Strategy Alami Rugi Belum Terealisasi Rp 246 Triliun Imbas Koreksi Bitcoin

Seiring harga bitcoin (BTC) merosot berdampak terhadap kinerja keuangan Strategy pada kuartal pertama 2026.

Diterbitkan 07 April 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan pengumpul Bitcoin, Strategy Inc mencatat kerugian  yang belum terealisasi sekitar USD 14,5 miliar atau Rp 246,79 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.020) pada kuartal I 2026. Kerugian belum terealisasi ini terjadi seiring nilai kepemilikan kripto perusahaan yang dipimpin Michael Saylor menurun.

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Selasa (7/4/2026), bitcoin (BTC) anjlok lebih dari 20% dalam tiga bulan, penurunan kuartal pertama terbesar untuk bitcoin sejak 2018. Strategy memiliki lebih dari USD 50 miliar atau Rp 851,02 triliun BTC pada akhir kuartal.

Perusahaan tersebut mengadopsi standar akuntansi tahun lalu yang mengharuskan perubahan nilai wajar kepemilikan Bitcoinnya untuk tercermin dalam pendapatan, yang menyebabkan fluktuasi hasil miliaran dolar AS.

Strategy, yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, juga mengatakan telah membeli 4.871 Bitcoin dari 1 April hingga 5 April dengan harga sekitar USD 330 juta, menurut pengajuan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS pada Senin.

Akuisisi terbaru ini didanai melalui penjualan saham biasa Kelas A dan penjualan saham preferen Stretch perusahaan di pasar bebas. Harga pembelian rata-rata sekitar USD 67.700. Perusahaan yang berbasis di Tysons Corner, Virginia ini juga melaporkan keuntungan pajak tangguhan sebesar USD 2,42 miliar pada kuartal tersebut.

Penurunan harga Bitcoin sejak rekor tertingginya tahun lalu mendorong nilai kepemilikan Strategy di bawah harga pembelian rata-rata lebih dari USD 75.000 pada akhir kuartal. Bitcoin diperdagangkan mendekati USD 70.000 pada Senin sebelum mengalami penurunan.

Pada puncaknya, saham Strategy diperdagangkan jauh di atas nilai kepemilikannya, memungkinkan perusahaan untuk menerbitkan saham baru, membeli lebih banyak Bitcoin, dan mengulangi siklus tersebut.

Namun, dengan premi yang sebagian besar hilang dan pasar modal yang semakin ketat, model ini menjadi lebih sulit untuk dipertahankan. Sekarang, salah satu pendiri dan ketua eksekutif Saylor lebih mengandalkan saham preferen Stretch untuk terus mendanai pembelian.

 

Jual Saham

Menjual saham biasa untuk membeli Bitcoin akan mengurangi kepemilikan saham pemegang saham yang ada. Menerbitkan saham preferen menghindari pengurangan tersebut, tetapi menambah kewajiban tetap. Saylor telah beralih antara keduanya tergantung pada kondisi pasar dan permintaan investor.

Bulan lalu, perusahaan mengumumkan rencana untuk menjual saham biasa Kelas A senilai USD 21 miliar dan saham preferen abadi senilai USD 21 miliar melalui penawaran pasar terbuka. Saham preferen, yang diperkenalkan pada 2025, memberi Saylor cara lain untuk terus membeli tanpa mengurangi kepemilikan saham biasa lebih lanjut. Sekuritas tersebut memberikan imbal hasil tahunan 11,5% yang disesuaikan setiap bulan untuk membantu mempertahankan nilai nominal USD 100.

Agar model ini berhasil, Bitcoin harus mengalami apresiasi lebih cepat daripada akumulasi kewajiban Strategy. Perusahaan memiliki cadangan kas sekitar USD 2,25 miliar, cukup untuk menutupi bunga dan distribusi selama lebih dari dua tahun.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Strategy Beli Bitcoin Rp 26,63 Triliun, Terbesar Sepanjang 2026

Sebelumnya, Strategy membeli bitcoin (BTC) senilai USD 1,57 miliar atau Rp 26,63 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.960) pada pekan lalu. Aksi beli itu termasuk pembelian terbesar oleh Strategy pada 2026 sebesar 22.337 BTC. Hal ini seiring meningkatnya permintaan terhadap STRC, saham preferen dengan suku bunga variabelnya.

Mengutip Yahoo Finance, Selasa (17/3/2026), pekan lalu, perusahaan pembeli bitcoin ini mengumpulkan hampir USD 1,2 miliar atau Rp 20,35 triliun melalui produk yang memberikan dividen. Angka ini menandai peningkatan signifikan dibandingkan pendapatan USD 377 dari STRC pekan sebelumnya.

Perusahaan yang berbasis di Tysons Corner, Virginia ini sekarang memiliki sekitar 761.000 bitcoin, berdasarkan siaran pers. Dengan bitcoin yang baru-baru ini diperdagangkan sekitar USD 73.340 atau Rp 1,24 miliar, jumlah itu bernilai sekitar USD 55,8 miliar atau Rp 946,59 triliun, berdasarkan data CoinGecko.

Seiring bitcoin telah jatuh dalam beberapa bulan terakhir, persedian Strategy menunjukkan kerugian besar di atas kertas. Namun, seiring bitcoin yang semakin mendekati rata-rata harga pembelian sekitar USD 76.700 atau Rp 1,3 miliar, kepemilikan bitcoin perusahaan hanya turun USD 1,7 miliar pada Senin pekan ini.

Harga saham Strategy melonjak ke level tertinggi 45 hari di USD 148 pada Senin, dan baru-baru ini diperdagangkan naik 4% pada hari itu di USD 145,40, menurut Yahoo Finance. Namun, saham telah turun lebih dari 56% selama enam bulan terakhir.

Sejak STRC diluncurkan pada Juli, Strategy telah menggunakan saham preferen sebagai sumber pendanaan alternatif dibandingkan dengan saham biasa. Produk ini saat ini memberikan imbal hasil 11,5%, yang berarti pembayaran bulanan sekitar $0,9583 per STRC untuk investor.

Setelah pembelian terbaru Strategy, STRC memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD 5 miliar, yang mewakili peningkatan nilai produk sebesar 30% selama bulan lalu. Sebelumnya, salah satu pendiri dan Ketua Eksekutif Strategy menyebut STRC sebagai "momen iPhone" perusahaan.

 

Sinyal Strategy

Ketika produk diperdagangkan di atas ambang batas USD 100, Strategy telah memberi sinyal akan menerbitkan lebih banyak saham preferen untuk menjaga harga tetap stabil. Sementara itu, perusahaan dapat menggunakan hasil tersebut dan memperluas posisinya sebagai pemegang Bitcoin terbesar di dunia.

Dengan penerbitan STRC terbaru perusahaan, beban dividen Strategy telah meningkat menjadi lebih dari USD 1 miliar per bulan, menurut situs webnya. Investor sebelumnya telah meneliti keberlanjutan biaya tersebut, yang menyebabkan Strategy memperkuat cadangan kasnya sebesar USD 2,25 miliar.

Di Myriad, pasar prediksi yang dimiliki oleh perusahaan induk Decrypt, Dastan, para pedagang memperkirakan peluang 17% Strategy akan menjual Bitcoin tahun ini. Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan dengan peluang 27% sebulan yang lalu.