Penyebab Plasenta Previa dan Gejalanya, Ketahui Faktor Risikonya

Pelajari penyebab plasenta previa, faktor risiko, gejala, dan cara penanganannya. Informasi lengkap untuk ibu hamil agar waspada terhadap kondisi ini.

Diterbitkan 14 Maret 2025, 10:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Daftar Isi

Liputan6.com, Jakarta Plasenta previa merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang perlu diwaspadai. Kondisi ini terjadi ketika plasenta menempel di bagian bawah rahim dan menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir. Meski penyebab pastinya belum diketahui, ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya plasenta previa. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang penyebab, faktor risiko, gejala, diagnosis, serta penanganan plasenta previa.

Pengertian Plasenta Previa

Plasenta previa adalah kondisi di mana plasenta menempel di bagian bawah rahim dan menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir (serviks). Plasenta merupakan organ yang sangat penting selama kehamilan karena berfungsi menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin. Pada kehamilan normal, plasenta biasanya menempel di bagian atas atau samping rahim.

Namun pada kasus plasenta previa, posisi plasenta yang berada di bawah dapat menimbulkan beberapa risiko, antara lain:

  • Perdarahan hebat selama kehamilan atau persalinan
  • Gangguan suplai oksigen dan nutrisi ke janin
  • Persalinan prematur
  • Komplikasi pada ibu dan bayi

Oleh karena itu, pemahaman tentang penyebab dan faktor risiko plasenta previa sangat penting agar ibu hamil dapat lebih waspada dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Penyebab Plasenta Previa

Meskipun penyebab pasti plasenta previa belum diketahui secara jelas, ada beberapa teori dan faktor yang diduga berperan dalam terjadinya kondisi ini:

1. Perubahan Struktur Rahim

Salah satu teori menyebutkan bahwa perubahan struktur rahim dapat mempengaruhi penempatan plasenta. Bekas luka pada rahim akibat operasi sebelumnya, seperti operasi caesar atau pengangkatan miom, dapat menyebabkan plasenta menempel di area yang tidak normal.

2. Gangguan Vaskularisasi Rahim

Gangguan pada pembuluh darah di rahim juga dapat mempengaruhi penempatan plasenta. Kondisi seperti endometriosis atau infeksi rahim sebelumnya mungkin menyebabkan perubahan pada vaskularisasi rahim, sehingga plasenta cenderung menempel di bagian bawah.

3. Faktor Genetik

Beberapa penelitian menunjukkan adanya kecenderungan genetik untuk mengalami plasenta previa. Wanita yang memiliki riwayat keluarga dengan plasenta previa mungkin memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kondisi yang sama.

4. Implantasi Blastosis yang Abnormal

Proses implantasi blastosis (sel telur yang telah dibuahi) yang tidak normal pada awal kehamilan juga dapat menyebabkan plasenta previa. Jika blastosis menempel terlalu rendah di rahim, plasenta yang berkembang kemungkinan besar akan menutupi serviks.

5. Perubahan Hormonal

Ketidakseimbangan hormon selama kehamilan juga diduga dapat mempengaruhi penempatan plasenta. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami hubungan antara perubahan hormonal dan plasenta previa.

Faktor Risiko Plasenta Previa

Meskipun penyebab pasti plasenta previa belum diketahui, ada beberapa faktor risiko yang telah diidentifikasi. Memahami faktor-faktor ini dapat membantu ibu hamil dan tenaga medis untuk lebih waspada terhadap kemungkinan terjadinya plasenta previa:

1. Usia Ibu

Wanita yang berusia di atas 35 tahun memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami plasenta previa. Hal ini mungkin berkaitan dengan perubahan struktur rahim seiring bertambahnya usia. Selain itu, wanita yang hamil di usia lebih tua juga cenderung memiliki riwayat kehamilan atau prosedur medis sebelumnya yang dapat meningkatkan risiko.

2. Riwayat Kehamilan Sebelumnya

Wanita yang pernah mengalami plasenta previa pada kehamilan sebelumnya memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya lagi. Selain itu, semakin banyak jumlah kehamilan yang pernah dialami, semakin tinggi pula risiko terjadinya plasenta previa. Hal ini mungkin berkaitan dengan perubahan struktur rahim setelah beberapa kali kehamilan.

3. Riwayat Operasi Rahim

Wanita yang pernah menjalani operasi pada rahim, seperti operasi caesar, pengangkatan miom, atau kuretase, memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami plasenta previa. Bekas luka pada rahim dapat mempengaruhi penempatan plasenta pada kehamilan berikutnya.

4. Kehamilan Kembar

Kehamilan kembar atau kehamilan ganda lainnya meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa. Hal ini mungkin disebabkan oleh kebutuhan nutrisi yang lebih besar dan ukuran plasenta yang lebih besar pada kehamilan kembar.

5. Merokok dan Penggunaan Narkoba

Wanita yang merokok atau menggunakan narkoba selama kehamilan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami plasenta previa. Zat-zat berbahaya dalam rokok dan narkoba dapat mempengaruhi perkembangan plasenta dan pembuluh darah di rahim.

6. Bentuk Rahim yang Tidak Normal

Kelainan bentuk rahim, seperti rahim bikornuat (rahim berbentuk hati) atau septum uteri (sekat pada rahim), dapat meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa. Bentuk rahim yang tidak normal dapat mempengaruhi penempatan dan perkembangan plasenta.

7. Riwayat Keguguran

Wanita yang pernah mengalami keguguran, terutama yang berulang, memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami plasenta previa pada kehamilan berikutnya. Hal ini mungkin berkaitan dengan perubahan pada dinding rahim akibat keguguran sebelumnya.

8. Fertilisasi In Vitro (IVF)

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kehamilan yang dihasilkan melalui prosedur fertilisasi in vitro (IVF) memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami plasenta previa. Hal ini mungkin berkaitan dengan cara implantasi embrio pada prosedur IVF.

Gejala Plasenta Previa

Mengenali gejala plasenta previa sangat penting agar ibu hamil dapat segera mencari bantuan medis. Berikut adalah gejala-gejala yang perlu diwaspadai:

1. Perdarahan Vagina

Gejala utama plasenta previa adalah perdarahan vagina yang terjadi tanpa rasa sakit. Perdarahan ini biasanya terjadi pada trimester kedua atau ketiga kehamilan. Karakteristik perdarahan pada plasenta previa antara lain:

  • Warna darah merah cerah
  • Jumlah perdarahan bervariasi, dari sedikit hingga banyak
  • Dapat terjadi secara tiba-tiba dan berulang
  • Tidak disertai rasa nyeri

Penting untuk diingat bahwa tidak semua kasus plasenta previa menimbulkan perdarahan. Beberapa wanita mungkin tidak mengalami gejala sama sekali hingga mendekati waktu persalinan.

2. Kontraksi Rahim

Meskipun jarang, beberapa wanita dengan plasenta previa mungkin mengalami kontraksi rahim yang tidak normal. Kontraksi ini biasanya ringan dan tidak teratur, berbeda dengan kontraksi persalinan yang lebih kuat dan teratur.

3. Nyeri Perut

Dalam beberapa kasus, plasenta previa dapat menyebabkan rasa tidak nyaman atau nyeri ringan di bagian bawah perut. Namun, nyeri yang intens atau kram yang kuat bukan merupakan gejala khas plasenta previa dan mungkin menandakan masalah lain yang memerlukan perhatian medis segera.

4. Posisi Janin yang Tidak Normal

Plasenta previa dapat mempengaruhi posisi janin dalam rahim. Beberapa wanita mungkin menyadari bahwa posisi janin mereka tidak normal, misalnya posisi sungsang atau melintang. Namun, hal ini biasanya diketahui melalui pemeriksaan rutin oleh dokter atau bidan.

5. Anemia

Jika terjadi perdarahan yang berulang atau berkelanjutan, wanita dengan plasenta previa mungkin mengalami anemia. Gejala anemia meliputi kelelahan, pucat, sesak napas, dan pusing.

Diagnosis Plasenta Previa

Diagnosis plasenta previa umumnya dilakukan melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG). Berikut adalah langkah-langkah dalam mendiagnosis plasenta previa:

1. Pemeriksaan USG Rutin

Sebagian besar kasus plasenta previa terdeteksi selama pemeriksaan USG rutin pada trimester kedua, sekitar minggu ke-18 hingga ke-20 kehamilan. Pada tahap ini, dokter dapat melihat posisi plasenta dalam rahim.

2. USG Transvaginal

Jika ada kecurigaan plasenta previa, dokter mungkin akan melakukan USG transvaginal untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang posisi plasenta terhadap serviks. USG transvaginal lebih akurat dalam mendiagnosis plasenta previa dibandingkan USG transabdominal.

3. USG Lanjutan

Jika plasenta previa terdeteksi pada awal kehamilan, dokter biasanya akan merekomendasikan pemeriksaan USG lanjutan pada trimester ketiga. Hal ini karena posisi plasenta dapat berubah seiring pertumbuhan rahim.

4. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Dalam beberapa kasus, terutama jika ada kecurigaan plasenta akreta (kondisi di mana plasenta menempel terlalu dalam ke dinding rahim), dokter mungkin merekomendasikan pemeriksaan MRI untuk mendapatkan gambaran yang lebih detail.

5. Pemeriksaan Fisik

Dokter akan menghindari pemeriksaan dalam (vaginal) jika ada kecurigaan plasenta previa untuk mencegah risiko perdarahan. Namun, pemeriksaan fisik luar tetap dilakukan untuk menilai ukuran rahim dan posisi janin.

6. Pemeriksaan Darah

Dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan darah untuk mengecek kadar hemoglobin dan faktor pembekuan darah, terutama jika ada riwayat perdarahan.

Penanganan Plasenta Previa

Penanganan plasenta previa tergantung pada beberapa faktor, termasuk usia kehamilan, tingkat keparahan perdarahan, dan kondisi ibu serta janin. Berikut adalah beberapa pendekatan yang mungkin diambil dalam menangani plasenta previa:

1. Pemantauan Ketat

Jika plasenta previa terdeteksi pada awal kehamilan dan tidak ada perdarahan, dokter biasanya akan merekomendasikan pemantauan ketat. Ini meliputi:

  • Pemeriksaan USG berkala untuk memantau posisi plasenta
  • Pemeriksaan rutin untuk memantau kondisi ibu dan janin
  • Edukasi tentang tanda-tanda bahaya yang perlu diwaspadai

2. Istirahat dan Pembatasan Aktivitas

Untuk mencegah perdarahan, dokter mungkin menyarankan:

  • Istirahat di tempat tidur (bed rest)
  • Menghindari aktivitas berat
  • Menghindari hubungan seksual
  • Menghindari perjalanan jauh

3. Penanganan Perdarahan

Jika terjadi perdarahan, penanganan tergantung pada tingkat keparahannya:

  • Perdarahan ringan: mungkin cukup dengan istirahat dan pemantauan di rumah sakit
  • Perdarahan sedang hingga berat: mungkin memerlukan rawat inap, transfusi darah, dan persiapan untuk persalinan darurat jika diperlukan

4. Pemberian Kortikosteroid

Jika ada risiko persalinan prematur, dokter mungkin memberikan suntikan kortikosteroid untuk mempercepat pematangan paru-paru janin.

5. Persalinan Caesar

Pada sebagian besar kasus plasenta previa, persalinan dilakukan melalui operasi caesar. Waktu persalinan tergantung pada beberapa faktor:

  • Jika kondisi stabil dan tidak ada perdarahan: persalinan mungkin dijadwalkan pada usia kehamilan 36-37 minggu
  • Jika terjadi perdarahan hebat atau komplikasi lain: persalinan darurat mungkin diperlukan, terlepas dari usia kehamilan

6. Penanganan Pasca Persalinan

Setelah persalinan, penanganan meliputi:

  • Pemantauan ketat terhadap perdarahan
  • Pemberian uterotonika untuk membantu rahim berkontraksi
  • Transfusi darah jika diperlukan
  • Perawatan intensif jika terjadi komplikasi

7. Penanganan Plasenta Akreta

Jika plasenta previa disertai dengan plasenta akreta (plasenta menempel terlalu dalam ke dinding rahim), penanganan mungkin melibatkan:

  • Tim multidisiplin yang terdiri dari ahli kandungan, ahli bedah, ahli anestesi, dan spesialis lain
  • Persiapan untuk kemungkinan histerektomi (pengangkatan rahim)
  • Teknik khusus seperti embolisasi arteri uterina untuk mengurangi perdarahan

Pencegahan Plasenta Previa

Meskipun tidak ada cara pasti untuk mencegah plasenta previa, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risiko:

1. Berhenti Merokok

Merokok meningkatkan risiko plasenta previa. Berhenti merokok sebelum dan selama kehamilan dapat membantu mengurangi risiko ini.

2. Hindari Penggunaan Narkoba

Penggunaan narkoba, terutama kokain, dikaitkan dengan peningkatan risiko plasenta previa. Menghindari penggunaan narkoba sangat penting untuk kesehatan ibu dan janin.

3. Jaga Jarak Antar Kehamilan

Memberikan waktu yang cukup antara kehamilan (minimal 18 bulan) dapat membantu rahim pulih sepenuhnya dan mengurangi risiko komplikasi pada kehamilan berikutnya.

4. Kontrol Berat Badan

Menjaga berat badan yang sehat sebelum dan selama kehamilan dapat membantu mengurangi risiko berbagai komplikasi kehamilan, termasuk plasenta previa.

5. Perawatan Prenatal yang Teratur

Pemeriksaan kehamilan secara teratur memungkinkan deteksi dini dan penanganan yang tepat jika terjadi masalah.

6. Hindari Trauma pada Perut

Berhati-hati untuk menghindari cedera pada perut, seperti jatuh atau kecelakaan, yang dapat mempengaruhi posisi plasenta.

