Sukses

Obama Merasa Terhina Jika Warga Kulit Hitam AS Tak Pilih Hillary

Liputan6.com, Washington DC - Para petinggi Partai Demokrat mulai ketar-ketir dengan lunturnya dukungan warga kulit hitam AS pada Hillary Clinton.

Untuk menjawab kekhawatiran itu, Presiden AS Barack Obama--yang juga dari Demokrat--turun tangan. Ia menggelar kampanye pribadi terhadap Hillary dengan tajuk "Ini tentang saya".

Dalam pidatonya yang digelar pada akhir pekan lalu, Obama mempertimbangkan adalah sebuah penghinaan bagi pribadi Obama jika warga Afrika-Amerika tidak memilih Hillary Clinton.

"Nama saya jelas tak ada di kertas suara. Tapi masa depan kita semua ada di situ," kata Obama di depan Congressional Black Caucus Foundation, seperti dikutip New York Times, Selasa (20/9/2016).

"Toleransi ada di kertas suara. Demokrasi ada di kertas suara. Keadilan ada di kertas suara," katanya.

Kendati Obama memang telah menyatakan sebagai pendukung Hillary, pernyataannya pada pekan lalu jelas lebih pribadi.

Pernyataan tersebut diharapkan dapat menarik pemilih muda, kulit hitam, dan Latin. Demokrat berharap dapat mendapatkan 100 persen suara dari kelompok tersebut pada pilpres 8 November mendatang.

Pidato itu membuat hadirin yang hadir terpukau. Salah satunya adalah Donna Brazile, ketua interim Democratic National Committe.

"Pidatonya jelas membius kami dan menjangkau ke luar ruangan. Yang ingin Presiden katakan adalah, 'jangan tinggalkan perjuangan yang telah kita mulai,'" kata Brazile.

Selama kampanye Demokrat, Nyonya Clinton memang menikmati dukungan dari pemilih Afrika-Amerika, terutama dari warga senior perempuan.

Di antara suara kulit hitam, Hillary mendapat suara 83 persen jika dibandingkan dengan pesaingnya, Donald Trump. Angka itu didapat dari survei terakhir New York Times/CBS News.

Namun, banyak petinggi Demokrat mengatakan keuntungan statistik Nyonya Clinton mengaburkan kekhawatiran tentang jumlah pemilih  yang sesungguhnya dan mereka yang apatis.

Pemilih hitam kaum muda, khususnya, telah menyatakan keraguan tentang Hillary karena beberapa kebijakan yang diambil pemerintahan suaminya, Bill Clinton.

Pemilih tersebut secara khusus menunjuk ke Undang-Undang Tahun 1994 oleh Bill Clinton tentang kejahatan yang menempatkan petugas polisi lebih banyak di jalanan.

Selain itu, sulit bagi Hillary untuk meniru kasih sayang pribadi yang mendalam seperti yang ditunjukkan Obama. Dan tentunya, tak ada kebanggaan Afrika-Amerika yang melekat ada diri Hillary, berbeda dengan Obama.

"Orang-orang mengatakan, 'Tidak masalah karena Hillary Clinton akan mendapatkan 90 persen suara Afrika-Amerika,'" kata Charlie King, seorang terkemuka Demokrat dari New York. "Pertanyaannya adalah, 'Sembilan puluh persen dari apa?" Jumlah suara membuat perbedaan."