Sukses

Terkuak, Misteri Gerbang Neraka di Turki yang Tak Membunuh Manusia

Liputan6.com, Ankara - Tim arkeolog baru-baru ini menemukan detail baru yang menakjubkan tentang sebuah gua di Turki yang diyakini orang Romawi kuno sebagai gerbang neraka atau pintu masuk ke dunia bawah tanah.

Sejumlah ritual pernah terjadi di kompleks berusia 2.200 tahun di kota kuno Hierapolis, bagian dari provinsi Frigia. Ritual itu melibatkan para pendeta yang telah dikebiri. Mereka menggiring lembu jantan masuk ke dalam gua, untuk dijadikan tumbal bagi para dewa.

Gua gerbang neraka di mana ritual berlangsung berada di salah satu dari banyak kuil di kompleks tersebut. Situs itu juga dikenal sebagai plutonium, atau ploutonion, atau gerbang Pluto -- yang merupakan nama Dewa Dunia Bawah Tanah, demikian seperti dikutip dari Newsweek pada Rabu (21/2/2018).

Kompleks itu juga terdapat arena di mana para warga bisa menyaksikan binatang-binatang yang masuk ke gerbang neraka mati, sementara para pendeta yang menggiring hewan itu keluar dari sana tanpa cedera.

Bagi para penonton, para pendeta konon memiliki kekuatan khusus.

Rahasia soal itu baru-baru ini terungkap dan dipublikasikan di jurnal Archaeological and Anthropological Sciences.

Temuan itu mengungkapkan bahwa ada penjelasan geologis yang bisa menjelaskan mengapa gerbang neraka itu bisa mematikan hewan sementara para pendeta tidak.

Menurut ilmuwan, emisi karbon dioksida bertanggung jawab atas kematian para binatang di gerbang neraka itu.

"Emisi tersebut merupakan hasil dari gas mematikan," kata Hardy Pfanz dari University of Duisburg-Essen, penulis utama studi tersebut. Para peneliti menemukan bahwa di dalam gua, konsentrasi CO2 mencapai hingga 91 persen.

Dan di luar gua, di mana konsentrasi berkisar antara 4 persen dan 53 persen, cukup banyak gas yang dipancarkan bisa membunuh serangga, mamalia kecil dan bahkan burung yang terbang di atasnya.

Emisi ini pernah dianggap sebagai nafas Pluto yang juga dikenal sebagai Hades. Anggapan lain menyebut, itu adalah nafas anjing Kerberos yang menjaga pintu masuk neraka.

Tapi bagaimana para pendeta bertahan sementara sapi jantan sehat menyerah pada gas beracun dalam hitungan menit?

Tim tersebut menduga para pendeta saat itu mengetahui beberapa sifat gerbang neraka itu dan mengetahui bagaimana memanfaatkan hal tersebut demi keuntungan mereka.

 

 

1 dari 2 halaman

Ini Rahasianya... 

Konsentrasi tertinggi terbentuknya karbon dioksida berada di dasar gua gerbang neraka itu.

Lubang hidung sapi jantan cukup dekat dengan tanah. Jadi saat mereka masuk ke dalam gua, mereka menghirup lebih banyak gas berbahaya daripada para pendeta.

Para pendeta bahkan mungkin telah menggunakan berbagai cara untuk berdiri sejauh mungkin dari dasar gua.

Dan karena energi matahari menghamburkan karbon dioksida, konsentrasi gas paling rendah terjadi pada tengah hari dan tertinggi saat fajar, senja, dan malam hari.

Para periset menduga, para pendeta melakukan pengorbanan pada siang hari ketika gas tersebut berisiko lebih kecil.

Namun, mereka juga menemukan bukti lampu minyak, menunjukkan bahwa para pendeta masuk ke gua pada malam hari, terlepas dari kenyataan bahwa "konsentrasi pada malam hari dengan mudah akan membunuh manusia dalam waktu sekejap," tulis para peneliti.

Gua gerbang neraka tersebut ditemukan kembali oleh para arkeolog tujuh tahun lalu.

Gerbang neraka itu pertama kali dideskripsikan oleh sejarawan Yunani kuno bernama Strabo dan pernah ditulis oleh penulis Romawi Kuno bernama Pliny the Elder.

Orang-orang Romawi percaya ini adalah salah satu pintu menuju neraka yang terletak di Mediterania.

Bahkan ada bukti yang menunjukkan bahwa plutonium menjadi daya tarik wisata yang populer seiring berjalannya waktu pada saat itu, di mana pengunjung bisa membeli hewan kecil yang akan mereka lemparkan ke arena agar bisa dikorbankan oleh para pendeta. 

Hewan-hewan kecil itu, termasuk burung, dijadikan tumbal di gerbang neraka.

Artikel Selanjutnya
Capres Turki Ini Janji Akan Invasi Yunani, Bakal Picu Perang Dunia III?
Artikel Selanjutnya
AS dan Turki Sepakat Hindari Potensi Perang di Suriah Utara