Penyebab Harga Bitcoin Tembus Rekor Tertinggi Baru

Harga bitcoin (BTC) kembali menguat pada perdagangan Jumat, (11/7/2025). Ini penyebabnya

Diperbarui 11 Juli 2025, 14:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mayoritas harga kripto jajaran teratas juga menguat jelang akhir pekan ini. Bahkan harga bitcoin kembali melonjak hingga tembus rekor tertinggi. 

Berdasarkan data Coinmarketcap.com, Jumat (11/7/2025), harga bitcoin naik 6,04% dalam 24 jam terakhir. Harga bitcoin melompat 8,1% dalam sepekan terakhir. Saat ini, harga bitcoin (BTC) tembus USD 117.885 atau Rp 1,91 miliar (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.219). Seiring kenaikan harga BC itu, kapitalisasi pasar bitcoin tembus USD 2,3 triliun.

Sementara itu, harga Ethereum (ETH) melonjak 8,02% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga Ethereum meroket 17%. Saat ini, harga Ethereum berada di posisi USD 3.006,56 atau Rp 48,75 juta. 

Di antara 10 jajaran kripto, cardano (ADA) catat lonjakan terbesar dalam 14 jam terakhir. Harga ADA meroket 12,07%. Selama sepekan terakhir, harga cardano melonjak 17,91%. Harga cardano berada di posisi USD 0,6961. 

Penyebab Lonjakan Harga Bitcoin

Harga Bitcoin kembali mencatat sejarah dengan menembus level tertinggi sepanjang masa di USD 112.000 atau sekitar Rp1,81 miliar (kurs dolar AS Rp16.218) pada Kamis, 10 Juli 2025 naik hampir 3% dalam sehari 

Lonjakan harga ini dipicu oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada akhir Juli atau akhir tahun ini. 

Reli harga Bitcoin terjadi beberapa jam setelah risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Juni dirilis. Dokumen tersebut menunjukkan sebagian besar pejabat The Fed memproyeksikan akan ada setidaknya satu kali penurunan suku bunga pada 2025.

Beberapa bahkan menyatakan peluang pemangkasan suku bunga dapat dilakukan secepatnya dalam rapat 30 Juli, tergantung perkembangan data inflasi. 

"Lonjakan ini menandakan bahwa investor kripto mulai mengantisipasi pelonggaran kebijakan moneter yang dapat meningkatkan likuiditas pasar,” kata Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur seperti dikutip dari keterangan resmi, Jumat, 11 Juli 2025. 

“Level USD 112.000 menjadi area psikologis penting, dan jika momentum ini berlanjut, BTC bisa menguji level resistensi berikutnya di USD 115.000 hingga USD 118.000.” 

 

Sentimen Lainnya

Meningkatnya harapan akan penurunan suku bunga The Fed pada kuartal ketiga juga mendorong permintaan ETF spot BTC AS. Tren arus pasar ETF spot terkini berkontribusi terhadap pencapaian rekor tertinggi BTC pada 9 Juli dengan Total aliran masuk mencapai USD 80,6 juta.

Meskipun terjadi akumulasi dari investor jangka pendek dan panjang berdasarkan data on-chain, analis memperingatkan permintaan spot di bursa kripto masih cenderung lemah. 

Ini menimbulkan kekhawatiran apakah lonjakan harga dapat berkelanjutan tanpa dorongan volume yang solid dari pasar ritel. Pasar saat ini menanti dua momen penting yang akan menentukan arah selanjutnya: rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk Juni pada 11 Juli dan keputusan suku bunga The Fed pada 30 Juli. Keduanya dianggap sebagai penentu utama apakah tren pelonggaran kebijakan akan benar-benar dimulai dalam waktu dekat. 

“Data CPI akan menjadi kunci. Jika inflasi terus melandai, maka peluang pemangkasan suku bunga makin terbuka lebar dan bisa memperkuat sentimen positif terhadap aset kripto,” tutur Fyqieh. 

Namun, dinamika global juga mempengaruhi ekspektasi pasar. Risalah FOMC mencatat kekhawatiran baru terhadap tekanan inflasi akibat tarif perdagangan yang diberlakukan oleh Presiden AS, Donald Trump, terhadap beberapa negara. Meskipun Trump membantah tarif berdampak pada inflasi, sejumlah pejabat The Fed tetap memilih bersikap hati-hati. 

 

Harga Bitcoin Secara Teknikal

Secara teknikal, jika Bitcoin mampu menutup harga di atas resistensi USD 112.500, ada potensi penguatan menuju USD 115.000 hingga USD 118.000. 

Namun, jika gagal bertahan di atas zona tersebut, koreksi harga bisa terjadi dengan support terdekat di USD 110.800 dan USD 109.750. Sementara itu, indikator teknikal menunjukkan tren positif: RSI (Relative Strength Index) berada di atas level 50 dan MACD terus bergerak di zona bullish. 

Dengan semua faktor yang sedang berkembang, lonjakan harga Bitcoin ini tak hanya mencerminkan reaksi pasar terhadap kebijakan moneter, tetapi juga keyakinan baru terhadap posisi Bitcoin sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global. 

Karakteristik Utama Bitcoin

Salah satu ciri utama Bitcoin adalah desentralisasi. Artinya, Bitcoin tidak dikendalikan oleh bank sentral atau pemerintah mana pun. Hal ini memberikan kebebasan dan otonomi kepada pengguna dalam melakukan transaksi tanpa adanya campur tangan dari pihak ketiga.

Desentralisasi ini menjadi salah satu daya tarik utama Bitcoin bagi para pendukungnya. Mereka percaya bahwa sistem keuangan yang terdesentralisasi dapat memberikan alternatif yang lebih adil dan transparan dibandingkan dengan sistem keuangan tradisional.

Meskipun mengalami tekanan harga, Bitcoin tetap menjadi aset kripto yang paling banyak diperhatikan dan diperdagangkan. Para investor dan pelaku pasar terus memantau perkembangan Bitcoin untuk melihat potensi pertumbuhan dan peluang investasi di masa depan.