Sukses

Dengan Kedipan Mata, Penyandang Disabilitas Bisa Memainkan Harpa

Liputan6.com, Jakarta Kecanggihan teknologi kini semakin memudahkan penyandang disabilitas dalam memainkan alat musik harpa.

Hal ini dibuktikan seorang wanita usia 21 tahun dengan cerebral palsy (CP), Alexandra Kerlidou yang memainkan harpa hanya dengan mengedipkan matanya.

Dilansir dari Channelnewsasia, Alexandra tidak lagi bisa menggunakan tangan ataupun berbicara karena CP. Namun ia menggunakan teknologi yang bernama "Eyeharp".

 

2 dari 5 halaman

Apa itu Eyeharp?

Eyeharp merupakan perangkat lunak digital yang dikendalikan pandangan yang memungkinkan penyandang disabilitas untuk memainkan musik, sesuatu yang mungkin sebelumnya tidak pernah terpikir mereka bisa memainkan alat musik lagi.

"Saya merasa aneh, saya tidak pernah membayangkan hal seperti itu," kata Alexandra yang menggunakan program komputer penghasil pidato, menjelaskan pengalamannya setelah mencoba Eyeharp untuk pertama kalinya di rumahnya di Lesbos.

Zacharias Vamvakousis yang menciptakan eyeharp merupakan seorang ilmuwan komputer dan musisi. Ia terinspirasi untuk membuat program setelah seorang temannya yang musisi bernama Iyra Kreta, terluka dalam kecelakaan sepeda motor sesaat sebelum mereka bermain konser bersama. Awalnya semua sudah menyerah atas musik sejak Kreta tidak bisa menggerakkan tangannya. Namun Vamvakousis terinspirasi bahwa ternyata ada kebutuhan untuk teknologi semacam ini.

Maka Vamvakousis memanfaatkan teknologi pelacakan digital, yang banyak digunakan dalam permainan, keamanan, dan kedokteran, untuk memantau gerakan mata untuk melakukan perintah. Adapun cara kerja eyeharp ini, yaitu berdasarkan mata yang tertuju pada setiap not musik yang ditempatkan pada roda di layar. Rata-rata kecepatan eyeharp dapat memainkan hingga empat not per detik. Dengan eyeharp juga dapat memainkan 25 alat musik.

 

3 dari 5 halaman

Butuh konsentrasi tinggi

Program ini membutuhkan disiplin dan konsentrasi, kata Vamvakousis. Karena kita harus menjaga mata agar tidak terlalu cepat beralih ke nada berikutnya, tetapi siswa senang ketika mereka mendengar upaya mereka berhasil.

“Kebanyakan anak-anak pertama kali mulai dengan suara gendang hanya untuk membuat kebisingan, hanya untuk berinteraksi dengan lingkungan sekarang,” kata Vamvakousis.

Vamvakousis telah mengajar program ini di sekolah kebutuhan khusus di Barcelona, ​​tempat ia belajar dan mengatakan program ini sudah diunduh oleh lebih dari 2000 orang. Karena pandemi ia saat ini mengajar secara online, kebanyakan anak-anak dengan cerebral palsy, tetapi program ini juga dirancang untuk mereka yang menderita distrofi otot, amputasi anggota badan, quadriplegia atau cedera tulang belakang.

"Saya menangis, ibunya juga," kata ayah Kerlidou, Anastasios, setelah putrinya pertama kali memainkan Eyeharp.

Alexandra, yang ingin bekerja dalam pemrograman komputer setelah menyelesaikan sekolah, menyukai lagu-lagu Yunani populer dan piano. Kecintaannya terhadap musik membuatnya merasa tidak terbayangkan jika harus hidup tanpa musik. Beruntung saat ia membutuhkan, eyeharp muncul dan membuatnya bisa memainkan alat musiknya lagi.

4 dari 5 halaman

Infografis Jakarta Terancam Genting Covid-19.

5 dari 5 halaman

Simak Video Berikut Ini: