Liputan6.com, Jakarta Pernahkah Anda meminjamkan uang kepada teman, tetapi justru Anda sendiri yang merasa tidak enak ketika tiba waktunya menagih? Rasa canggung seperti ini punya penjelasan ilmiah, dan menjadi inti dari pembahasan ciri orang yang sungkan menagih utang menurut psikologi.
Sikap sungkan menagih bukan sekadar soal berhati lembut atau mudah lupa, melainkan pola pikir dan emosi yang terbentuk dari kebiasaan serta pengalaman hidup. Memahaminya membantu Anda mengenali diri sendiri sekaligus lebih adil terhadap hak finansial yang seharusnya kembali.
Berdasarkan survei yang dirilis PayPal, sekitar sepertiga responden mengalami masalah utang-piutang, mulai dari menunggu berbulan-bulan hingga munculnya ketegangan dalam hubungan. Kenyataan inilah yang membuat ciri orang yang sungkan menagih utang menurut psikologi penting untuk dikenali sejak awal.
Advertisement
Apa Itu Sikap Sungkan Menagih Utang?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5317191/original/029207300_1755314565-Ilustrasi_utang__keungan.jpg)
Secara sederhana, sikap sungkan menagih utang adalah kecenderungan menahan diri untuk meminta kembali uang yang menjadi hak Anda karena merasa tidak enak menagih kepada orang terdekat, takut menyinggung, atau khawatir merusak hubungan. Dalam psikologi, pola ini erat kaitannya dengan istilah conflict avoidance, yaitu kumpulan perilaku untuk mencegah atau meredam potensi perselisihan dengan orang lain.
Memahami definisi ini penting karena membantu Anda membedakan antara kebaikan hati yang tulus dan kebiasaan mengorbankan hak sendiri. Sama seperti karakter yang tampak dari tindakan sehari-hari yang sepele, cara seseorang menyikapi utang pun mencerminkan pola psikologisnya. Ketika Anda tahu akar masalahnya, urusan utang piutang yang tadinya bikin canggung bisa disikapi dengan lebih tenang dan rasional.
Contoh sederhananya, bayangkan Anda menalangi biaya makan bersama rombongan. Uang sudah keluar dari kantong Anda, tetapi Anda memilih diam karena takut dicap perhitungan, padahal menagih adalah hal yang wajar.
Advertisement
Ciri Orang yang Sungkan Menagih Utang Menurut Psikologi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3596909/original/083215200_1633707962-Ilustrasi_Utang_atau_Pinjaman_5.jpg)
Ada beberapa tanda yang membuat seseorang selalu menunda-nunda saat harus menagih. Ciri paling menonjol adalah rasa takut pada konfrontasi; mereka membayangkan penolakan, reaksi marah, atau suasana yang mendadak kaku begitu topik uang diangkat. Alih-alih berterus terang, mereka memilih diam, memberi kode halus, atau berharap si peminjam ingat dengan sendirinya. Tak heran, banyak orang akhirnya lebih memilih menagih utang ke teman lewat sindiran ketimbang berbicara langsung.
Ciri berikutnya adalah kepribadian people-pleaser yang menempatkan kenyamanan orang lain di atas kebutuhannya sendiri. Orang tipe ini punya empati yang tinggi sehingga cepat merasa kasihan, membayangkan si peminjam sedang kesulitan, lalu urung menagih. Sebagian lagi takut dicap pelit atau matre, seakan meminta uang sendiri adalah tindakan memalukan.
Rasa bersalah yang muncul tanpa alasan jelas juga menjadi penanda. Orang yang sungkan kerap merasa seakan dirinyalah yang salah saat menagih, bukan pihak yang berutang. Inilah salah satu ciri orang yang sungkan menagih utang menurut psikologi yang jarang disadari, harga diri yang rendah membuat mereka sulit bersikap asertif dan menegakkan batasan. Ditambah anggapan bahwa membicarakan uang adalah topik tabu, mereka pun makin memilih memendam daripada bersuara.
