Analis Prediksi Harga Bitcoin Masih Tertekan

Harga bitcoin (BTC) mengalami kinerja mingguan terburuk sejak keruntuhan FTX.

Diterbitkan 11 Juni 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga bitcoin (BTC) menyentuh posisi di bawah US$ 60.000 atau Rp 1,07 miliar (asumsi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di 17.940) pada Jumat pekan lalu menandai pekan terburuk. Kinerja bitcoin itu terburuk sejak bursa kripto FTX milik Sam Bankman-Fried runtuh pada 2022.

Harga bitcoin kini berada di kisaran US$ 61.000. Berdasarkan data coinmarketcap.com, dikutip Kamis, (11/6/2026), harga bitcoin turun 2,24% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga bitcoin turun 8,74%. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi US$ 61.270 atau Rp 1,09 miliar.

Mengutip Yahoo Finance, analis memperingatkan, pemulihan token yang moderat mungkin terbukti jangka pendek karena kelemahan struktural terungkap.

Investor melepas dana yang diperdagangkan di bursa bitcoin atau exchange traded funds (ETF), indikator teknis telah melemah, harapan suku bunga telah bergeser, dan meskipun musim dingin kripto saat ini lebih ringan daripada sebelumnya. Namun, hal itu bisa berarti terburuk yang akan datang.

"Saya percaya masih ada penurunan lebih lanjut. Kita masih jauh dari titik terendah yang sebenarnya,” ujar salah satu pendiri Primal Fund, Griffin Ardern.

Bitcoin telah pulih sebagian setelah merosot 16% dalam sepekan, dan alami penurunan mingguan tajam sejak kebangkrutan FTX pada November 2022. Keruntuhan FTX menjadi puncak dari peristiwa yang ingin dilupakan di industri kripto. Sebelum FTX runtuh, pembubaran stablecoin TerraUSD yang telah menghapus nilai US$ 40 miliar atau Rp 717,76 triliun dan memicu serangkaian kebangkrutan perusahaan.

 

 

Tekanan Harga Bitcoin

Penurunan Bitcoin di bawah US$ 60.000 atau Rp 1,07 miliar membawa token tersebut ke level terendah sejak Oktober 2024 dan membuatnya turun lebih dari 50% dari rekor tertinggi tahun lalu di atas US$ 126.000 atau Rp 2,26 miliar. Token tersebut turun 1% menjadi sekitar US$ 61.500 atau Rp 1,10 miliar pada pukul 8:40 pagi di Singapura pada Rabu.

Penurunan harga minggu lalu sebagian disebabkan oleh perusahaan pembelian Bitcoin milik Michael Saylor, Strategy Inc., yang melepas sebagian kecil kepemilikannya. Hal itu telah merusak narasi kalau perseroan tidak akan pernah menjual.

Namun, Strategy membuat tenang pekan ini. Perusahaan tersebut mengatakan telah membeli 1.550 Bitcoin senilai sekitar US$ 101 juta atau Rp 1,8 triliun, jauh lebih besar daripada US$ 2,5 juta atau Rp 44,6 miliar yang dijualnya, tetapi kepercayaan pasar mungkin tidak akan mudah dipulihkan.

Sinyal secara teknikal telah melemah. Bitcoin pekan lalu turun di bawah rata-rata pergerakan 200 minggu, metrik yang dipantau ketat yang digunakan banyak pedagang sebagai ukuran dukungan pasar. Penembusan di bawah level tersebut dapat memperdalam kehati-hatian, karena menunjukkan bahwa reli mungkin akan dijual daripada dikejar.

Ardern mengatakan, pada titik terendah yang sebenarnya, opsi jangka panjang cenderung menunjukkan pergeseran yang lebih bullish, yang tidak terjadi sekarang.

 

Investor Mulai Ragu-Ragu

Investor sudah mulai ragu-ragu. Mereka telah menarik sekitar US$ 5,5 miliar atau Rp 98,69 triliun dari ETF Bitcoin spot yang terdaftar di AS selama 13 hari berturut-turut dengan arus keluar bersih.

Direktur Wincent, Paul Howard menggambarkan, penurunan bitcoin saat ini sebagai pasar bearish yang senyap. Hal ini karena belum terjadi keruntuhan besar seperti yang terjadi pada FTX.

“Penembusan di bawah rata-rata pergerakan 200 moving average (MA) memberikan konfirmasi penting, pasar mungkin telah memasuki fase bearish,” ujar dia.

Ia menuturkan, dengan volatilitas bitcoin yang tinggi, reli mungkin besar tidak akan berlanjut.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.