Disabilitas Netra Tak Hentikan Langkah Arif Prasetyo Raih Beasiswa LPDP

Kisah perjuangan penyandang disabilitas netra Arif Prasetyo raih beasiswa LPDP dan suarakan nilai inklusi.

Diterbitkan 09 April 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Arif Prasetyo adalah penyandang disabilitas netra peraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Kondisi disabilitasnya telah ia sandang sejak lahir. Ibu, ayah, dan sebagian saudaranya juga menyandang kondisi serupa. Hanya satu adiknya yang terlahir tanpa kondisi tersebut dan kini bekerja di toko emas kawasan Wonosari, Yogyakarta.

Sejak kecil, Arif tumbuh dalam keterbatasan ekonomi dan akses, ayahnya menggantungkan hidup sebagai pengamen di Malioboro. Sementara, ibunya bekerja sebagai tukang pijat. Seiring waktu, keduanya harus menjalani hidup secara terpisah, menambah kompleksitas perjalanan keluarga asal Ngawen, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dalam keterbatasan ekonomi dan kondisi keluarga yang tidak mudah, mereka tetap berusaha bertahan, masing-masing dengan caranya sendiri.

Masa kecil Arif pun tak lepas dari pengalaman pahit diskriminasi. Ia pernah ditolak oleh dua sekolah dasar di sekitar tempat tinggalnya, dengan alasan belum memiliki kesiapan untuk menerima siswa disabilitas. Penolakan itu bukan sekadar menutup akses pendidikan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa jalan yang harus ia tempuh akan berbeda dan lebih panjang.

Sejak kecil, Arif harus berpisah dari rumah untuk bersekolah di sebuah SDLB di Kota Yogyakarta, tinggal di asrama, dan belajar mandiri jauh dari keluarga. Di usia yang seharusnya dipenuhi kehangatan rumah, ia justru ditempa oleh jarak, keterbatasan, dan tuntutan untuk bertahan.

Jawab Diskriminasi dengan Prestasi

Meski demikian, sosok periang ini memilih cara yang baik untuk menjawab diskriminasi, yakni dengan karya dan prestasi.

Setiap kali ia pulang ke Ngawen, setidaknya ia membawa satu piala dan dipajang di ruang tamu, menunjukkan kepada sekitar bahwa kondisi disabilitas tak menjadi halangan untuk berprestasi.

“Saya pajang di ruang tamu supaya apa? Supaya setiap orang yang datang ke rumah, bisa mengetahui bahwa kondisi saya ini hanyalah fisiknya saja yang mengalami hambatan, tapi untuk berprestasi, untuk belajar, semua orang itu sama,” tegasnya mengutip laman LPDP, Rabu (8/4/2026).

Menciptakan Jalan Sendiri

Perjalanan pendidikan Arif tak pernah berjalan di jalur yang mudah. Saat menempuh studi S1 Sosiologi di UIN Sunan Kalijaga, ia mendapatkan dukungan melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Namun, bantuan itu belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Di tengah kesibukan kuliah, Arif berjualan parfum laundry dari kamar kosnya, sebuah upaya sederhana yang menjadi penopang kemandiriannya sekaligus bukti bahwa keterbatasan tak pernah menghalanginya untuk terus berusaha.

Keinginannya untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi membawanya pada tantangan yang tak kalah berat. Arif mendaftar Beasiswa LPDP Afirmasi Disabilitas untuk program Magister Manajemen Pendidikan Islam. Namun saat itu, persyaratan skor bahasa Inggris masih diberlakukan tanpa pengecualian, bahkan bagi pendaftar disabilitas netra. Ia pun harus berhadapan dengan kenyataan pahit, ditolak oleh beberapa lembaga penyedia tes TOEFL di Yogyakarta yang belum siap mengakomodasi kebutuhan peserta disabilitas.

Tak menyerah pada keadaan, Arif memilih mencari jalan lain. Ia mendaftar ke lembaga tes yang berbeda tanpa terlebih dahulu menjelaskan kondisinya. Meski sempat menghadapi penolakan, kehadirannya justru mendorong lembaga tersebut untuk mulai menyesuaikan sistem dan metode ujian agar lebih inklusif.

Dari ruang ujian yang awalnya terasa tertutup, Arif berhasil membuktikan kemampuannya. Ia lulus tes TOEFL, melampaui batas yang sempat menghalanginya, dan pada akhirnya berhasil lolos seleksi Beasiswa LPDP, membuka babak baru dalam perjalanan pendidikannya.

“Disabilitas itu banyak banget yang belum bisa meraih pendidikan tinggi, nah hadirnya LPDP membuat saya dan teman-teman disabilitas lainnya bisa meraih mimpi, bisa melanjutkan pendidikan tinggi, dan akhirnya teman-teman disabilitas bisa menikmati pendidikan yang setara,” ungkapnya.

Suarakan Nilai Inklusif

Perjalanan Arif tak berhenti pada capaian akademik. Ia memilih menjadikan pengalamannya sebagai pijakan untuk berkontribusi, menguatkan sesama, sekaligus mendorong perubahan yang lebih luas. Arif aktif dalam berbagai komunitas yang berfokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas, menghadirkan ruang-ruang yang lebih inklusif di tengah masyarakat.

Salah satu inisiatifnya adalah kegiatan walking tour, mengajak masyarakat dan pemangku kebijakan mengunjungi ruang publik seperti taman kota dan museum dari perspektif disabilitas. Melalui pengalaman langsung itu, Arif ingin menunjukkan bahwa inklusivitas bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan nyata yang harus diwujudkan dalam fasilitas publik.

Ia juga terlibat dalam komunitas sutradara film disabilitas Sat Adhirajasa, yang menjadi ruang kolaborasi bagi penyandang disabilitas dan nondisabilitas dalam berkarya di bidang film, akting, dan penulisan skenario, menciptakan karya yang setara sekaligus membuka akses representasi yang lebih luas.

Di sisi lain, Arif menyalurkan kecintaannya pada seni melalui band dan paduan suara, membuktikan bahwa ekspresi kreatif tak mengenal batas fisik. Ia juga menggagas Braille School, sebuah inisiatif untuk mengenalkan huruf Braille kepada masyarakat umum, agar literasi Braille tak hanya dimiliki oleh penyandang disabilitas netra, tetapi dipahami oleh semua. Melalui komunitas Braillient Indonesia, Arif turut aktif dalam pendampingan belajar, peningkatan kemampuan bahasa Inggris, hingga produksi audiobook. Dari gerakan ini, ia berhasil menggalang dan menyalurkan 276 paket Iqro serta 20 paket Al-Qur’an Braille, sebuah upaya nyata agar penyandang disabilitas netra dapat menjalankan ibadah dengan akses yang setara.

Bagi Arif, inklusi bukan sekadar konsep, melainkan gerakan yang harus terus dihidupkan melalui karya, kolaborasi, dan keberanian untuk membuka jalan bagi yang lain.

“Saya kerap tersandung, terjatuh, bahkan terluka. Bagi saya yang disabilitas, menjalani perjuangan ini jujur tidak mudah. Namun ini tetap saya jalani sepenuh hati, menjaga nyala semangat dan tak kehilangan harap,” pungkasnya.