Sukses

Ribuan Orang Hadiri Pemakaman Mahasiswa AS Eks Tahanan Korut

Liputan6.com, Cincinnati - Ribuan orang menghadiri pemakaman mahasiswa AS yang sempat ditahan 17 bulan di Korea Utara, Otto Warmbier. Hanya sepekan setelah dipulangkan oleh rezim Kim Jong-un, pemuda 22 tahun itu mengembuskan napas terakhirnya setelah mengalami koma dalam waktu yang cukup lama.

Auditorium SMA berkapasitas 800 orang di Cincinnati, penuh sesak oleh orang-orang yang ingin memberi penghormatan terakhir bagi Warmbier. Begitu juga dengan ruangan lain yang disiapkan untuk menampung pelayat.

Para pelayat juga terlihat berdiri di sisi jalanan di kota Wyoming dan Cincinnati, tempat di mana Warmbier akan dimakamkan. Sepanjang jalan menuju pemakaman, terlihat sejumlah bendera AS dan pita biru putih sebagai tanda penghormatan untuknya.

"Proses ini telah menjadi jendela untuk melihat kejahatan dan kebaikan," ujar senator AS dari Ohio, Rob Portman, kepada awak media sebelum Warmbier dimakamkan, seperti dikutip dari The Guardian, Jumat (23/6/2017). 

"Hari ini kita melihat yang baik, dan cinta yang ditunjukkan melalui curahan dukungan untuk Otto dan keluarganya ini."

Para pelayat telah datang sejak pagi hari untuk menghadiri pemakaman Otto Warmbier yang diadakan di SMA tempatnya lulus pada 2013.

Salah seorang mantan konselor sekolahnya yang menghadiri pemakaman tersebut, Cynthia Meis, mengatakan bahwa banyak orang khawatir saat Warmbier ditahan di Korea Utara.

"(Kami) berdoa agar ia cepat bebas, mendukung keluarga Warmbier sebisa mungkin," ujar Meis.

"Dia akan membuat dunia bergejolak, karena itulah mengapa kehilangan ini sangat mendalam."

Otto Warmbier, mahasiswa Amerika yang menghabiskan 17 bulan di tahanan Korea Utara (AP Photo/Jon Chol Jin)

Otto Warmbier meninggal kurang dari seminggu setelah dibebaskan dari Korea Utara. Ia tak bisa berbicara atau bergerak.

Pemerintah Korea Utara mengatakan, Warmbier koma setelah mengalami botulisme -- kondisi keracunan serius yang disebabkan oleh racun yang dihasilkan bakteri Clostridium botulinum -- dan mengonsumsi pil tidur pada Maret 2016.

Namun dokter di AS mengatakan bahwa mereka tidak menemukan bukti adanya penyakit tersebut di tubuh Warmbier.

"Pola cedera otak ini biasanya terlihat sebagai akibat fungsi jantung dan paru-paru yang mendadak berhenti, di mana suplai darah ke otak tidak memadai untuk jangka waktu tertentu sehingga mengakibatkan kematian jaringan otak," kata Dr Daniel Kanter pekan lalu.

Perlakuan yang diterima Warmbier oleh Korea Utara memicu kecaman keras di Washington. Menteri Pertahanan AS Jim Mattis mengatakan bahwa kesabaran AS dengan Pyongyang hampir habis.

"Melihat seorang pemuda pergi ke sana dengan sehat dan, setelah melakukan kejahatan ringan, pulang ke rumah dengan kondisi yang pada dasarnya meninggal... ini melampaui pemahaman hukum dan ketertiban, kemanusiaan, tanggung jawab terhadap manusia mana pun," ujar Mattis.

 

Simak video menarik berikut ini: