Sukses

Punya Usaha Kopi, Guru SLB di Garut Ajarkan Keterampilan Barista pada Siswa Disabilitas

Liputan6.com, Jakarta Siswa-siswi penyandang disabilitas membutuhkan pelatihan keterampilan yang bermanfaat untuk kehidupan ekonominya di masa depan. Salah satu keterampilan yang dapat diajarkan pada siswa disabilitas adalah terkait pengolahan kopi.

Salah satu sekolah yang menerapkan pelatihan keterampilan mengolah kopi adalah Sekolah Luar Biasa Bagian A (Tunanetra) Yayasan Karya Bhakti (SLB A YKB) Kabupaten Garut. Menurut guru sekaligus instruktur keterampilan di SLB itu, Deffi Jamatin Budiprawira, keterampilan mengolah kopi cocok diajarkan pada siswa disabilitas.

“Pelatihan roasting kopi menurut saya sangat cocok bagi tunanetra karena di mana pun bisa dilakukan dan dalam segi penjualan relatif mudah,” ujar Deffi kepada Disabilitas Liputan6.com melalui pesan teks, Selasa (19/7/2022).

Ia pun menceritakan bahwa ide memberikan pelatihan kopi ke siswa diawali dengan sebuah kebingungan.

“Awalnya saya bingung harus memberi keterampilan apa, kebetulan saya bergerak di usaha kopi sehingga saya mencoba komunikasi dengan guru netra bisa enggak kalau diajarkan ke siswa.”

Saat itu, sekolah belum memiliki alat mengolah kopi sama sekali. Namun, ada penggorengan atau wajan yang bisa digunakan untuk menyangrai biji kopi.

“Dengan ragu-ragu saya mencoba mengajarkan (roasting kopi) dengan tidak memakai api, kemudian setelah siswa yakin baru memakai api.”

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Siswa Sudah Mahir

Pelatihan dengan alat seadanya ternyata membawa hasil baik. Hingga kini, para siswa sudah mahir memanggang kopi.

“Sampai sekarang Alhamdulillah siswa sudah mahir me-roasting kopi secara manual, dan Alhamdulillah sekarang sudah memakai mesin karena kami diberi bantuan mesin roasting oleh PT Jamkrindo.”

Pelatihan kopi ini diikuti oleh tiga siswa dengan disabilitas netra, 3 siswa disabilitas daksa, dan 3 siswa siswa penyandang tunagrahita ringan.

“Masing-masing diberikan keterampilan roasting kopi dan teknik penyeduhan kopi atau barista.”

Bagi siswa dengan disabilitas netra, pengolahan kopi memang mengandalkan penciuman, perasaan, perabaan dan pendengaran.

“Jadi kita ajarkan ke siswa tunanetra berdasarkan indera yang masih berfungsi, dan siswa tunanetra kelebihannya di penciuman sama pendengaran yang baik dan itu modal dasar sebagai roaster kopi.”

Pria usia 49 ini berharap, dengan pelatihan ini siswa-siswi disabilitas bisa mandiri dan menjadi pengusaha yang sukses. Ia pun berharap agar mereka bisa mendirikan kedai yang dikelola oleh anak-anak berkebutuhan khusus.

“Sehingga anak berkebutuhan khusus ini enggak perlu cari kerja keluar karena mereka sudah punya usaha dan menciptakan lapangan kerja sendiri.”

3 dari 4 halaman

Menjadi Guru SLB

Sebelumnya, Deffi juga menceritakan awal mula ia menjadi guru SLB. Pria yang hobi merajut ini mulai mengajar di SLB A YKB sejak 2015.

“Merasa terpanggil karena kebetulan bapak saya guru, ibu saya guru juga di SMP, kemudian anaknya satu pun enggak jadi guru. Akhirnya saya mengundurkan diri dari pekerjaan karena ada keinginan untuk mengajar. Kebetulan ada lowongan di SLB saya mulai mengabdikan diri SLB ini sampai sekarang.”

Setiap harinya, pria yang juga suka memelihara tanaman ini mengajar siswa dengan disabilitas netra. Total ada 7 siswa yang ia ajar. Selain mengajar, ia juga berperan sebagai operator sekolah dan instruktur keterampilan.

“Ngajar di SLB lebih menantang kesabaran, keuletan, tapi paling penting keikhlasan.”

Sedangkan, kendala yang ditemui selama menjadi guru SLB lebih ke aspek penjaringan siswa bukan saat proses belajar mengajar.

“Kendala yang dihadapi ketika penjaringan siswa terutama tunanetra perlu waktu untuk bisa jadi siswa karena harus meyakinkan orangtuanya. Mengajar di SLB secara umum tidak ada kendala,” katanya.

4 dari 4 halaman

Yang Paling Berkesan

Di samping kendala, pria yang akrab disapa Kang Deffi juga menyampaikan hal berkesan selama menjadi guru SLB.

“Yang paling berkesan ketika siswa berhasil mandiri dan sekolah sampai perguruan tinggi.”

Namun, tak dapat dimungkiri bahwa saat mengajar siswa disabilitas maka diperlukan kesabaran yang luar biasa. Meski begitu, minat belajar siswa-siswi SLB sebagian besar sangat tinggi dan siswa sangat aktif.

Terkait pendidikan disabilitas, data Survei Sosial-Ekonomi Nasional (Susenas) 2019 menunjukkan jumlah penyandang disabilitas di Indonesia sebesar 9,7 persen dari jumlah penduduk, atau sekitar 26 juta orang.

Namun, 3 dari 10 anak dengan disabilitas tidak pernah mengenyam pendidikan. Padahal, setiap anak berhak mengenyam pendidikan untuk maju dan meraih cita-citanya.

Menurut Staf Khusus Presiden Angkie Yudistia, seperti anak lainnya, anak penyandang disabilitas juga berhak mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu.

“Salah satu hak penyandang disabilitas adalah mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan secara inklusif dan khusus,” katanya mengutip keterangan pers Suntory Garuda Beverage, Rabu (30/2/2022).