Sharon, Arsitek Invasi Israel ke Lebanon

Ariel Sharon memprakarsai operasi pencaplokan wilayah Palestina pada 1967. Saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Israel, Sharon juga mengirim tentara Israel ke Beirut, Lebanon.

Diterbitkan 06 Agustus 2006, 18:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Tel Aviv: Konflik di Timur Tengah seolah tidak akan pernah berakhir. Sejak pendirian Israel pada 1948 di tanah Palestina, perang terus berkecamuk. Sedikitnya, empat kali Israel terlibat perang besar melawan negara Arab. Tak terhitung pula perang kecil melawan kelompok pejuang seperti Hizbullah dan Hamas.

Dalam setiap perang, nama Ariel Sharon senantiasa melekat. Mantan Perdana Menteri Israel ini memimpin sejumlah operasi militer. Pada 1967, Sharon memprakarsai operasi pencaplokan sejumlah wilayah Palestina seperti Jerusalem Timur, Jalur Gaza, Tepi Barat, Semenanjung Sinai, dan Dataran Tinggi Golan.

Sifat keras kepala dan kekerasan hati terhadap warga Palestina kerap ditunjukkan Sharon selama kariernya. Pada 1982, Sharon yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan Israel, dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas pembantaian warga Palestina di Sabra dan Atilla [baca: Pergolakan Sepanjang Masa di Timur Tengah].

Saat menjabat sebagai Menhan, dia juga mengirim tentara Israel ke Beirut. Sharon mengerahkan serdadu perang tanpa izin Perdana Menteri Israel. Tindakan ini berakibat terusirnya Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pimpinan Yasser Arafat dari Lebanon.

Namun demikian, upaya perundingan tidak pernah berhenti. Berbagai langkah damai diupayakan mulai dari perjanjian Camp David (1978), Madrid Conference (1991), hingga Oslo (1993). Perundingan yang fenomenal adalah pemberlakuan peta jalan damai buatan Amerika Serikat. Rencana damai tersebut mengharuskan semua pemukim Israel keluar dari wilayah Jalur Gaza dan sebagian Tepi Barat.

Sayang, perjanjian itu berakhir dengan perang. Israel selalu mengingkarinya. Demikian juga dengan kelompok pejuang Timur Tengah yang bersikeras melenyapkan Israel dari peta dunia. Situasi diperparah dengan lemahnya Perserikan Bangsa-Bangsa. Dan, banyaknya kepentingan negara lain terhadap wilayah kaya minyak ini membuat konflik Timur Tengah seakan tidak pernah berakhir.

Situasi terakhir, Israel menyerang Lebanon dengan dalih menciptakan kawasan bebas Hizbullah. Hingga hari ke-26, intensitas serangan Israel belum turun. Sepanjang hari, serangan udara dan darat Israel menggempur Kota Pelabuhan Tyre dan lembah Beeka. Tindakan ini dibalas dengan serangan 170 roket Hizbullah ke wilayah utara Israel [baca: Israel Memandang Remeh PBB].(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)