Sukses

PM Ganteng Kanada Jadi Sampul Rolling Stone, Sindir Donald Trump?

Liputan6.com, Ottawa - Majalah dwi-mingguan asal Amerika Serikat, Rolling Stone, memajang Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau sebagai "man on cover" edisi Agustus 2017, dengan tajuk berjudul "Justin Trudeau, Why Can't He Be Our President?". Pemilihan tajuk itu menjadi hal unik, seakan menjadi pesan terselubung Rolling Stone guna menyindir Presiden AS Donald Trump.

Pada sampul tersebut, Trudeau berpose dengan duduk di tepi meja, menggunakan kemeja berdasi dengan lengan yang digulung. Demikian seperti yang dilansir dari Daily Mail, Kamis (27/7/2017).

Sementara itu, dalam laman elektronik Rollingstone.com versi Rabu (26/7) dan Kamis (27/7), media berhaluan liberal itu turut menjadikan PM Kanada tersebut menjadi headline dengan tajuk "Justin Trudeau: Is the Canadian Prime Minister the Free World's Best Hope?". Artikel di laman elektronik itu berperan sebagai suplemen atas edisi majalah Rolling Stone Agustus 2017.

Baik edisi majalah maupun versi laman elektronik menulis ulasan yang menguraikan perbedaan mencolok antara Trudeau dan Trump. Sejumlah aspek yang menjadi sorot perbandingan kedua pemimpin negara yang saling bertetangga itu bervariasi, mulai dari isu sistem jaminan kesehatan, kebijakan lingkungan, dan sub-isu liberalisme, seperti kesetaraan SOGI (orientasi seksual dan identitas gender) non-arus utama hingga legalisasi mariyuana.

Ditambah lagi, artikel media liberal dwi-mingguan AS itu --baik versi majalah maupun online-- terbit selang beberapa hari setelah rencana Presiden Trump untuk melarang individu transgender berdinas dalam angkatan bersenjata. Kebijakan itu, meski diprediksi mampu mendulang dukungan dari haluan politik konservatif, juga akan menimbulkan prahara bagi komunitas militer di Negeri Paman Sam.

Justin Trudeau di sampul majalah Rolling Stone (AP)

Pasalnya, dikabarkan ada ribuan anggota angkatan bersenjata AS yang berstatus sebagai individu transgender. Dan hal itu, memicu kritik dari para haluan politik kanan-liberal, yang menganggap rencana Presiden ke-45 Negeri Paman Sam itu sebagai sebuah tindakan diskriminatif.

Berbeda dengan rekan sejawatnya, PM Trudeau pada tahun lalu justru ikut menyukseskan undang-undang anti-diskriminasi terhadap individu berstatus transgender.

Kepada jurnalis Rolling Stone, Stephen Rodrick --yang menulis artikel tersebut--, Trudeau juga mengatakan bahwa dirinya memiliki perbedaan pandangan dengan Trump dalam sejumlah besar masalah maupun isu. Meski begitu, ia mengaku memiliki "hubungan kerja yang konstruktif" dengan rekan sejawatnya itu.

Dalam artikel tersebut, Trudeau juga mengatakan bahwa dirinya tidak ingin ikut terjebak dalam arus "menjelek-jelekkan" atau bereaksi berlebihan atas Trump dalam sejumlah isu. Sebab, menurut pria kelahiran Ottawa itu, hal tersebut justru akan berdampak pada relasi bilateral yang tidak konstruktif, khususnya antara AS-Kanada.

"Saya tidak merasa bahwa saya atau Kanada harus membuktikan sesuatu lewat sejumlah pernyataan atau sikap yang berlebihan," jelas PM Trudeau beropini mengenai cara merespons sejumlah isu terkait Donald Trump.

Akan tetapi, meski artikel itu secara keseluruhan bernada positif, sejumlah warga Kanada tidak menyukai cara Rolling Stone mengemas dan menyajikan PM Trudeau, yang seakan ingin menunjukkan sang PM sebagai sosok "politisi tanpa cela".

Seorang pengguna Twitter berkewarganegaraan Kanada menyebut bahwa artikel tersebut terlampau memuji Trudeau sehingga tampak "memalukan". Akun lain menyebut bahwa artikel tersebut serupa iklan atau sponsor.

Saksikan juga video berikut ini

Loading