7. Konsultasi Sebelum Kehamilan

Bagi wanita dengan riwayat operasi rahim atau plasenta previa sebelumnya, konsultasi dengan dokter sebelum merencanakan kehamilan dapat membantu mengidentifikasi dan mengelola risiko.

Mitos dan Fakta Seputar Plasenta Previa

Ada beberapa mitos yang beredar di masyarakat tentang plasenta previa. Mari kita bahas mitos dan fakta seputar kondisi ini:

Mitos 1: Plasenta previa selalu menyebabkan perdarahan hebat

Fakta: Meskipun perdarahan adalah gejala umum, tidak semua kasus plasenta previa menyebabkan perdarahan hebat. Beberapa wanita mungkin hanya mengalami bercak darah ringan atau bahkan tidak ada perdarahan sama sekali.

Mitos 2: Plasenta previa selalu memerlukan operasi caesar darurat

Fakta: Meskipun sebagian besar kasus plasenta previa memang memerlukan operasi caesar, tidak selalu harus dilakukan secara darurat. Jika kondisi stabil, operasi caesar dapat dijadwalkan pada usia kehamilan yang aman.

Mitos 3: Wanita dengan plasenta previa tidak boleh berolahraga sama sekali

Fakta: Meskipun aktivitas berat harus dihindari, olahraga ringan seperti berjalan santai mungkin masih diperbolehkan tergantung pada kondisi individual. Selalu konsultasikan dengan dokter tentang aktivitas yang aman.

Mitos 4: Plasenta previa pasti akan terulang pada kehamilan berikutnya

Fakta: Meskipun riwayat plasenta previa meningkatkan risiko pada kehamilan berikutnya, tidak berarti kondisi ini pasti akan terulang. Banyak wanita yang mengalami kehamilan normal setelah sebelumnya mengalami plasenta previa.

Mitos 5: Plasenta previa selalu terdeteksi pada awal kehamilan

Fakta: Meskipun pemeriksaan USG rutin dapat mendeteksi plasenta previa sejak dini, posisi plasenta dapat berubah seiring pertumbuhan rahim. Beberapa kasus baru terdiagnosis pada trimester ketiga.

Kapan Harus ke Dokter?

Bagi ibu hamil, penting untuk mengetahui kapan harus segera mencari bantuan medis terkait dengan kemungkinan plasenta previa. Berikut adalah situasi-situasi yang memerlukan perhatian medis segera:

1. Perdarahan Vagina

Jika Anda mengalami perdarahan vagina selama kehamilan, terutama pada trimester kedua atau ketiga, segera hubungi dokter atau kunjungi unit gawat darurat. Perdarahan pada plasenta previa bisa ringan atau berat, dan bahkan perdarahan ringan perlu dievaluasi.

2. Nyeri Perut yang Intens

Meskipun plasenta previa umumnya tidak menyebabkan nyeri, nyeri perut yang intens bisa menandakan komplikasi lain yang memerlukan perhatian medis segera.

3. Kontraksi yang Tidak Normal

Jika Anda merasakan kontraksi yang tidak normal, terutama jika disertai dengan perdarahan, segera hubungi dokter Anda.

4. Gejala Anemia

Jika Anda mengalami gejala anemia seperti kelelahan ekstrem, pusing, atau sesak napas, terutama setelah episode perdarahan, segera konsultasikan dengan dokter.

5. Perubahan Gerakan Janin

Jika Anda merasakan penurunan atau perubahan signifikan dalam gerakan janin, segera hubungi dokter Anda.

6. Setelah Trauma Fisik

Jika Anda mengalami cedera fisik, seperti jatuh atau kecelakaan kendaraan, segera cari evaluasi medis, terutama jika Anda memiliki faktor risiko plasenta previa.

7. Tanda-tanda Syok

Jika Anda mengalami gejala syok seperti pusing hebat, kulit pucat dan dingin, atau detak jantung cepat, segera cari bantuan medis darurat.

Kesimpulan

Plasenta previa merupakan komplikasi kehamilan yang serius namun dapat ditangani dengan baik jika terdeteksi dan ditangani secara tepat. Meskipun penyebab pastinya belum diketahui, pemahaman tentang faktor risiko dan gejala dapat membantu dalam deteksi dini dan penanganan yang tepat.

Bagi ibu hamil, penting untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin dan segera mencari bantuan medis jika mengalami gejala yang mencurigakan. Dengan penanganan yang tepat, sebagian besar wanita dengan plasenta previa dapat melalui kehamilan dan persalinan dengan aman.

Ingatlah bahwa setiap kehamilan adalah unik, dan penanganan plasenta previa akan disesuaikan dengan kondisi individual. Selalu konsultasikan dengan dokter atau bidan Anda untuk mendapatkan perawatan yang paling sesuai dengan kondisi Anda.