Gen Alpha Ikut Menentukan Belanja Keluarga, Ketahui Alasannya

Survei PwC menunjukkan Gen Alpha semakin berpengaruh dalam menentukan pilihan belanja keluarga.

Diterbitkan 08 Oktober 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anak-anak dari Generasi Alpha ternyata tidak hanya menjadi penerima keputusan belanja orang tua. Survei PwC menunjukkan kelompok usia 7–14 tahun semakin sering menyampaikan preferensi, mencari informasi produk, hingga ikut menentukan barang yang masuk ke keranjang belanja keluarga. Fenomena ini membuat posisi anak dalam proses konsumsi rumah tangga ikut berubah.

Perubahan tersebut tidak terlepas dari kedekatan Gen Alpha dengan perangkat digital. Mereka tumbuh dengan smartphone, tablet, media sosial, platform video, gaming, dan layanan digital yang sekaligus menjadi tempat menemukan berbagai produk. Informasi yang mereka temui kemudian dapat memengaruhi barang yang ingin dimiliki maupun pilihan yang disampaikan kepada orang tua. Berikut penjelasan selengkapnya yang telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (8/10).

Survei PwC Ungkap Gen Alpha Ikut Menentukan Keputusan Belanja

Survei PwC terhadap 1.004 anak berusia 7–14 tahun dan 1.009 orang tua di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 97 persen anak mengaku ikut membuat keputusan pembelian secara mandiri setidaknya pada sebagian kesempatan. Data tersebut memperlihatkan bahwa peran Gen Alpha dalam konsumsi keluarga tidak sebatas meminta barang yang mereka inginkan.

Keterlibatan tersebut bisa muncul dalam berbagai bentuk. Anak dapat menentukan merek makanan tertentu, memasukkan barang ke keranjang belanja daring yang kemudian diperiksa orang tua, atau menyampaikan pilihan ketika keluarga sedang mencari produk. Dalam konteks ini, anak menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan sebelum transaksi benar-benar dilakukan.

Campaign Middle East juga menyoroti perubahan tersebut dengan menggambarkan Gen Alpha sebagai kelompok yang sudah memiliki suara dalam menentukan apa yang dibeli keluarga meskipun sebagian besar belum memiliki penghasilan dan daya beli seperti orang dewasa. Dengan kata lain, pengaruh terhadap belanja tidak selalu sama dengan kemampuan membayar.

Pengaruh Perangkat Digital

Kedekatan dengan teknologi menjadi salah satu faktor yang membantu Gen Alpha mengenal produk dan merek sejak usia relatif muda. PwC mencatat 70 persen anak usia 7–14 tahun memiliki tablet sendiri, sedangkan 72 persen menggunakan smartphone secara rutin. Kepemilikan smartphone juga meningkat seiring usia, dari 46 persen pada kelompok 7–9 tahun menjadi 89 persen pada anak usia 13–14 tahun.

Paparan tersebut membuat aktivitas menemukan produk dapat berlangsung di luar toko fisik. Anak bisa melihat produk ketika menonton video, bermain gim, menggunakan media sosial, atau mengikuti konten hiburan. Informasi yang mereka temui kemudian dapat memengaruhi barang yang ingin dimiliki maupun rekomendasi yang diberikan kepada orang tua.

PwC mencatat anak usia 7–14 tahun menghabiskan rata-rata 3,6 jam setiap hari untuk aktivitas rekreasi di depan layar. Pada kelompok usia 13–14 tahun, sebanyak 38 persen juga mengaku menggunakan perangkat atau alat AI untuk bersenang-senang. Kondisi tersebut menunjukkan betapa eratnya hubungan Gen Alpha dengan lingkungan digital yang juga menjadi ruang bagi merek memperkenalkan produk.

Media Sosial Jadi Salah Satu Pengaruh Terbesar

Media sosial memiliki posisi penting dalam membentuk ketertarikan Gen Alpha terhadap produk. Sebanyak 61 persen responden mengatakan media sosial membuat mereka tertarik membeli sesuatu, lebih tinggi dibandingkan pengaruh teman sebaya yang berada di angka 56 persen. Sementara itu, pengaruh melihat barang langsung di toko mencapai 53 persen dan iklan televisi 48 persen.

