Malapetaka di Balik Proyek Ambisius China: Meratakan Gunung

Para kontraktor tergesa-gesa memangkas tinggi gunung tanpa pikir panjang. Apalagi memikirkan dampaknya bagi lingkungan.

Diterbitkan 05 Juni 2014, 17:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - China adalah negara dengan penduduk terbesar di dunia. Pada tahun 2014, jumlahnya mencapai 1,35 miliar. Tiongkok terus berusaha mengimbangi warganya yang terus bertumbuh dan perekonomian yang makin pesat, termasuk dengan membuat proyek-proyek pembangunan ambisius.

Kali ini bukan membangun gedung tinggi, membuat dam raksasa, atau menghijaukan Gurun Sahara. Tiongkok dilaporkan sedang meratakan gunung -- secara harfiah-- untuk menciptakan lahan rata.

Idenya sederhana: memangkas puncak gunung dan menggunakan tanahnya untuk mengisi lembah di bawahnya sehingga menciptakan permukaan rata.

Jurnal sains dan lingkungan Nature melaporkan, puluhan kilometer persegi tanah datar telah dibuat di Chongqing, Shiyan, Yichang, Lanzhou, dan Yan'an.

Di Lanzhou saja, ada perusahaan yang menargetkan pembentukan lahan 250 kilometer persegi. Dengan cara meratakan 700 gunung.

Tak hanya memberi ruang bagi penduduknya, lahan yang baru itu juga diharapkan akan menghasilkan miliaran renminbi, mata uang Tiongkok, lewat penjualan tanah atau sewa. Juga untuk memperluas pertanian.

(Foto: penambahan tanah di Shiyan)



Tapi semua tidak sesederhana kedengarannya. Menurut Nature, para kontraktor tergesa-gesa mengerjakan proyek tanpa pikir panjang.

"Konsekuensi dari program sama sekali tak dipikirkan terlebih dahulu -- secara ekonomi, teknis, juga lingkungan. Hanya sedikit sekali modelling untuk merumuskan keuntungan dan risiko penciptaan tanah seperti ini," demikian artikel yang dimuat Nature, seperti Liputan6.com kutip dari News.com.au, Kamis (5/6/2014).

Di Yan'an misalnya, puncak-puncak gunung di sana terdiri atas timbunan debu hasil tiupan angin yang menebal selama jutaan tahun. Fakta itu baru ditemukan 3 bulan setelah proyek dikerjakan. Nature mendeskripsikan 'tanah lunak tersebut bisa mengendap saat hujan, membuat struktur di atasnya kolaps.'

Tak hanya menyebabkan kerugian ekonomi, tapi juga bisa membahayakan nyawa. Pengerjaan proyek juga menghasilkan kepulan debu yang menyesakkan dada. Para pekerja tak membasahi tanah sebelum memulai pekerjaan.

"Proyek penciptaan lahan telah menyebabkan polusi udara dan air, longsor, dan bencana geologi seperti tanah yang tiba-tiba ambrol. Mereka menghancurkan hutan, lahan pertanian, juga membahayakan hewan dan tumbuhan," jelas Nature.

Padahal bencana lingkungan pada akhirnya akan merugikan manusia.



"Proyek penciptaan lahan baru di China mengabaikan aturan lingkungan hidup karena pemerintah lokal lebih memilih peluang mengeruk uang daripada melindungi lingkungan."

Juga belum ada bukti bahwa meratakan gunung akan membawa keuntungan. Perkiraan biaya US$ 6 miliar selama 10 tahun baru akan impas selama beberapa dekade. Tanah yang lunak membutuhkan waktu setidaknya 10 tahun untuk stabilitasi sebelum pembangunan bisa dilakukan. Jadi, para investor bisa kehilangan kesabaran sebelum balik modal.

Untuk memperbaiki situasi dan kondisi, tak hanya butuh mengalosikan dana untuk membiayai riset para geolog dan ahli geologi perairan -- juga perlu bekerja sama dengan badan internasional yang punya keahlian khusus.

Pemerintah setempat juga harus bekerja sama dengan para ahli ekonomi untuk menelaah apakah proyek akan menguntungkan secara finansial. Sebelum nekat menghancurkan sebuah gunung. (Sss)