Liputan6.com, Jakarta - Pusat data menjadi bagian penting dalam pengembangan dan penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), termasuk ChatGPT dan Google Gemini.
Namun, di balik perannya yang semakin penting, pusat data juga menghadapi berbagai masalah. Fasilitas ini menghasilkan kebisingan dan membutuhkan energi dalam jumlah besar yang dapat meningkatkan emisi karbon.
Masalah tersebut semakin menjadi perhatian seiring pesatnya pembangunan pusat data dan meningkatnya penggunaan teknologi AI.
Advertisement
Dilansir dari BGR, Senin (24/8/2026), pusat data sebenarnya bukan teknologi baru. Fasilitas ini telah digunakan selama beberapa dekade, sejak era awal perkembangan komputer.
Pada awalnya, pusat data digunakan untuk menampung perangkat keras komputer mainframe berukuran besar. Seiring perkembangan teknologi, fungsi pusat data terus berubah dan semakin kompleks.
Secara sederhana, pusat data adalah ruang atau bangunan khusus yang digunakan untuk menyimpan, memproses, dan mengirimkan data.
Berbagai aktivitas sehari-hari bergantung pada pusat data. Mulai dari mengirim surel, melakukan transaksi menggunakan kartu kredit, hingga mengirimkan perintah kepada chatbot AI.
Pusat data juga dilengkapi dengan generator listrik cadangan dan koneksi internet berkecepatan tinggi. Fasilitas ini dirancang untuk beroperasi selama 24 jam tanpa henti.
Sejarah Perkembangan Pusat Data
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5162845/original/047735200_1741936947-Pusat_Data.jpeg)
Awal mula pusat data dapat ditelusuri hingga era 1950-an dan 1960-an, ketika komputer mainframe mulai digunakan.
Pada masa itu, komputer mainframe berukuran sangat besar dan biasanya beroperasi secara terpisah tanpa terhubung ke jaringan seperti sekarang.
Perubahan besar terjadi pada 1990-an seiring berkembangnya mikroprosesor dan internet. Pada periode ini, teknologi virtualisasi mulai berkembang dan mengubah cara komputer digunakan.
Melalui virtualisasi, satu perangkat fisik dapat digunakan untuk menjalankan beberapa server virtual. Teknologi ini membuat penggunaan perangkat keras menjadi lebih efisien.
Memasuki awal 2000-an, layanan penyewaan server virtual semakin terjangkau. Kondisi tersebut kemudian mendorong permintaan terhadap pusat data meningkat pesat.
Virtualisasi juga membantu membentuk sistem jaringan komputer yang lebih terpusat. Saat ini, berbagai perangkat dan layanan digital bergantung pada pusat data yang berada di berbagai lokasi.
Perkembangan pusat data terus mengikuti kebutuhan teknologi. Setelah melewati era mikroprosesor dan cloud computing, pusat data kini memasuki era baru dengan meningkatnya kebutuhan untuk menjalankan teknologi AI.
Advertisement
Jenis Pusat Data
Meski AI berkembang pesat, tidak semua pusat data dibangun khusus untuk menjalankan teknologi tersebut.
Telecommunications Industry Association (TIA) membagi pusat data ke dalam empat tingkatan atau Tier berdasarkan tingkat keandalan dan infrastrukturnya.
Pusat data Tier 1 merupakan tingkatan dasar yang menyediakan kebutuhan utama, seperti pasokan listrik dan sistem pendingin. Tingkatan yang lebih tinggi menawarkan infrastruktur dan sistem cadangan yang lebih lengkap untuk meningkatkan keandalan.
Selain berdasarkan tingkatannya, pusat data juga dapat dibedakan berdasarkan fungsi.
Pertama, pusat data telekomunikasi. Fasilitas ini mendukung jaringan komunikasi seperti internet dan layanan seluler.
Kedua, pusat data internal perusahaan. Jenis ini digunakan perusahaan seperti bank dan rumah sakit untuk mengelola data internal yang membutuhkan keamanan ekstra.
Ketiga, pusat data kripto. Fasilitas ini dirancang untuk menjalankan proses penambangan aset kripto yang membutuhkan daya komputasi besar.
Keempat, pusat data AI. Jenis ini dirancang untuk kebutuhan kecerdasan buatan. Pusat data AI umumnya digunakan untuk dua kebutuhan utama, yaitu melatih model AI dan menjalankan inferensi AI, yakni proses menghasilkan respons berdasarkan model yang telah dilatih.
Dengan semakin luasnya penggunaan AI, kebutuhan terhadap pusat data berkapasitas besar diperkirakan terus meningkat. Namun, perkembangan tersebut juga membuat konsumsi energi dan dampak lingkungan dari pusat data semakin menjadi perhatian.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329037/original/095568800_1787217508-Screenshot_2026-08-20_160444.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316905/original/064384100_1785995980-cek_fakta_luhut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309638/original/028473800_1785232963-cek_fakta_-_bansos_balita.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5526386/original/065611600_1773119349-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-10T120535.465.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1705133/original/008312700_1504951135-ilustrasi_data_center.jpg)