Sukses

Bahayakah Stimming pada Autisme?

Liputan6.com, Jakarta Stimming umumnya dikaitkan dengan autisme, bahkan sejumlah dokter memasukkan stimming sebagai kriteria diagnostik untuk gangguan tersebut.

Stimming merupakan kependekan dari "self-stimulation (stimulasi diri)" dan secara medis disebut sebagai perilaku "stereotip". Stimming mengacu pada gerakan tubuh, menggerakkan benda, dan mengeluarkan kata atau kalimat secara berulang. Tapi stimming memiliki tujuan, yaitu untuk sebagai salah satu cara untuk mengatur stres dan emosi, menenangkan diri atau bahkan hanya karena hal tersebut dirasa menyenangkan (meskipun beberapa orang terganggu dengan perilaku ini).

Ian Davidson, psikiater utama untuk Layanan Gangguan Spektrum Autisme Dewasa di Cheshire dan Wirral Partnership di Inggris, menjelaskan bahwa hampir semua orang pernah stimming. “Lihatlah ke sekeliling sebagian besar ruang tunggu atau rapat yang membosankan. Banyak orang yang mencoret-coret, mengetukkan jari atau pena, memindahkan ponsel. Tindakan ini biasanya digambarkan sebagai gelisah; istilah stimming berlaku jika perilakunya tidak konvensional, intens, atau berulang," kata Dr. Davidson, seperti dikutip Health.

"Seseorang dengan autisme, mereka mungkin melakukannya dengan cara yang jelas seperti mengepakkan tangan, mengayun maju mundur, atau mengulangi suara atau frasa. Mereka yang menderita skizofrenia, gangguan obsesif kompulsif, atau bahkan gangguan stres pasca trauma mungkin kerap melakukan perilaku ini," kata Philip Fizur, PsyD, psikolog klinis dari pengobatan perilaku di Cooper University Health Care di New Jersey.

Fizur mengatakan bahwa perilaku tersebut membantu mengaktifkan banyak neurotransmiter — alias bahan kimia otak — yang mengatur emosi kita. “Dopamin, serotonin, dan glutamat adalah neurotransmiter besar yang terkait dengan perilaku stimulasi diri,” jelasnya.

 

2 dari 3 halaman

Stimming tidak membahayakan

Dulu, orang yang melakukan stimming terkadang ditolong dengan terapi atau pengobatan. Namun kini sebagian besar dokter sudah mulai menerima stimming dan percaya bahwa itu tidak perlu dibatasi jika tidak membahayakan, kata Fizur.

“Efek samping obat yang digunakan untuk mengontrol stimming (seperti Serotonin Reuptake Inhibitors/SRI dan antipsikotik) dapat menyebabkan lebih banyak kerugian daripada manfaat. Jadi sebaiknya atasi masalah ini dengan modifikasi perilaku jika harus ditangani sama sekali.”

Ini menjadi masalah kontroversial, terutama saat orang autisme dipaksa untuk berhenti stimming, yang membuat mereka merasa bingung, marah, kesal, gugup, diremehkan, dan malu.

"Jika mereka cemas dan membatasi stimming maka Anda telah menghilangkan cara mereka untuk mengatasi stresor," ujar Fizur.

Adapun yang perlu Anda lakukan adalah memastikan stimmingnya tidak membahayakan diri. "Jika sudah jelas perilaku tersebut berbahaya maka akan ada memar, bekas luka, atau area lecet di tubuh,” kata Fizur.

 

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut Ini: