Sukses

4 Hal yang Tak Boleh Diucapkan pada Anak ADHD Menurut Psikolog

Liputan6.com, Jakarta Psikolog klinis Ikhsan Bella Persada menyebutkan 4 hal yang tidak boleh dikatakan pada anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau spektrum autisme.

Menurutnya, ADHD adalah disabilitas yang membuat anak sulit memusatkan perhatian. Anak ADHD perlu mendapatkan perawatan klinis oleh psikolog guna mengelola gejala yang dialaminya.

Berbagai perkataan yang keliru dapat memperparah gejalanya, beberapa topik yang perlu dihindari untuk diucapkan pada anak ADHD yakni:

Menyebutnya Nakal

Orangtua dan lingkungan tidak boleh mengkritik atau melabeli bahwa kurang fokus atau sulit konsentrasi pada anak ADHD disebabkan karena mereka nakal.

“Jika kita melabeli seperti itu, anak yang mengalami ADHD tentu akan merasa minder dan tidak nyaman,” tutur Ikhsan mengutip Klikdokter, Senin (27/12/2021).

Simak Vdieo Berikut Ini

2 dari 5 halaman

Meremehkan Gejala

Menurut Ikhsan, setiap orang dapat kehilangan konsentrasi atau lupa akan suatu hal, ini mirip dengan gejala ADHD. Namun, bukan berarti dapat meremehkan atau menyepelekan kondisi tersebut.

Untuk anak dengan ADHD, gejala yang dialaminya hadir dengan intensitas yang tinggi. Gejala-gejala tersebut bahkan dapat dengan mudahnya mengganggu kehidupan sehari-hari.

Oleh sebab itu, percakapan yang perlu dihindari pada anak dengan ADHD adalah meremehkan gejala yang ia alami.

“Kadang ada orang yang menganggap bahwa gangguan fokus pada anak ADHD hanya alasan agar ia tidak belajar atau bekerja.”

“Padahal, bagi anak ADHD, gejala tersebut terjadi bukan karena mereka ingin. Tapi, karena adanya faktor saraf otak sehingga gejalanya cenderung tidak dapat dikontrol,” katanya.

3 dari 5 halaman

Percakapan Diskriminasi

Percakapan yang dapat mendiskriminasi anak ADHD, dengan mengatakan bahwa mereka berbeda, orang yang lemah, dan sebagainya juga perlu dihindari.

“Hal tersebut bisa membuat anak ADHD tidak percaya diri. Padahal, mereka berkemungkinan untuk memiliki kemampuan yang serupa dengan anak-anak non disabilitas lain seusianya,” ucap Ikhsan.

4 dari 5 halaman

Membanding-bandingkan

Ada kesalahpahaman umum bahwa anak perempuan ADHD memiliki gejala yang lebih ringan dibandingkan anak laki-laki dengan kondisi serupa.

Padahal, anak perempuan dengan ADHD berkemungkinan lebih tinggi untuk mengalami gejala yang lebih signifikan dibandingkan anak laki-laki dengan kondisi sama.

Bahkan, tak sedikit anak perempuan ADHD yang tidak terdiagnosis dengan baik sehingga pengobatan juga tak dilakukan. Hal ini berpotensi mencetuskan masalah yang jauh lebih besar.

“Atas dasar itu, hindari kata-kata yang terkesan membuat anak laki-laki dengan ADHD lebih lemah. Anda juga mesti menghindari untuk berkata-kata yang terkesan mengabaikan gejala ADHD pada anak perempuan. Hindari kata-kata yang menyiratkan bahwa ADHD berkaitan dengan pola asuh orangtua.”

Menurut Ikhsan, ADHD tidak disebabkan oleh pola asuh di rumah. Sebab, kondisi tersebut dipengaruhi oleh masalah saraf yang terjadi sejak si kecil dilahirkan.

5 dari 5 halaman

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta