah dunia, nyaris terlupakan.

4 dari 6 halaman

4. NASA Pantau Anak Krakatau

Pasca-erupsi dahsyat Krakatau hancur sama sekali. Mulai pada 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelahnya,muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau. 

Ia terus meletus secara sporadis sejak saat itu. Ia sedang bertumbuh, terus mendekati ukuran induknya yang hancur berkeping.

Anak Krakatau adalah satu dari 100 gunung berapi yang terus dipantau NASA melalui satelit Earth Observing-1 atau EO-1.

Ada dua alasan yang membuat NASA terus mengamati Anak Krakatau. Selain karena terus-menerus bererupsi, ini juga dilatarbelakangi faktor historis

 

5 dari 6 halaman

5. Ramalan

Konon, letusan Gunung Krakatau telah diramalkan. Adalah Edward Samson, editor koran Boston Globe yang meramalkannya.

Pada 10 Agustus 1883 malam, Edward Samson, datang ke kantornya. Semua orang sudah pulang. Ia yang sedikit mabuk berbaring di sofa, lalu tertidur.

Tiba-tiba, saat jarum jam menunjuk ke angka 03.00, ia terbangun dalam kondisi kaget. Matanya terbelalak, napas menderu, dan dada yang berdebar. Samson -- atau ada yang menulis nama belakangnya sebagai Sampson atau Samsom -- baru saja mengalami mimpi buruk.

Semua yang ia lihat di alam mimpi begitu nyata dan mengerikan. Pria itu menyaksikan sebuah gunung meletus dahsyat, yang mengalirkan lava panas ke laut.

Telinganya seakan mendengar jerit pilu para korban yang dicekam ketakutan. Ia juga menyaksikan bagaimana sebuah pulau tenggelam ke lautan, setelah gunung yang meledak itu mengirim abu dan puing ke angkasa.

Samson kemudian duduk di meja kerjanya, meraih sejumlah kertas, dan menuliskan mimpinya. Lalu, pulang, istirahat sampai mabuknya hilang.

Pagi berikutnya, seorang editor melihat catatannya, mengira peristiwa itu benar adanya. Kala itu, teknologi belum secanggih saat ini. Sang redaktur mengira Samson menyalin data tersebut dari kawat berita.

Tanpa bertanya apa pun, tulisan Samson lantas dimuat dalam sebuah artikel, 8 kolom, dan disajikan di halaman depan!

Geger pun terjadi. Dengan cepat kisah gempa dahsyat yang disebabkan gunung meledak -- yang membuat Pulau Pralape tenggelam menyebar ke seantero Amerika Serikat juga dunia lewat telegram.

Pertanyaan demi pertanyaan ditujukan pada pihak koran, meminta informasi lebih rinci soal malapetaka yang menewaskan ribuan orang tersebut. Redaksi mencari pulau bernama Pralape di Samudra Hindia. Dan tak menemukannya.

Menyadari kesalahannya, Boston Globe menulis artikel ralat, yang berisi permohonan maaf dan menyatakan kabar tersebut tak benar.

Namun, beberapa hari kemudian, pada 27 Agustus 1883, tepat pukul 10.20, Krakatau meletus dahsyat.

Kekuatannya setara 150 megaton TNT, lebih 10.000 kali kekuatan bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Melenyapkan pulau dan memicu dua tsunami, dengan tinggi maksimal 40 meter, yang menewaskan lebih dari 35.000 orang.

"Beberapa tahun berikutnya, baru diketahui bahwa Krakatau punya nama lain dua abad sebelumnya. Ia disebut sebagai Pralape," demikian cuplikan artikel yang dimuat koran Gadsden Times, 7 Oktober 1966.

Artikel Selanjutnya
Kalahkan 39 Gunung Berapi, Krakatau Jadi Juara Volcano Cup 2018
Artikel Selanjutnya
Yuk, Voting Gunung Krakatau di Volcano Cup 2018