Ciri terakhir adalah kecenderungan menghindar dan menunda. Mereka menyimpan nomor rekening yang tak pernah dikirim, menyusun pesan yang tak kunjung terkirim, atau mengganti topik setiap kali momen menagih tiba. Bagi mereka, menjaga hubungan terasa jauh lebih berharga daripada nominal yang dipinjam. Memahami rangkaian ciri orang yang sungkan menagih utang menurut psikologi ini membantu Anda mengenali pola tersebut, baik pada diri sendiri maupun orang di sekitar.
Alasan Psikologis di Balik Rasa Sungkan Menagih Utang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3168004/original/014660700_1593662633-pretty-women-talking-while-studying_23-2147774778.jpg)
Kenapa sebagian orang begitu sulit menagih, sementara yang lain bisa santai saja? Jawabannya ada pada cara kerja emosi dan pengalaman masa lalu. Menghindari konflik umumnya berpusat pada rasa takut kehilangan koneksi, sedangkan people-pleasing berpusat pada rasa takut kehilangan persetujuan atau kasih sayang. Faktor tipe kepribadian turut berperan; individu yang sangat sensitif dan peka terhadap orang lain lebih rentan mengalah.
Merujuk penjelasan psikoterapis Cleveland Clinic, Natacha Duke, ada respons yang disebut fawn, yakni kecenderungan menenangkan atau menyenangkan pihak yang terasa mengancam sebagai cara sistem saraf melindungi diri, di samping respons melawan, lari, dan diam. Dalam konteks utang, respons inilah yang mendorong seseorang buru-buru berkata "tidak apa-apa" padahal hatinya keberatan.
Akar lainnya bisa berasal dari pola asuh. Anak yang tumbuh dengan pesan bahwa meminta itu merepotkan cenderung membawa rasa sungkan tersebut hingga dewasa. Padahal, setiap orang punya karakter yang berbeda, dan dalam hubungan yang sehat, kejujuran soal uang justru memperkuat kepercayaan.
Advertisement
Dampak Sikap Sungkan Menagih Utang bagi Diri Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3168000/original/056847400_1593662631-beautiful-businesswomen-career-caucasian-601170.jpg)
Menahan diri terus-menerus bukan tanpa konsekuensi. Penelitian tentang people-pleasing menunjukkan bahwa kebiasaan mengalah demi menjaga kedamaian dapat memicu kelelahan emosional, rasa dongkol yang dipendam, kecemasan, sampai tergerusnya rasa percaya diri.
Ironisnya, memendam soal utang justru bisa meracuni hubungan yang ingin Anda jaga. Mengacu pada riset psikolog Emily Impett dari University of Toronto yang mengikuti lebih dari 7.000 pasangan selama 13 tahun, mereka yang gemar menghitung skor dalam hubungan mengalami penurunan kepuasan, sementara yang memberi tanpa terus membukukan justru lebih puas dan stabil. Diam sambil diam-diam mencatat kekesalan sama saja dengan menyimpan bom waktu bagi hubungan itu sendiri.
Dari sisi keuangan, uang yang tak kunjung kembali bisa mengganggu arus kas dan menjauhkan Anda dari kondisi bebas utang. Apa yang tampak sebagai kebaikan kecil bisa menumpuk menjadi beban yang nyata jika terus dibiarkan.
Cara Mengatasi Rasa Sungkan Saat Menagih Utang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3168002/original/001614700_1593662633-pexels-photo-4065133.jpeg)
- Kabar baiknya, rasa sungkan ini bisa dilatih dan dikelola. Langkah pertama memahami hal ini adalah menyadari bahwa menagih bukanlah perbuatan buruk, Anda hanya meminta kembali apa yang memang hak Anda.
- Kedua, ubah pola pikir dari "aku merepotkan dia" menjadi "aku membantunya menyelesaikan kewajiban".
- Ketiga, bangun sikap asertif, yakni menyampaikan kebutuhan dengan tegas namun tetap sopan, tanpa perlu agresif.
