Sukses

Pasca-Bom Gereja Mesir, Intel Israel Prediksi Serangan Lanjutan

Liputan6.com, Tel Aviv - Khawatir akan serangan lanjutan, Israel menutup perbatasannya dengan Mesir, pascaledakan bom di Gereja Koptik di Alexandria dan Tanta, Minggu, 9 April 2017 lalu.

Menteri Intelijen Israel Yisrael Katz mengumumkan, penutupan perbatasan yang menghubungkan kota Taba, Mesir, dengan kota Eilat, Israel hingga 18 April 2017.

Dua kota yang dekat dengan Laut Merah itu merupakan wilayah perbatasan Israel-Mesir yang paling ramai dilewati para pelintas batas.

Meski ditutup, warga negara Israel di Mesir yang akan kembali ke negaranya tetap diizinkan melintasi perbatasan itu. Akan tetapi, mereka dilarang untuk masuk ke wilayah Mesir hingga batas waktu yang sudah ditentukan.

Langkah itu dilakukan setelah Kementerian Intelijen menerima laporan peringatan dari badan antiteror Israel.

Badan tersebut memprediksi kemungkinan serangan lanjutan yang akan menargetkan pelancong Israel --khususnya mereka yang bepergian ke wilayah Sinai, Mesir, dalam rangka perayaan minggu keagamaan Yahudi, Passover (Pesach).

Kini, Kementerian Intelijen dan badan anti teror Israel semakin mengkhawatirkan aktivitas teroris yang berafiliasi dengan ISIS di wilayah Sinai, Mesir. Kekhawatiran yang sama pada wilayah itu juga sudah dirasakan dua lembaga tersebut selama beberapa bulan terakhir.

"Kami mengkhawatirkan situasi dan aktivitas menegangkan di sana," kata Katz seperti yang dikutip USA Today, Selasa, (11/4/2017).

Pada Minggu, 9 April 2017 lalu, sebuah ledakan bom terjadi di dalam Gereja St. George Koptik, Kota Tanta, Kairo Utara saat jemaah tengah merayakan Minggu Palma menjelang Paskah. Insiden itu menewaskan 21 orang dan membuat 50 orang luka-luka.

Pada lokasi dan waktu yang hampir berdekatan, ledakan bom kedua berlangsung di Gereja St Mark Alexandria. Pada insiden kedua, bom meledak di depan gerbang rumah ibadah. Ledakan itu mengakibatkan 17 orang tewas dan sekitar 41 orang luka-luka.

Pasca insiden, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sissi beserta kabinetnya menetapkan status darurat negara selama 3 bulan, serta memerintahkan aparat penegak hukum untuk melakukan segala tindakan yang dianggap perlu untuk merespons serangan nahas di Negeri Piramida itu.