Sukses

Pesulap Tunanetra Tak Menyangka Bisa Ajarkan Trik Menarik pada Anak Difabel

Liputan6.com, Jakarta Seorang pesulap tunanetra membuat takjub anak-anak penyandang disabilitas lain. Saat ia mengunjungi Tallahassee dan tampil di Cap City Video Lounge Sunday, acaranya dinikmati oleh semua orang. 

“Saya sebenarnya belajar sendiri dan melatih diri saya untuk mengajarkan sulap bagi penyandang tunanetra atau orang-orang dengan gangguan penglihatan. Jadi mereka benar-benar dapat merasakan apa yang saya lakukan,” kata sang pesulap, Ryan Fox, dilansir dari WCTV.

Fox kehilangan penglihatannya pada usia 9 tahun karena tumor otak, yang membuatnya memiliki rentang gerak yang terbatas.

Saat itulah ia mulai mempelajari trik sulap untuk membantunya mendapatkan kembali keterampilan motoriknya.

"Ibuku benar-benar memberiku perlengkapan sulap. Kami hanya tidak tahu bahwa 27 tahun kemudian, saya akan melakukannya secara profesional," kata Fox.

Ia akhirnya mendapatkan kembali mobilitasnya, tetapi tidak pernah mendapatkan kembali penglihatannya.

“Tidak banyak individu tunanetra, yang melakukan hal seperti ini. Jadi fakta bahwa mereka dapat mengetahui bahwa apa pun disabilitas atau keterbatasan yang Anda miliki, Anda dapat melakukan hal-hal luar biasa ini dan adil, bahkan mereka dapat menginspirasi,” kata Terrence Snider, konselor program.

“Ini membuat saya menyadari bahwa segala sesuatu mungkin terjadi selama Anda berusaha cukup keras,” kata salah satu peserta kamp Kuilee Stephens.

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Fox menjadi inspirasi anak-anak tunanetra

 

Bagi banyak dari anak-anak ini, Fox adalah inspirasi. Semua anak melihat bahwa perjuangan Fox bisa tersampaikan kepada anak-anak.

“Apakah Anda kehilangan penglihatan Anda di usia muda atau usia yang lebih tua, itu tidak berarti bahwa itu sudah berakhir. Ini baru saja dimulai. Anda hanya perlu bekerja lebih keras untuk mencapai tujuan yang Anda inginkan.”

Seorang pembuat film tunanetra lokal sedang membuat film dokumenter tentang Fox dan juga membuat buku anak-anak tentang kisah Fox bekerja sama dengan sekolah tunanetra setempat.

 

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Degenerasi makula menjadi salah satu penyebab disabilitas netra

Degenerasi makula atau Age-related Macular Degenerations (AMD) merupakan salah satu penyakit mata yang menyerang bagian retina, khususnya pada area makula. Secara global, diperkirakan AMD menyerang sekitar 8,7 persen populasi penduduk dunia yang berusia lebih dari 50 tahun. 

 “Makula, area berukuran lima milimeter di tengah retina, merupakan lapisan saraf pada dinding bola mata yang berfungsi menerima cahaya. Makula berperan penting sebagai penglihatan sentral dan mengidentifikasi warna,” papar Dr. Elvioza, SpM(K), Ketua Retina Service dan Dokter Spesialis Mata JEC Eye Hospitals & Clinics mengutip keterangan pers.

Ia menambahkan, adanya gangguan pada struktur makula berdampak sangat besar pada kualitas penglihatan.

Penderita AMD lazim mengalami penglihatan buram atau gelap yang mulai muncul dari tengah lapang pandang. Kondisi ini tentu mempengaruhinya dalam membaca, menyetir kendaraan, menulis, bahkan mengenali wajah orang.

4 dari 4 halaman

Masalah kornea

Selain degenerasi makula, masalah kesehatan mata lain yang perlu ditangani dengan serius adalah kelainan kornea.

Hingga 2020, sekitar 35 juta orang di Indonesia mengalami gangguan penglihatan.  Dari jumlah tersebut, 3,7 juta orang mengalami disabilitas netra, termasuk akibat kelainan kornea.

Data World Health Organization (WHO) menyebut kelainan kornea sebagai penyebab disabilitas netra terbesar keempat di dunia setelah katarak, glaukoma, dan degenerasi makula.

Menurut Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), diperkirakan 1 per 1.000 orang penduduk Indonesia menyandang disabilitas netra akibat kelainan kornea. Dengan kata lain, sebanyak 270 ribu dari 270 jiwa masyarakat Indonesia mengalami disabilitas netra karena hilangnya transparansi yang merupakan sifat dasar dari kornea.