Sukses

Peneliti: Masa Pubertas pada Down Syndrome Sama dengan Remaja Lainnya

Liputan6.com, Jakarta Masa perkembangan seksual atau pubertas adalah fase yang normal bagi setiap remaja termasuk penyandang disabilitas salah satunya Down syndrome.

Biasanya, masa pubertas pada perempuan ditandai dengan menstruasi dan pada laki-laki ditandai mimpi basah.

Namun, menurut peneliti dari Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jawa Tengah, Asri Dzikrina Istighfaroh, Suci Murti Karini, dan Arif Tri Setyanto, ada mitos yang beredar terkait perkembangan seksual remaja berkebutuhan khusus.

Menurut mereka, sebagian masyarakat menganggap bahwa remaja berkebutuhan khusus, termasuk juga Down syndrome, tidak mengalami perkembangan seksual seperti remaja pada umumnya dan tidak memiliki dorongan seksual.

“Ini mungkin menjadi salah satu penyebab kurangnya perhatian masyarakat terhadap seksualitasnya (Down syndrome),” tulis peneliti dalam jurnal Gambaran Seksualitas Pada Remaja Down Syndrome Di SLB PGRI Kecamatan Nanggulan Kabupaten Kulonprogo dikutip Rabu (13/1/2021).

Seorang ahli, Dr. William Schwab, dalam artikelnya yang diterbitkan oleh National Down Syndrome Society (NDSS) pada 2002 yang berjudul Sexuality and Down Syndrome mengatakan bahwa orang dengan Down syndrome mengalami perasaan seksual yang sama seperti orang-orang pada umumnya.

“Remaja dengan Down syndrome mengalami perubahan-perubahan saat pubertas sama seperti remaja-remaja lainnya.”

2 dari 4 halaman

Perbedaan Penyandang Down Syndrome dengan Remaja Lain

Hal yang membedakan Down syndrome dengan remaja lainnya adalah pada kecerdasan intelektualnya. Keterbatasan kognitif yang dimiliki Down syndrome akan memengaruhi proses terserapnya informasi yang masuk sehingga proses belajar akan lebih lambat.

Proses belajar yang lambat ini kemudian dapat berakibat pula pada timbulnya masalah dalam perkembangan seksualitas Down syndrome.

Bagi individu dengan masalah kognitif seperti Down syndrome, isu-isu yang paling umum seperti merawat diri, kebersihan, dan perilaku sopan biasanya diabaikan karena adanya keterbatasan pada kognitif yang dimilikinya, tulis peneliti.

Masa pubertas pada Down syndrome membawa tantangan tersendiri bagi orangtua atau pengasuh.

Munculnya perilaku-perilaku seksual pada anak Down syndrome menyebabkan ketakutan dan kegelisahan jika keterbatasan kognitif tersebut dapat menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kehamilan yang tidak diinginkan, kekerasan, eksploitasi seksual, hingga penyakit menular seksual.

Kurangnya pemahaman terhadap hal berbau seksual membuat remaja Down syndrome tidak dapat mengontrol gairah seksual. Maka dari itu, pemahaman tentang hal-hal pribadi dan batasan-batasan seks harus ditanamkan sejak dini oleh orangtua dan pengasuh.

Misal, tidak boleh buka baju sembarangan, tidak menyentuh area intim di depan orang lain, dan hal-hal sederhana namun penting lainnya.

3 dari 4 halaman

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: