Sukses

Kenali 7 Mitos Disleksia (1)

Liputan6.com, Jakarta Disleksia adalah salah satu disabilitas belajar yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam membaca atau menulis. Dilansir dari theconversation, menurut Serje Robidoux seorang peneliti Macquarie University, disleksia mempengaruhi hingga 10 persen orang Australia.

Menurut Serje, ada 7 kesalahpahaman mengenai disleksia. Tujuh kesalahpahaman tersebut antara lain:

Mitos pertama, seseorang memiliki kemampuan mengeja yang buruk karena ia disleksia. Beberapa peneliti memasukkan masalah ejaan dalam definisi disleksia. Padahal, membaca dan mengeja adalah dua hal yang berbeda.

“Menurut hasil penelitian, ada orang yang pandai mengeja namun tak pandai membaca, ada juga yang pandai membaca tapi tak pandai mengeja. Sebetulnya kedua hal ini memiliki istilah berbeda yaitu dysgraphia atau keterbatasan mengeja dan disleksia sebagai keterbatasan membaca,” tulis Serje seperti dikutip dari theconversation.

Mitos kedua, seseorang memiliki masalah ini dan itu karena disleksia. Disleksia adalah masalah dalam membaca. Namun, masalah di bidang lain menjadi sangat terkait dengan disleksia sehingga cenderung disamakan. Misal, disleksia dikaitkan dengan masalah sering lupa. Padahal, kedua hal ini idak berkaitan.

2 dari 2 halaman

Tak Bisa Ditangani dengan Satu Solusi

Mitos ketiga, disleksia dirasakan sama oleh semua orang. Membaca adalah hal yang sangat kompleks dan melibatkan banyak sub keterampilan dan proses. Untuk dapat membaca seseorang harus mengidentifikasi huruf, memetakan pola huruf menjadi suara, dan mengakses pengetahuan dari memori mengenai persatuan huruf-huruf.

Disleksia bisa saja hadir dalam bentuk berbeda. Pembaca dapat memiliki kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata baru yang belum pernah dilihat. Atau kesulitan memahami apa yang dibaca.

Mitos keempat, hanya ada satu cara untuk mengatasi disleksia. Disleksia bukanlah masalah yang dapat diatasi oleh solusi tunggal. Sifat kusus setiap masalah membaca di setiap orang dapat menentukan cara penanganan masing-masing. Dibuktikan dengan identifikasi masalah membaca yang mana yang dialami. Setelah diketahui, barulah dirancang program khusus untuk mengembangkan keterampilan membaca.

Loading
Artikel Selanjutnya
Chandra Berbagi Kiat Jaga Semangat untuk Kawan Difabel
Artikel Selanjutnya
3 dari 10 Anak Disabilitas di Indonesia Tak Pernah Bersekolah