- Selanjutnya, tetapkan ekspektasi sejak awal. Sebelum meminjamkan, sepakati nominal dan tanggal pengembalian agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari. Ketika menagih, gunakan kalimat yang spesifik dan lembut, misalnya menyebut jumlah serta tenggat yang jelas, bukan sekadar sindiran. Cara ini sejalan dengan prinsip cara menagih utang yang menekankan tutur kata santun dan niat baik.
Tips singkat, manfaatkan pengingat tertulis seperti pesan singkat agar Anda tidak perlu menagih berulang secara langsung; bila perlu, siapkan beberapa kata-kata untuk menagih yang halus namun jelas. Menagih hutang secara sopan lewat pesan juga mengurangi kecanggungan tatap muka. Semua ini akan lebih mudah ketika Anda memupuk rasa percaya diri, karena keberanian menagih pada dasarnya adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.
Advertisement
Menagih Utang dengan Sehat Tanpa Merusak Hubungan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261754/original/087741000_1750686285-young-lesbian-lgbtq-women-couple-using-mobile-phone-home.jpg)
Menagih dan menjaga hubungan sebenarnya bisa berjalan beriringan. Menghindari pembicaraan soal utang memang terasa aman, tetapi diam justru sering memperdalam jarak dan menumpuk kekesalan di kedua belah pihak.
Kuncinya, pilih waktu dan cara yang tepat. Anda tetap bisa menagih utang ke saudara atau teman dengan nada hangat, misalnya di sela obrolan santai, tanpa menuduh atau mempermalukan. Banyak panduan menekankan bahwa menagih tanpa merusak hubungan baik sangat mungkin dilakukan asalkan komunikasinya jujur, jelas, dan penuh empati.
Pada akhirnya, mengenali ciri orang yang sungkan menagih utang menurut psikologi bukan untuk menghakimi, melainkan untuk membangun keseimbangan antara kebaikan hati dan penghormatan pada hak sendiri. Ketika Anda berani bersikap adil terhadap diri sendiri, hubungan yang Anda jaga justru berdiri di atas pijakan yang lebih kokoh.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang yang Sungkan Menagih Utang Menurut Psikologi
1. Mengapa seseorang merasa sungkan menagih utang?
Karena takut dianggap tidak enakan, terlalu menuntut, atau merusak hubungan dengan orang yang berutang.
2. Apakah orang yang sulit menagih utang biasanya terlalu memikirkan perasaan orang lain?
Sering kali iya. Mereka cenderung memiliki empati tinggi dan khawatir membuat orang lain merasa tidak nyaman.
3. Apa ciri orang yang sungkan menagih utang?
Mereka sering menunda menagih, mencari alasan untuk memaklumi, dan merasa tidak enak saat harus mengingatkan.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5272924/original/067898900_1751604930-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__20_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562930/original/087212000_1776842538-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-22T142049.188.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4403399/original/021681200_1682044577-cek_fakta_mesin_cuci.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354245/original/038987000_1790044500-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-22T093245.164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356319/original/034162400_1790159445-01M36SJGRT7SJ83VN23D87X85V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362681/original/040019400_1790827840-01M3S02WRSC5D92Q0WGZV0PAR3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369935/original/003112900_1791540970-12a26282-235b-4a28-a071-bfb9300237a3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370055/original/098443100_1791547367-985c9c47-22b7-474c-bfc0-b0a2f8cc1456.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369473/original/069744900_1791524730-ec81b70f-129f-4474-a803-baa1310e53bf.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358154/original/057945500_1790324457-01M3B1KGCG3NPQM60EEGS9YK3D.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358150/original/095561300_1790324453-01M3B1NWY2QPE43KX1MA1811AT.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4678238/original/063161000_1701955080-Ilustrasi_main_HP__tebak-tebakan_lucu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3352862/original/090002800_1611030657-beautiful-woman-with-shopping-list-buying-food-supermarket_342744-1125.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368709/original/082124600_1791445461-pexels-silverkblack-36697345.jpg)