Sukses

Emas, Berlian... 6 Tempat Ini Masih Menyembunyikan Harta Karun

Liputan6.com, Jakarta - Temuan harta karun dapat membuat seseorang kaya mendadak dan terkenal.

Hasil temuan bisa saja merupakan bagian sejarah yang dikira hilang selamanya atau sesuatu yang dikira tidak pernah ada.

Tidak seperti banyak legenda yang beredar, kabar tentang harta karun tersembunyi biasanya tercatat secara cermat, termasuk harta karun yang hilang dalam masa perang.

Dikutip dari Listverse.com pada Sabtu (20/5/2017), berikut ini adalah sejumlah lokasi hilangnya harta karun selama perang yang mungkin masih bisa ditemukan sekarang:

2 dari 7 halaman

1. Elysian Park

Elysian Park di Los Angeles pada tahun 1900. (Sumber Wikimedia Commons untuk ranah publik)

Elysian Park adalah taman tertua di Los Angeles, sekaligus menjadi ke-2 terluas, dengan kawasan membentang sekitar 2,4 kilometer persegi. Ada dugaan tempat itu menyimpan harta karun yang hilang selama 150 tahun.

Selama perang AS-Meksiko pada 1846 hingga 1848, bagian selatan California merupakan tempat yang sengit diperebutkan oleh 2 pihak sehingga menakutkan warga yang terjebak di tengah pertikaian.

Menurut legenda, warga kemudian menyembunyikan emas, berlian, dan lainnya dari pihak yang bertikai di dalam perbukitan, gua, dan ngarai di taman luas itu.

Sejak 1896, surat kabar masih memberitakan orang mencari harta karun. Jika benar, maka seharusnya banyak warga sudah kembali mencari hartanya. Tapi mungkin banyak juga yang sudah meninggal atau mengungsi menghindari perang.

Contoh paling terkenal adalah Don Francisco Avila yang membangun rumah pertama di Los Angeles dan masih ada hingga hari ini. Sebagai tokoh politik dan bisnis terkemuka, kemungkinan besar ia menyembunyikan hartanya selama perang.

Pemburu harta karun bernama Roy Roush mengaku telah menemukan ukiran pada bebatuan dalam taman yang diduganya mengarah ke lokasi harta karun, sedangkan Marvin Baker mengaku telah menemukan peta sederhana, juga di bebatuan. Tapi, hingga hari ini belum ada harta karun yang ditemukan di Elysian Park.

3 dari 7 halaman

2. Danau Toplitz

Danau Toplitz. (Sumber Wikimedia Commons/Blueangel untuk ranah publik)

Danau itu terletak di ketinggian pegunungan Alpen, jauh di jantung hutan lebat, sehingga menjadi tempat yang ideal untuk menyembunyikan emas curian senilai US$ 5,6 miliar.

Telah lama beredar selentingan tentang danau terpencil itu. Warga lokal bernama Michl Kaltenbrunner bahkan menjamin bahwa pihak Nazi membuang emas ke dalam danau. Ia masih berusia 10 tahun ketika Perang Dunia II usai.

Yang menjadi pendukung pernyataannya adalah adanya temuan lembar uang palsu dengan nominal 700 juta pound sterling pada 1959. Lembar-lembar uang palsu itu rencananya akan digunakan oleh Hitler untuk mengacaukan ekonomi Inggris.

Tapi tidak jelas apakah memang itu yang dilihat warga setempat atau hanya sebagian dari yang tenggelam. Danau itu memiliki kedalaman 100 meter dengan lapisan kayu mengambang sekitar setengah kedalaman sehingga berisiko tinggi bagi penelitian.

4 dari 7 halaman

3. Lokasi Pelarian Kruger

Paulus Johannes Kruger. (Sumber Wikimedia Commons untuk ranah publik)

Stephanus Johannes Paulus Kruger dikenal juga sebagai "Paman Paul" adalah presiden ke-3 di Republik Afrika Selatan. Ia berkuasa selama 17 tahun di ujung Abad ke-19.

Menjelang Perang Boer ke Dua dan pandangan publik yang melawannya, ia hengkang dari Afrika Selatan pada 1900, hanya 2 tahun sebelum masa jabatannya resmi berakhir. Tapi ia tidak lupa membawa serta sejumlah harta. Kruger pergi menuju Eropa dan kereta yang ditumpanginya pun disebut-sebut membawa emas dalam jumlah besar.

Penyelidikan yang dilakukan kemudian mengungkapkan telah terjadi pencurian 1,5 juta poundsterling harta pemerintah yang dilakukan sedikit demi sedikit selama beberapa bulan.

Sekitar 5 tahun kemudian, seorang narapidana bernama John Holtzhausen bercerita bahwa ia telah dibayar untuk mengubur emas di utara Leydsdorp dan ia adalah anggota tim penggali yang terakhir yang selamat. 

Pada 2001, suatu keluarga suku Zulu di Ermelo mengaku telah menemukan beberapa keping emas yang hilang. Tahun lalu, seorang pria lain mengaku menemukan harta di dasar bendungan Emmarentia.

Jika dua cerita itu benar, dewan kota Ermelo menduga bahwa harta itu telah dipisah-pisah dalam 3 kelompok. Tapi belum ada pembuktian bahwa 2 cerita itu memang benar.

5 dari 7 halaman

4. Harta Karun Tsar

Keluarga Tsar Nicholas II pada 1914. (Sumber Library of Congress)

Keluarga ningrat Rusia dikait-kaitkan dengan penindasan, konspirasi, dan kemerosotan. Tidak heran jika Tsar Nicholas II pun dituding mencuri harta karun senilai miliaran dolar ketika pecah Revolusi Bolshevik pada 1917.

Suatu teori menyebutkan bahwa harta yang sebagian besar berupa emas itu disembunyikan di lorong-lorong kita Omsk di Siberia yang saat itu menjadi ibu kota secara de facto selama revolusi.

Kota itu memang memiliki jejaring lorong bawah tanah yang luas dan emas memang diketahui dipindahkan saat revolusi, sehingga teori ini masih dapat diterima nalar.

Pada 2001, ada dugaan bahwa emas itu mungkin disembunyikan di bawah rumah Mathilda Kshesinskaya di St Petersburg. Ia adalah seorang balerina yang menjadi selingkuhan Tsar saat itu. Tapi eksvakasi di rumah itu tidak membawa hasil, walaupun mungkin harta karun itu bisa saja telah dipindahkan sebelum wanita itu meninggal pada 1971.

Teori ke-3 menduga harta itu tenggelam bersama dengan RMS Republic, kapal Irlandia yang tenggelam di lepas pantai Nantucket. Menurut teori ini, emas itu secara rahasia dikirim oleh Prancis kepada Tsar, tapi kapal RMS Republic mengalami tabrakan dan tenggelam. Bangkai kapal itu ditemukan pada 1981, tapi, beberapa tahun kemudian, suatu pencarian selama 74 hari tidak menemukan apapun.

Terakhir, sebuah teori lain menduga emas itu dibawa dengan kereta trans-Siberia tapi kereta itu tenggela di Danau Baikal, sebuah danau tertua dan terdalam sedunia. Pernah ada upaya ekskavasi, tapi gagal menemukan kereta itu.

6 dari 7 halaman

5. Mahkota Permata Pantai Gading

Ilustrasi harta karun Afrika, termasuk dari Pantai Gading, di Cleveland Museum of Art. (Sumber Wikimedia Commons/Daderot untuk ranah pub)

Pada 2010, negara Pantai Gading melakukan pemilu pertama setelah 10 tahun lamanya. Petahana Gbagbo berhadapan dengan calon populer Alassane Ouattara. Ketika Gbagbo dinyatakan sebagai pemenang, negeri itu dilanda kerusuhan yang dikenal sebagai Krisis Pantai Gading 2010-2011.

Walau krisis hanya sebentar dan Ouattara tampak seperti tokoh yang menjanjikan perubahan sehingga terpilih lagi 5 tahun kemudian, ternyata konflik itu mahal harganya dengan raibnya Mahkota Permata Pantai Gading.

Ketika perang sipil melanda negeri itu, bahkan dengan intervensi PBB dan Prancis, lebih dari 80 benda dari Museum Peradaban, termasuk topeng, kalung, dan artifak keagamaan senilai sekitar US$ 6 juta hilang. Kerugian lebih besar justru dari segi budaya.

Biasanya, mahkota permata diwariskan turun-temurun, tapi koleksi Pantai Gading menjadi perlambang beberapa kerajaan dan dinasti, sehingga pencurian itu benar-benar menyesakkan dada. Interpol telah berupaya melacak benda-benda itu di pasar gelap, tapi belum berhasil hingga sekarang.

7 dari 7 halaman

6. Awa Maru

MV Awa Maru. (Sumber Wikipedia)

Kapal perang Jepang bernama Awa Maru pada mulanya dirancang menjadi kapal penumpang yang dibangun pada masa Perang Dunia II. Menjelang akhir perang, pihak AS khawatir bahwa tentara Sekutu yang ditawan menjadi terbengkalai di Jepang. Bukan karena alasan pembinasaan massal, tapi karena Jepang kehabisan sumber daya dan akan mengutamakan warga mereka sendiri.

Swiss kemudian menjadi penengah antara dua pihak sehingga kemudian AS mengirimkan pasokan darurat dan mengijinkan kapal-kapal Jepang melintas tanpa dibom.

Melihat ada kesempatan mengubah jalannya perang, pihak Jepang membangun kapal yang jauh lebih besar dari keperluan agar bisa memasok bahan mentah, menyelamatkan para warga paling cerdas, dan menyembunyikan koleksi harta seperti emas dan karya seni.

Cuaca buruk menghalangi tersebarnya perintah penghentian bom kepada seluruh kapal AS sehingga USS Queenfish melancarkan serangan torpedo terhadap Awa Maru pada 1945. Dari 2004 penumpang, hanya satu yang selamat.

Pihak AS merahasiakan lokasi tenggelamnya kapal itu, tapi dokumen itu kemudian dibuka dan menguak bahwa kapal tersebut tenggelam di perairan China. Pada 1970-an, ekspedisi China dengan dana puluhan juta dolar mencoba mencarinya walaupun sia-sia.

Harta di dalamnya mencakup gading, logam mulia, permata, dan artifak bersejarah, dengan taksiran nilai antara US$ 5 hingga 10 juta.

Loading