Sukses

Dua Wanita dengan Gangguan Pendengaran Jadi Pramugari di Mesir

Liputan6.com, Jakarta Nourhan Saad, 22, dan Hajer Jamal, 25, menjadi pramugari pertama dengan gangguan pendengaran yang bekerja di dunia penerbangan di Arab pada penerbangan 5 November dari Kairo ke Khartoum.

Saad dan Jamal terpilih oleh Humanitarian Flights, bagian inisiatif penerbangan untuk pengalaman unik yang meningkatkan kesadaran terkait hak-hak penyandang disabilitas di dunia dan Timur Tengah. Sebelumnya, penerbangan dengan tujuan sama pada Desember tahun lalu juga tellah menampilkan seorang pramugari dengan Down Syndrome. Kedua penerbangan tersebut dilakukan menjelang Hari Penyandang Disabilitas Internasional, dilansir dari al-monitor.

Saad dan Jamal menerima pelatihan dengan awak pramugari reguler dari Sudanese Badr Airlines dan saat penerbangan lepas landas dari Bandara Internasional Kairo, mereka memberikan sambutan yang unik bagi para penumpang dengan membawakan lagu "Helwa Ya Baladi" oleh Dalida dalam bahasa isyarat.

Reda Abdel Aziz, direktur regional dari International Center for Disability Sciences (ICDS) yang berbasis di Kairo, sekaligus salah satu sponsor Humanitarian Flights, mengatakan bahwa penerbangan yang kedua yang sukses dari inisiatif tersebut mencerminkan minat besar negara Mesir terhadap hak penyandang disabilitas.

Samar Abdel Aziz, direktur eksekutif ICDS dan koordinator internasional Humanitarian Flights mengatakan bahwa penerbangan pada 5 November itu adalah yang pertama di Arab. Ia mengatakan kru mengiriminya telegram terima kasih yang ditujukan kepada Presiden Abdel Fattah al-Sisi atas upaya advokasi hak-hak penyandang disabilitas dan meningkatkan kehidupan mereka sejak ia menjabat di Mesir. Fattah mendeklarasikan tahun 2018 sebagai tahun bagi penyandang disabilitas.

Othman al-Ahmar, direktur pemasaran, penjualan dan hubungan masyarakat di Badr Airlines, mengatakan ICDS bekerja sama dengan Badr Airlines untuk mengembangkan gagasan tersebut. Ahmar menambahkan bahwa Badr Airlines mengoperasikan penerbangan tersebut untuk menghormati dan menghargai para penyandang disabilitas.

 

2 dari 4 halaman

Impian sejak kecil

Saad, yang lulus dari Ain Shams University, mengatakan “Saya menderita gangguan pendengaran. Saya mempelajari tentang kompetisi Humanitarian Flights melalui Facebook, mendaftar dan diterima. Perjalanan itu adalah kejutan yang menyenangkan dan saya senang saya dipilih untuk pengalaman ini."

"Bekerja sebagai pramugari telah menjadi impian masa kecil saya sejak saya pergi umrah ke Arab Saudi bersama ibu saya dan saya melihat pramugari beraksi di pesawat," tambahnya.

Ia mengakui penerbangan tersebut sebagai kesempatan untuk mewujudkan impiannya. Ia juga telah melakukan yang terbaik untuk memenuhi semua standar profesional dan upayanya tersebut membuahkan keberhasilan. Ia mengatakan telah dilatih sebelumnya di Cairo International Airport, oleh Badr Airlines dan ICDS tentang cara menangani penumpang.

“Saya berkomunikasi dengan penumpang di pesawat dan mereka sangat senang dengan Jamal dan saya. Hanya seorang penumpang Sudan yang keberatan ketika dia mengetahui saya tuli dan menolak untuk berbicara dengan saya. Tetapi ketika dia diberitahu tentang proyek tersebut, dia sangat senang bekerja sama. Impian saya menjadi kenyataan dengan penerbangan ini dan sejak kami mendarat, saya mencari pekerjaan tetap sebagai pramugari."

Jamal, lulusan Al-Alsun College yang sekarang belajar di Higher Institute of Dramatic Arts mengatakan, “Saya dihubungi oleh ICDS untuk mendaftar untuk berpartisipasi dalam Penerbangan Kemanusiaan dan saya terpilih. Perjalanan itu indah dan saya senang menjadi bagiannya."

“Saya selalu ingin menjadi aktris atau pembawa acara televisi. Saya telah bermain dalam dua drama dan film. Saya telah membawakan "Tahya Misr" dalam bahasa isyarat dan juga lagu-lagu lainnya. Saya berharap suatu hari saya bisa tampil bersama bintang-bintang seperti Adel Imam dan Mohamed Sobhi.”

3 dari 4 halaman

Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: