Liputan6.com, Jakarta Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengajak tokoh lintas agama untuk turut serta dalam edukasi masyarakat terkait penyandang disabilitas. Gus Ipul menjelaskan bahwa forum keagamaan bisa menjadi wadah penting untuk menyebarkan pesan inklusi.
“Sehingga agama terlibat gitu, bukan hanya KND (Komisi Nasional Disabilitas), tapi semua terlibat dalam melayani penyandang disabilitas,” ujar Gus Ipul mengutip laman Kemensos.
Menurutnya, pemahaman publik tentang disabilitas harus terus diperluas, agar masyarakat tidak hanya melihat keterbatasan, tetapi juga potensi yang dimiliki penyandang disabilitas.
Advertisement
Dengan dukungan tokoh agama, diharapkan masyarakat lebih menerima dan peduli, sehingga tercipta lingkungan yang ramah disabilitas. Hal itu Gus Ipul sampaikan saat menghadiri Diskusi Terpumpun Sosialisasi Fiqih Disabilitas Psikososial di Jakarta Timur, Rabu (17/9/2025).
Cara Pandang Masyarakat
Hal senada juga disampaikan Komisioner Komnas Perempuan, Bahrul Fuad atau Cak Fu. Ia mengatakan bahwa tantangan teman-teman disabilitas salah satunya adalah cara pandang masyarakat.
“Yang sebenarnya menjadi persoalan yang dihadapi oleh teman-teman disabilitas itu justru ada di luarnya, yaitu lingkungan yang tidak aksesibel dan juga sikap atau cara pandang masyarakat,” ungkapnya.
Ia berharap ke depan pemerintah dan berbagai pihak bisa lebih fokus menciptakan lingkungan ramah disabilitas.
Upaya ini tidak hanya melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga edukasi publik tentang cara memperlakukan penyandang disabilitas secara manusiawi dan setara.
15 Juta Penyandang Disabilitas di Indonesia
Dalam kesempatan itu, Gus Ipul menyoroti pentingnya pemanfaatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk memastikan program tepat sasaran.
Berdasarkan data, terdapat lebih dari 15 juta penyandang disabilitas di Indonesia yang terbagi dalam desil 1 hingga 10.
“Ada fisik, mental, intelektual, sensorik rungu, sensorik wicara, sensorik netra, ganda atau multi, nah ini semuanya kira-kira 15 juta,” jelas Gus Ipul mengutip laman resmi Kemensos.
Menurut Gus Ipul, dengan adanya pembagian data sesuai desil, pemerintah bisa lebih fokus memberikan layanan kepada kelompok paling rentan.
“Nanti tentu pada akhirnya kita fokus pada mereka yang di desil 1, 2, 3, dan 4,” katanya.
Ia juga mengajak tokoh agama untuk aktif menyampaikan pesan inklusi kepada masyarakat.
“Sehingga agama terlibat gitu, bukan hanya KND, tapi semua terlibat dalam melayani penyandang disabilitas,” ujarnya.
Advertisement
Pentingnya Data Tunggal untuk Layanan Disabilitas
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/3470415/original/084744400_1622601002-IMG20200103114901.jpg)
Gus Ipul menjelaska bahwa layanan disabilitas tidak bisa dilepaskan dari data yang akurat. DTSEN dinilai penting untuk memastikan layanan tepat sasaran, mengingat penyandang disabilitas memiliki latar belakang ekonomi yang berbeda.
“Ada penyandang disabilitas yang kaya, ada yang cukup secara ekonomi, dan ada juga yang masih kekurangan. Nah ini nanti menjadi pertimbangan kita dalam mengambil keputusan,” jelasnya.
Dengan klasifikasi ini, pemerintah bisa memprioritaskan program kepada kelompok paling membutuhkan, khususnya pada desil 1 sampai 4.
Pemanfaatan DTSEN juga diharapkan bisa mencegah tumpang tindih program serta mempercepat integrasi layanan sosial.
Peran Tokoh Agama dalam Edukasi Publik
Kemensos mengajak tokoh lintas agama untuk turut serta dalam edukasi masyarakat terkait penyandang disabilitas. Gus Ipul menjelaskan bahwa forum keagamaan bisa menjadi wadah penting untuk menyebarkan pesan inklusi.
“Sehingga agama terlibat gitu, bukan hanya KND, tapi semua terlibat dalam melayani penyandang disabilitas,” ujarnya.
Menurutnya, pemahaman publik tentang disabilitas harus terus diperluas, agar masyarakat tidak hanya melihat keterbatasan, tetapi juga potensi yang dimiliki penyandang disabilitas.
Dengan dukungan tokoh agama, diharapkan masyarakat lebih menerima dan peduli, sehingga tercipta lingkungan yang ramah disabilitas.
Advertisement
Lingkungan Ramah Disabilitas Masih Jadi Tantangan
Komisioner Komnas Perempuan, Bahrul Fuad atau Cak Fu, menyebutkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada kondisi internal penyandang disabilitas, tetapi juga faktor eksternal.
“Yang sebenarnya menjadi persoalan yang dihadapi oleh teman-teman disabilitas itu justru ada di luarnya, yaitu lingkungan yang tidak aksesibel dan juga sikap atau cara pandang masyarakat,” ungkapnya.
Ia berharap ke depan pemerintah dan berbagai pihak bisa lebih fokus menciptakan lingkungan ramah disabilitas.
Upaya ini tidak hanya melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga edukasi publik tentang cara memperlakukan penyandang disabilitas secara manusiawi dan setara.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5335590/original/069107300_1756798807-WhatsApp_Image_2025-09-02_at_12.37.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8369442/original/037177900_1782246021-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9076838/original/076638200_1783028282-000_B8H386V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9072363/original/048211400_1783026161-000_B9476UW.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9072362/original/069449700_1783026157-000_B94788B.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8411138/original/071923000_1782295017-leao.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264052/original/051981800_1782069590-Spain_s_Lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260345/original/097053600_1781587471-spanyol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261027/original/025366000_1781675161-AP26168084988387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782310/original/007849800_1782882803-selly.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782357/original/057831900_1782883984-Cek_fakta-_disabilitas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8527115/original/025368300_1782457926-Raperda_disabilitas.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5460317/original/093831200_1767244905-akses_pks.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8675019/original/069826800_1782717168-gabriel.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8343931/original/025487100_1782216594-Arief__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528998/original/044771700_1782460758-mandiri.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5393796/original/064028000_1761614138-Pesantren_Rauhul_Mudi_Al_Aziziyah_Aceh.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8464541/original/094182000_1782365325-transformasi_digital.jpg)