Sukses

Raja Sindikat Perdagangan Satwa Liar Tertangkap di Thailand

Liputan6.com, Bangkok - Akhir pekan lalu, Kepolisian Thailand berhasil menangkap seorang pria yang diduga kuat sebagai kepala jaringan perdagangan satwa liar terbesar di Asia.

Boochai Bach, nama pria berusia 40 tahun asal Vietnam tersebut, diringkus di sebuah kota di perbatasan antara Thailand dan Laos.

Dilansir dari laman BBC, pada Senin (22/1/2018), Bach terancam hukuman penjara maksimal empat tahun dan denda miliaran baht atas tuduhan perdagangan satwa liar yang dilindungi, seperti cula badak dan gading gajah.

Perdagangan satwa liar merupakan bisnis pasar gelap yang menguntungkan, polisi setempat menyebut tersangka merupakan pemimpin sindikat penyelundupan besar yang beroperasi lebih dari satu dekade.

Banh ditangkap pada Jumat, 19 Januari 2018, dengan barang bukti berupa 14 buah cula badak senilai hampir US$1 juta atau sekitar Rp 13,3 miliar yang didatangkan dari Afrika.

Setelah menginterogasi orang-orang yang tertangkap basah menyelundupkan cula badak pada tahun lalu, Kepolisian Thailand pun memiliki cukup bukti kuat untuk menangkap Banh dan menjebloskannya ke penjara.

"Penangkapan tersangka juga bisa menjadi bukti lanjutan untuk menyelidiki kelompok penyedia dan penadah bisnis hitam ini di Afrika dan Asia," jelas juru bicara kepolisian setempat

 

 

1 dari 2 halaman

Sukses Mengacaukan Siklus Perdagangan Satwa Liar di Asia

Boonchai Bach diketahui mengendalikan bisnis haramnya dari sebuah kota kecil di tepi Sungai Mekong yang menjadi titik perbatasan antara Thailand dan Laos. Kota tersebut kerap dijadikan sebagai jalur transit untuk menyelundupkan cula badak dan gading gajah ke Laos.

Dari Laos, Bach bisa lebih leluasa menerukan praktik penyelundupannya ke Vietnam dan China, dua pangsa terbesarnya di Asia.

Akan tetapi, terlepas dari keberhasilan otoritas keamanan Thailand dalam mencegah pengiriman bagian tubuh satwa liar, jaringan penyelundupan yang lebih besar dan kuat masih sulit untuk dipecah.

Hanya saja, penangkapan Bach setidaknya membuat kekacauan sementara di siklus perdagangan satwa liar di kawasan Asia.

"Jeda waktu akibat kekacauan ini perlu segera dimanfaatkan untuk menyelidiki lingkup kejahatan terkait yang lebih luas, baik kerja sama degan Interpol, lembaga-lembaga pro lingkungan hidup, dan kerja sama anta negara yang berkepentingan di isu perdagangan satwa liar," ujar juru bicara kelompok anti-perdagangan satwa liar FreeLand.

Artikel Selanjutnya
Berburu Jejak Harimau Jawa di Taman Nasional Meru Betiri
Artikel Selanjutnya
Demi Hewan Endemik, Australia Pasang "Pagar Kucing" Terpanjang di Dunia