YouTube menjadi platform yang paling rutin digunakan, dengan 68 persen Gen Alpha mengaksesnya secara reguler. Platform gaming berada di angka 54 persen, sedangkan layanan streaming mencapai 49 persen. Penggunaan TikTok juga meningkat seiring usia, dari 21 persen pada kelompok 7–9 tahun menjadi 46 persen pada anak berusia 13–14 tahun.

Pola tersebut membuat perjalanan dari konten menuju keputusan membeli menjadi semakin pendek. Produk yang awalnya ditemukan ketika menonton video atau bermain gim dapat berubah menjadi barang yang kemudian diminta kepada orang tua. Karena itu, pengaruh Gen Alpha terhadap belanja keluarga tidak selalu terjadi ketika berada di toko, melainkan bisa dimulai jauh sebelumnya ketika mereka berinteraksi dengan konten digital.

Apa yang Jadi Pilihan Gen Alpha?

Kategori makanan dan minuman menjadi produk yang paling banyak dibeli Gen Alpha, yakni 72 persen. Setelah itu terdapat mainan sebesar 57 persen dan pakaian sebesar 55 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa preferensi anak tidak hanya berkaitan dengan barang yang secara langsung ditujukan untuk mereka, tetapi juga kategori konsumsi rumah tangga sehari-hari.

Belanja produk digital juga memiliki porsi yang cukup besar. Sebanyak 53 persen anak mengatakan mereka membeli aplikasi atau unduhan satu kali, 34 persen membeli layanan berlangganan atau pass, sementara 42 persen melakukan pembelian dalam gim. Artinya, konsep belanja bagi Gen Alpha sudah mencakup barang fisik sekaligus produk dan layanan yang sepenuhnya berada di ruang digital.

Meski begitu, sumber pembayaran mereka masih banyak bergantung pada orang dewasa. Sebanyak 60 persen anak mengatakan orang dewasa membayar ketika mereka membeli sesuatu, sementara 49 persen menggunakan uang tunai. Hanya 16 persen yang menggunakan pembayaran digital atau dompet digital dan 12 persen menggunakan rekening bank atau kartu debit.

Ada Perbedaan antara Apa yang Dilakukan Anak dan yang Diketahui Orang Tua

Salah satu temuan menarik dari survei PwC adalah adanya kesenjangan antara pengakuan anak dan persepsi orang tua mengenai aktivitas belanja mandiri. Sebanyak 24 persen anak mengatakan pernah memesan barang secara mandiri melalui aplikasi atau situs belanja, sedangkan hanya 19 persen orang tua yang melaporkan hal serupa mengenai anak mereka.

Perbedaan tersebut semakin terlihat pada layanan pesan-antar makanan. Sebanyak 25 persen anak mengaku pernah memesan makanan sendiri melalui platform delivery, sementara hanya 14 persen orang tua yang mengatakan anak mereka melakukan hal tersebut. PwC mencatat terdapat selisih 11 poin persentase dalam kategori ini.

Kesenjangan itu tidak otomatis berarti salah satu pihak memberikan jawaban yang keliru. Anak mungkin menganggap dirinya memiliki pengaruh karena dapat menyampaikan pilihan dan melakukan sebagian proses belanja, sedangkan orang tua tetap melihat diri mereka sebagai pihak yang memegang keputusan akhir serta pembayaran. Perbedaan persepsi tersebut justru menunjukkan bahwa batas antara pengaruh anak dan keputusan orang tua semakin kompleks dalam transaksi digital.

Terampil Menegosiasikan Barang yang Diinginkan

Kemampuan memengaruhi keputusan keluarga juga terlihat dari cara Gen Alpha meminta sesuatu. PwC mencatat 61 persen anak memasukkan barang yang diinginkan ke dalam daftar keinginan untuk ulang tahun atau hari libur. Sebanyak 47 persen meminta barang ketika melihatnya di toko, sedangkan 44 persen langsung memintanya ketika sedang melihat-lihat secara daring.

Sebagian anak juga menggunakan strategi yang lebih terencana. Sekitar 44 persen mengatakan mereka melakukan negosiasi atau tawar-menawar, sementara 43 persen membicarakan barang yang diinginkan beberapa kali sebelum benar-benar memintanya. Pola ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap suatu produk dapat menjadi proses yang direncanakan, bukan sekadar keinginan spontan.

Kemandirian tersebut juga berkaitan dengan kemampuan memperoleh uang sendiri. Sebanyak 86 persen anak melaporkan memperoleh uang sendiri, terutama melalui pekerjaan rumah tangga sebesar 65 persen, pencapaian seperti nilai, olahraga, atau hobi sebesar 50 persen, serta pekerjaan kecil untuk orang lain sebesar 22 persen. Pada usia 13–14 tahun, 51 persen anak dilaporkan menerima lebih dari 20 dolar AS per minggu.

Gen Alpha Bukan Sekadar Konsumen, tetapi Ikut Membentuk Pilihan Keluarga

Temuan PwC memperlihatkan bahwa pengaruh Gen Alpha dalam belanja keluarga muncul dari kombinasi akses teknologi, paparan konten, kemampuan mencari informasi, serta keberanian menyampaikan preferensi. Mereka memang belum menjadi pihak utama yang membayar sebagian besar transaksi, tetapi dapat memengaruhi pilihan sebelum keputusan pembelian dibuat.

Fenomena tersebut juga menjadi perhatian dalam pemberitaan mengenai survei PwC di Indonesia, termasuk Kompas.com melalui topik Gen Alpha ikut menentukan belanja keluarga dan LensaHukum.co.id yang mengangkat pengaruh Gen Alpha terhadap belanja. Kedua pemberitaan tersebut menempatkan temuan PwC sebagai gambaran mengenai semakin besarnya keterlibatan anak dalam keputusan konsumsi keluarga.

Bagi keluarga, perubahan ini membuat proses menentukan pembelian menjadi semakin kolaboratif. Anak dapat membawa informasi dan preferensi yang mereka temukan dari dunia digital, sedangkan orang tua tetap berperan dalam mempertimbangkan kebutuhan, keamanan, anggaran, serta keputusan akhir. Di sisi lain, bagi pelaku bisnis, perubahan tersebut menunjukkan bahwa konsumen anak dapat memiliki pengaruh bahkan sebelum mereka mempunyai penghasilan sendiri. Campaign Middle East menyebut Gen Alpha mungkin belum memiliki rekening atau kartu untuk membayar sendiri, tetapi sudah semakin mampu membentuk percakapan sebelum suatu pembelian dilakukan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Gen Alpha dan Belanja Keluarga

1. Apa yang dimaksud Gen Alpha?

Gen Alpha dalam survei PwC ini merujuk pada anak-anak berusia 7–14 tahun yang menjadi responden penelitian bersama orang tua mereka.

2. Apakah Gen Alpha benar-benar ikut menentukan belanja keluarga?

Ya. Sebanyak 97 persen anak dalam survei PwC mengatakan mereka membuat keputusan pembelian secara mandiri setidaknya pada sebagian kesempatan.

3. Apa yang paling memengaruhi keinginan belanja Gen Alpha?

Media sosial menjadi salah satu pengaruh terbesar, disebut oleh 61 persen responden, disusul teman sebaya 56 persen dan melihat barang di toko 53 persen.

4. Produk apa yang paling banyak dibeli Gen Alpha?

Makanan dan minuman menjadi kategori paling populer dengan 72 persen, disusul mainan 57 persen dan pakaian 55 persen.

5. Apakah Gen Alpha sudah bisa berbelanja sendiri?

Sebagian sudah. Sebanyak 24 persen anak mengaku pernah memesan barang secara mandiri melalui aplikasi atau situs belanja, sementara 25 persen pernah memesan makanan melalui layanan pesan-antar.