Sukses

Jaga Puing Air Algerie, Pemerintah Prancis Siagakan Militer

Liputan6.com, Mali - Puing-puing pesawat Air Algerie dari saat ini masih tersebar di beberapa lokasi, sejak ditemukan di Mali, Afrika Barat. Untuk menjaganya, pemerintah Prancis pun mengirimkan sebuah unit militer ke lokasi kecelakaan itu untuk bersiaga.

"Puing-puing telah jelas diidentifikasi meskipun terpisah-pisah," demikian informasi yang diposting di situs Presiden Francois Hollande seperti dikutip dari Fox News, Jumat (25/7/2014).

Pesan itu dimuat setelah para pejabat Prancis membenarkan dua jet tempurnya telah berada di lokasi reruntuhan.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Prancis Bernard Cazeneuve menuturkan bahwa penyebab jatuhnya Air Algerie tak menutup kemungkinan akibat terorisme. Meskipun ia percaya hal itu terjadi karena cuaca buruk.

"Kami pikir pesawat itu jatuh karena kondisi cuaca, tetapi tidak ada hipotesis pengecualian selama kita belum memiliki hasil penyelidikan," kata Bernard di Radio RTL.

"Kelompok-kelompok teroris berada di zonanya... Kita tahu kelompok ini memusuhi kepentingan Barat," sambungnya.

Kantor berita resmi Aljazair memberitakan, layanan navigasi udara kehilangan kontak dari Swiftair MD-83 sekitar 50 menit setelah lepas landas dari Ougadougou, ibukota Burkina Faso, pada Rabu pukul 9.55 (ET).

Para pejabat di Burkina Faso kemudian mengatakan, jasad manusia dan puing-puing terbakar telah ditemukan, sekitar 30 mil dari perbatasan Burkina Faso dekat Desa Boulikessi di Mali.

"Kami menyuruh orang, dengan persetujuan pemerintah Mali, ke situs itu. Dan mereka menemukan reruntuhan pesawat dengan bantuan penduduk daerah," kata Jenderal Gilbert Diendere, seorang pembantu dekat Presiden Burkina Faso Blaise Compaore yang juga kepala komite krisis untuk menyelidiki penerbangan.

Setelah pertemuan, Hollande juga mengumumkan bahwa salah satu dari dua kotak hitam pesawat telah ditemukan di reruntuhan, di wilayah Gossi dekat perbatasan Burkina Faso. Kini telah dibawa ke kota utara Mali, Gao.

Burung besi McDonnell Douglas MD-83 itu membawa penumpang dari berbagai negara. Menurut daftar penumpang, 51 di antaranya dari Prancis, 27 dari Burkina Faso, 8 Lebanon, 6 Aljazair, 5 Kanada, 4 Jerman, 2 Luxemburg. Sementara sisanya dari Swiss, Belgia, Mesir, Ukraina, Nigeria, Kamerun dan Mali.

Menurut serikat pilot Spanyol, enam awak semuanya berasal dari Negeri Matador.

Akibat insiden kecelakaan Air Algerie itu, otoritas Burkina Faso juga membentuk unit krisis di Bandara di Ouagadougou untuk memperbarui data untuk keluarga penumpang pesawat.

Menurut berita yang beredar, jalur penerbangan pesawat dari Ouagadougou ibukota Burkina Faso ke Aljir belum jelas. Ougadougou berada di garis hampir lurus ke arah selatan Aljazair, melewati Mali yang sedang dilanda konflik.

"Pesawat mengirimkan pesan terakhirnya sekitar pukul 09.30 ET, meminta kontrol udara Nigeria untuk mengubah rute karena hujan lebat di daerah tersebut," kata Ouedraogo.

Seorang sumber juga mengatakan kepada Sky News bahwa pesawat diminta untuk mengalihkan jalurnya untuk menghindari pesawat lain.

Perdana Menteri Aljazair Abdelmalek Sellal mengungkapkan dalam sebuah penyataan yang ditayangkan televisi pemerintah Aljazair, 10 menit sebelum menghilang Air Algerie melakukan kontak dengan pengawas lalu lintas udara di Gao. (Ein)

Baca Juga:

Pesawat Aljazair Berpenumpang 116 Jatuh karena Tersambar Petir?

Pesawat Aljazair Berpenumpang 110 Orang Jatuh

Air Algerie, 2 Jet Prancis Dikerahkan

Pesawat Air Algerie Ditemukan di Mali, 116 Orang Dipastikan Tewas