Pengadilan Cile Selidiki Pembatalan Peringatan Tsunami

Pengadilan Cile berencana menyelidiki penyebab pembatalan dini peringatan tsunami setelah Cile diguncang gempa dahsyat 27 Februari lalu. Sehingga tsunami menewaskan ratusan orang dan harta benda bernilai puluhan juta dolar lenyap.

Diterbitkan 17 Maret 2010, 19:54 WIB
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Santiago: Pengadilan Cile berencana menyelidiki penyebab pembatalan dini peringatan tsunami setelah Cile diguncang gempa dahsyat 27 Februari lalu. Sehingga tsunami menewaskan sekitar 500 orang dan harta benda dan infrastruktur bernilai puluhan juta dolar lenyap. Demikian dikatakan Mahkamah Agung Selasa (16/3) sebagaimana dikutip situs Xinhua.

Hasil penyidikan sementara menyebutkan Badan Oseanografi Angkatan Laut Cile atau (SHOA) dan badan pengelolaan darurat mengeluarkan peringatan tsunami setelah gempa berkekuatan 8,8 SR terjadi. Namun, peringatan malah dibatalkan satu jam kemudian. Akibatnya ketika gelombang tsunami menghantam beberapa desa, ratusan nyawa manusia tidak dapat diselamatkan.

Jaksa Agung Cile Sabas Chahuan, mengatakan "Temuan fakta bahwa peringatan tsunami dibatalkan tidak sesuai prosedur menjadi dasar penyelidikan dimulai". Chahuan menambahkan, "pihak pengadilan berharap penyedidikan bisa segera dilakukan." Sementara mantan kepala badan manajemen darurat, Carmen Fernandez, mengatakan informasi dari badan intelijen pasca gempa, sangat samar dan tidak akurat sehingga tidak ada yang berani memutuskan mengeluarkan peringatan tsunami.

Sedangkan Komandan Kepala Angkatan Laut, Edmundo Gonzalez mengakui informasi SHOA kepada presiden "sangat tidak jelas." Bahkan ketika Presiden Michelle Bachelet menelepon dua jam paska gempa, angkatan laut tidak bisa menjawab apakah peringatan tsunami masih diperlukan.

Sumber Xinhua menyebutkan Kepala SHOA, Mariano Rojas, dipecat dari jabatan kurang dari seminggu setelah gempa, sedangkan  kepala badan managemen darurat, Carmen Fernandez, mengundurkan diri 10 Maret lalu.(AYB)