Survei Coinbase: 71% Investor Institusi Nilai Bitcoin Masih Undervalued

Survei Coinbase menunjukkan 71% investor institusi menilai bitcoin masih undervalued dan siap menambah aset saat harga terkoreksi.

Diterbitkan 27 Januari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mayoritas investor institusi menilai bitcoin masih berada di bawah nilai wajarnya. Hal ini terungkap dalam laporan pasar kripto kuartal I 2025 yang dirilis Coinbase pada Maret 2025.

Dalam survei tersebut, Coinbase mewawancarai 75 investor institusi dan 73 investor ritel pada periode Desember 2024 hingga Januari 2025. Hasilnya, sebanyak 71 persen investor institusi menyatakan harga bitcoin saat ini belum mencerminkan nilai fundamental dan potensi jangka panjangnya.

Dikutip dari Coinmarketcap, Selasa (17/1/2026), sentimen optimistis ini bahkan lebih tinggi dibandingkan investor ritel, di mana sekitar 60 persen responden ritel juga menilai bitcoin masih undervalued. Perbedaan pandangan ini mencerminkan semakin matangnya pendekatan investor profesional yang umumnya memiliki horizon investasi lebih panjang serta kerangka valuasi yang lebih komprehensif.

Waktu pelaksanaan survei juga dinilai krusial. Survei dilakukan setelah peristiwa halving bitcoin pada 2024 dan di tengah proses kejelasan regulasi kripto di sejumlah ekonomi besar, seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa. Dengan demikian, hasil ini mencerminkan penilaian yang lebih rasional, bukan euforia spekulatif jangka pendek.

Sejumlah faktor dinilai menjadi dasar pandangan undervalued tersebut, mulai dari meningkatnya keamanan jaringan bitcoin, perannya yang kian kuat sebagai penyimpan nilai digital, hingga korelasinya yang mulai terlepas dari saham teknologi konvensional.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Pertahankan Kepemilikan Bitcoin

Tak hanya menyoroti valuasi, laporan Coinbase juga mengulas perilaku investor saat pasar berada di bawah tekanan. Hasilnya menunjukkan keyakinan yang bahkan lebih kuat di kalangan investor institusi.

Sebanyak 80 persen investor institusi menyatakan akan mempertahankan kepemilikan bitcoin mereka atau justru membeli lebih banyak jika harga kembali terkoreksi hingga 10 persen. Temuan ini mengindikasikan adanya lapisan permintaan yang solid, yang berpotensi meredam tekanan penurunan harga di masa depan.

Dalam membaca siklus pasar, sekitar 54 persen responden—gabungan investor institusi dan ritel—menilai kondisi saat ini berada dalam fase akumulasi atau pasar bearish, bukan di puncak gelembung harga. Fase akumulasi sering kali diartikan sebagai periode ketika investor besar membangun posisi secara bertahap sebelum tren kenaikan besar terjadi.

Temuan penting lainnya menunjukkan bahwa investor kini lebih fokus pada fundamental jangka panjang dibandingkan pergerakan harga jangka pendek. Meski investor ritel masih menunjukkan kehati-hatian lebih tinggi, pergeseran pola pikir ke arah strategi jangka panjang dinilai semakin jelas.

Laporan ini juga menyoroti bagaimana kebijakan moneter global memengaruhi valuasi bitcoin. Coinbase menilai, jika bank sentral AS atau Federal Reserve memangkas suku bunga acuan sebanyak dua kali pada 2025, kondisi tersebut berpotensi menciptakan iklim yang sangat kondusif bagi aset berisiko, termasuk bitcoin.

 

Menanti Data Penting

Sejarah menunjukkan, periode suku bunga rendah dan likuiditas longgar kerap menjadi momentum positif bagi bitcoin. Pasca kebijakan moneter longgar pada 2020, harga bitcoin tercatat melonjak dari kisaran USD 10.000 hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Kini, investor institusi juga mencermati data inflasi, pernyataan The Fed, hingga pergerakan indeks dolar AS (DXY). Pelemahan dolar AS secara historis kerap menjadi sentimen positif bagi harga bitcoin.

Konteks pasar 2025 turut memperkuat optimisme tersebut. Produk Exchange-Traded Fund (ETF) bitcoin yang disetujui pada 2024 kini telah melewati beberapa kuartal perdagangan, memberikan akses yang lebih mudah dan teregulasi bagi investor institusi. Selain itu, layanan kustodian dan prime brokerage aset digital juga semakin matang.

Dari sisi fundamental, jaringan bitcoin tetap menunjukkan performa kuat. Hash rate berada di level tinggi, sementara jumlah alamat aktif dan volume transaksi terus bertumbuh. Investor institusi dinilai mengombinasikan data on-chain ini dengan analisis makroekonomi dalam menilai valuasi bitcoin.

Beberapa model valuasi yang kerap digunakan meliputi Stock-to-Flow, rasio Network Value-to-Transactions (NVT), hingga perbandingan kapitalisasi pasar bitcoin dengan emas. Jika bitcoin mampu merebut sebagian kecil saja dari kapitalisasi emas global, nilainya diproyeksikan meningkat signifikan.